Arsip Kategori: Electricity

Pesawat Solar Impulse Akan Keliling Dunia Tanpa Memakai Bahan Bakar

Pesawat bertenaga surya buatan Swiss dengan nama Solar Impulse, yang terbesar di antara jenisnya di dunia, akan terbang perdana melintasi benua pada Mei atau Juni. Demikian pernyataan perusahaan itu pada Selasa.

Pesawat yang dipiloti bersama oleh Bertrand Piccard dan Andre Borschberg itu akan berupaya terbang perdana sejauh lebih dari 2.500 kilometer dengan lepas landas di Payerne, Swiss barat, kemudian menyeberangi Pyrenees dan Laut Tengah tanpa menggunakan bahan bakar setetes pun hingga akhirnya mendarat di Maroko, Afrika. Tanggal pasti penerbangan tersebut akan diputuskan sesuai dengan keadaan cuaca.

Bertrand Piccard dan Andre Borschberg akan bergantian menerbangkan pesawat dalam perjalanannya selama 48 jam, dengan jadwal pemberhentian pertengahan di dekat Madrid, Spanyol, untuk mengganti pilot.

Penerbangan dengan waktu lama itu akan menjadi gladi resik bagi penerbangan keliling dunia 2014 dan akan memberikan tim sejumlah pengalaman dalam bekerja sama dengan sejumlah bandara internasional, menyatukan purwarupa hingga menjadi bentuk kendaraan udara yang sewajarnya dan mengelola logistik perawatan, kata Borschberg yang juga menjabat Wakil Pendiri dan Direktur Utama Solar Impulse.

Solar Impulse, pesawat pertama yang bisa terbang siang dan malam tanpa bahan bakar minyak atau mengeluarkan gas buang, memiliki rentang sayap selebar 63,4 meter, selebar Airbus A340, dan memiliki bobot hanya 1.600 kilogram.

Pesawat tersebut memiliki 12 ribu sel surya yang dipasang di kedua sayap sehingga dapat memberikan tenaga gerak bagi keempat mesin listriknya.

Pesawat tersebut melakukan terbang perdana internasional dari Swiss menuju Brussels pada 13 Mei 2011 dan menandai penerbangan internasional keduanya ke Paris pada Juni 2011.

Pemanas Air Berbahan Gas Lebih Sering Bermasalah Daripada Pemanas Air Tenaga Listrik dan Surya Yang Sering Dipakai Di Hotel Bintang 5

Desainer kondang Ade Chandra Kierana alias Adesagi Kierana ditemukan tewas bersama temannya, Randy Yana di kamar mandi sebuah rumah jalan Cimandiri 28 A Bandung, Ahad 1 Januari 2012 lalu. Hasil otopsi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, penyebab kematian Adesagi dan Randy diduga akibat keracunan gas karbon monoksida yang berasal dari pemanas air.(baca:Adesagi dan Randi Diduga Tewas Keracunan)

Pemanas air berbahan bakar gas memang banyak dipakai warga kebanyakan. Pemakaian pemanas ini memang menjadi pilihan karena paling tidak, punya dua keuntungan. Selain harganya lebih murah, air panasnya juga cepat jadi.

Namun ternyata, jenis mesin itu paling sering bermasalah, hingga mengundang maut. Menurut teknisi pemasang dan perbaikan alat mesin pemanas air di Bandung, Dadan Darmawan, 28 tahun, seringkali kasus yang ditanganinya karena masalah mesin berbahan gas.

Sedangkan untuk perbaikan pemanas air listrik atau solar (tenaga matahari), ia mengaku sangat jarang menerima panggilan. “Kalau di Bandung kebanyakan memakai gas,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, 3 Januari 2012.

Pemakai mesin pemanas air berbahan gas umumnya kalangan rumah tangga. Adapun mesin pemanas di hotel dan villa, kata dia, memakai tenaga listrik “Pakai pemanas gas, mandi jadi nggak nunggu air panas,” kata teknisi berpengalaman 7 tahun itu. Jika memakai tenaga listrik, ujar dia, perlu waktu hingga setengah jam untuk memanaskan air di penampung berukuran 20 liter, atau 1-2 jam untuk 100-200 liter air.

Masalah mesin pemakai gas elpiji yang kerap diperbaiki, mulai dari kerusakan regulator gas, saluran air tersumbat tumpukan kotoran, juga tekanan air yang kurang sehingga mesin tak bisa bekerja. Jika dipaksakan mesin terus dinyalakan, kata Dadan, bisa berbahaya karena gas terus keluar. ”Kalau dinyalakan dengan pemantik api, bisa timbul ledakan di ruangan tertutup, sama saja seperti kompor gas,” katanya.

Penempatan mesin pemanas berbahan gas di dalam ruang kamar mandi yang tertutup rapat, ujar pakar kimia anorganik dan fisik dari ITB Ismunandar, bisa mengakibatkan kematian.

Tanpa ventilasi yang cukup untuk akses gas oksigen, pembakaran mesin pemanas bakal tak sempurna. Akibatnya menghasilkan gas beracun karbon monoksida.baca: Korban Adesagi, Waspada Racun Karbon Monoksida). “Oksigen di ruangan tertutup kan terbatas, dan makin lama makin habis dihirup orang di kamar mandi,” katanya.

Selain berada di bagian atas, ventilasi di kamar mandi pemakai mesin pemanas berbahan gas juga disarankan ada di bawah. Gunanya agar gas karbon monoksida atau karbon dioksida yang berat dan mengalir turun bisa langsung keluar ruangan.

Atau bisa juga, kata Dadan, dipasang blower. Fungsi lainnya untuk mengeluarkan asap dari pembakaran mesin yang apinya berwarna merah karena selang gas kotor. Kondisi aman jika mesin pemanas ditempatkan di luar kamar mandi yang tertutup rapat.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bangun 102 Rumah Dengan Tenaga Surya

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat ini tengah meyiapkan tak kurang 102 kavling tanah unyuk membangun sebuah perumahan berkonsep hemat energi bagi para pegawainya, baik dosen maupun karyawan.

Perumahan seluas 100 ribu meter persegi yang terletak di Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul Yogyakarta itu dibangun dengan menerapkan penerangan sistem `solar cell` yang merupakan hasil penelitian mahasiswa.

“Sistem solar cell ini untuk memanfaatan sinar matahari dengan menggunakan panel surya, yakni panel yang dapat menyerap tenaga matahari untuk disimpan ke dalam baterai dan menjadi energi penerangan, baik perumahan maupun jalan sekitarnya,” kata Wakil Rektor II UMY Suryo Pratolo saat melakukan peletakan batu pertama perumahan itu, Selasa 20 Desember.

Sebanyak 25 unit rumah bertipe 36 dengan luas tanah masing-masing 80 meter persegi mulai dibangun untuk ditawarkan pada pemesan pertama. Rumah itu dirancang sehingga bisa hemat energi. Rumah tersebut dirancang tidak menggunkan Air Conditioner (AC), menghindari cahaya lampu yang berlebih, dan mempunyai sumber energi yang mandiri. “Hal ini juga sebagai upaya memberikan pembelajaran pada masyarakat tentang rumah yang mengkonservasi energi,” kata dia.

Sebagai pengganti efek sejuk, rumah tersebut dibangun menghadap utara atau selatan untuk memanfaatkan hembus angin yang lebih maksimal di wilayah itu. Bagian jendela rumah pun dirancang lebih fleksible sehingga bisa diatur cara pembukaannya dan ventilasi bisa dimaksimalkan. Pengaturan ini juga diterapkan untuk mengatur ketinggian atap atau `ceiling`, `ventilation shaft` untuk mengalirkan udara, plantation, penggunaan lampu LED hemat energi, serta penggunaan `solar water heater`.

Solar Water Heater merupakan alat konversi energi untuk memanaskan air yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi dengan menggunakan sistem thermosiphon.

Perumahan ini, lanjut Suryo, disediakan untuk seluruh pegawai UMY meliputi karyawan dan dosen. “Rumah ini diberikan dengan pinjaman lunak dan diangsur sampai 15 tahun,” kata dia.

Sementara Rektor UMY Dasron Hamid mengatakan program perumahan pegawai menjadi satu bentuk kepedulian UMY kepada para pegawai.
“Harapannya dengan kemudahan ini, pegawai akan lebih fokus dalam meningkatkan kinerja,” kata dia.

Tesla Luncurkan Roadster Mobil Sport Kecepatan Tinggi Hingga 392 mph Bertenaga Listrik Murni

Produsen mobil listrik asal Palo Alto, California, Amerika Serikat, Tesla Motors, menjual 150 ribu unit Roadster bertenaga setrum besutannya di 30 negara lebih. Menurut pabrikan itu, Tesla menyumbang penghematan bahan bakar hingga 500 ribu galon atau sekitar 1,9 juta liter.

artinya keberadaan mobil tersebut telah menyumbang mengurangi emisi CO2 setara 5,3 juta kilogram. “Kami telah berhutang kepada pengendara Roadster di seluruh dunia karena menjadi pionir pengguna kendaraan listrik,” kata Elon Musk, pendiri sekaligus Kepala Eksekutif Tesla Motors dalam autoevolution.com, Selasa 29 Maret.

Tesla pertama kali meluncurkan Roadster pada 2008. Mobil sport merupakan mobil bertenaga setrum murn. Jika terisi baterai penuh, Roadster mampu melesat hingga 392 kilometer per jam (kpj). Adapun sprint atau kecepatan gerak dari 0 – 100 kpj dicapai hanya dalam tempo 3,7 detik.

Musk menambahkan produknya terbukti sebagai kendaraan kelas dunia. “praktis dan menyenangkan,”katanya.

Oktober 2010, saham Tesla dibeli Toyota senilai US$ 50 juta atau sekitar Rp 445,2 miliar. Toyota juga berinvestasi US$ 60 juta atau sekitar Rp 534,24 miliar untuk pengembangan Crossover Toyota RAV4 dengan teknologi listrik milik Tesla.

Energi Hijau Lebih Berpeluang Di Indonesia Daripada Energi Nuklir

Pengembangan energi terbarukan saat ini lebih berpeluang dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir. Saat berkunjung ke Jepang pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, Indonesia tidak akan membangun PLTN selama masih ada sumber energi lain.

”Presiden Yudhoyono berada di jalur yang tepat untuk memilih sumber listrik selain PLTN,” kata juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Fiyanto, Kamis (23/6), di Jakarta.

Arif mengatakan, ancaman bahaya PLTN lebih besar dibandingkan dengan keuntungannya. Sebaliknya, sumber energi terbarukan tak ada ancaman. ”Ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk mencoret rencana pembangunan PLTN dan segera beralih pada pembangunan sumber energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin,” katanya.

Pakar teknologi nuklir yang pernah bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Iwan Kurniawan, mengatakan, tidak dibangunnya PLTN bukan berarti ahli-ahli nuklir di Batan akan menjadi pengangguran. Teknologi nuklir masih perlu mendapat perhatian serius untuk meningkatkan perekonomian di bidang pertanian dan kesehatan.

”Persoalannya mungkin pada anggaran yang telanjur dialokasikan sebesar Rp 450 miliar untuk periode 2011-2013 untuk studi lokasi di Bangka Belitung dan sosialisasi PLTN,” kata Iwan. Dana sebesar itu termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.

”Dana itu akan lebih bermanfaat untuk pengembangan riset teknologi nuklir lain, termasuk kemungkinan untuk mengembangkan kemampuan memproduksi komponen PLTN seperti selongsong bahan bakar nuklir,” kata Iwan

Pembangkit Listrik Tenaga Mikroba Ditemukan Oleh Tim Dari University of East Anglia di Inggris

Mikroba ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik alami. Menurut para ilmuwan, organisme mikroskopik yang sebagian besar berupa satu sel ini mampu melepaskan muatan listrik kecil.

Salah satu mikroba bermuatan listrik yang telah ditemukan memiliki “kabel” super kecil yang ‘keluar’ dari dinding sel mereka. Menurut laporan Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat, dari ‘tentakel’ kecil itu, bakteri tersebut membersihkan diri dari minyak atau polusi uranium.

“Temuan ini dapat digunakan sebagai alternatif sumber listrik,” kata penulis utama Tom Clarke dari University of East Anglia di Inggris.

Dengan ditemukannya struktur mikroba tersebut, maka peneliti dapat membuat desain elektroda khusus supaya bakteri tadi dapat melepaskan energi listriknya dan bisa digunakan manusia.

Saat ini, para peneliti itu sedang membuat sebuah perangkat menyerupai baterai yang diisi dengan mikroba berlistrik. Baterai tersebut rencananya dapat digunakan sebagai tenaga lampu atau telepon selular.

SMPN 161 Jakarta Telah Manfaatkan Tenaga Surya Untuk Penerangan Sekolah

Di ERA milenium ini, pendidikan tak hanya menekankan prestasi akademis maupun non-akademis semata. Lebih dari itu menuntut setiap anak didik untuk menggali kreasi, inovasi sehingga menjadi inspirasi bagi yang lain. Jika tidak, potensi dan kemampuan yang merupakan modal utama setiap orang tentulah bakal tumpul dan terbuang sia-sia.
Penggalian kreasi dan inovasi siswa ini menjadi program khusus yang diterapkan di SMPN 161 berlokasi di Jalan Delman Utama I Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Drs H. Samlawi, MM, Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 161 didampingi Wakilnya, Listiya Susilawati,SPd,MPd menjelaskan, salah satu terobosan demi mendorong siswanya memiliki kreatifitas diantaranya dengan memanfaatkan teknologi tenaga surya sebagai alat penerang di sekolah.

“Kami berusaha menghemat pemakaian energi listrik sebagai bagian dari upaya penyelamatan bumi dari dampak pemanasan global,” kata Samlawi didampingi Kabag TU Suhardi, kemarin.

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Ekstrakurikuler yang digawangi FX Suwartanto,SPd. Secara umum pemanfaatan sinar matahari tersebut menggunakan aki dibantu server dan serangkaian peralatan lainnya, sehingga bisa digunakan sebagai sumber cahaya menggantikan energi listrik.

Untuk sementara ini, penghematan energi tersebut baru terbatas digunakan di 3 kelas ruang aula dan sempat dikunjungi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.

Hanya saja diakui Samlawi, pemanfaatan teknologi ini ternyata membutuhkan biaya yang tak sedikit, sehingga pihaknya cukup kesulitan untuk bisa mengembangkannya di sejumlah ruang kelas yang seluruhnya memiliki 25 rombongan belajar dengan kekuatan 950 siswa dan 49 guru.

“Selain terkendala biaya, program pemanfaatan tenaga surya ini terus diuji coba dengan berbagai metode agar hasilnya dapat lebih maksimal,”katanya.

Cara Memanen Listrik Dari Arus Laut Di Selat

Selat menyimpan arus laut yang relatif tak pernah berhenti. Dengan mengandalkan dinamika pasang surut saja, tim peneliti berhasil memanen arus listrik dari arus laut yang mengalir di Selat Flores, di dekat Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

Arus yang keluar menuju Samudra Hindia biasanya jauh lebih kencang,” kata Erwandi, ketua tim perekayasa pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL), Senin (25/4), dalam diskusi yang diselenggarakan PT PLN (Persero) di Jakarta.

Dari hasil pemantauan, sepanjang tahun di Selat Flores bisa didapat kecepatan arus laut minimum 0,6 meter per detik dan maksimum 4,3 meter per detik atau rata-rata 1,8-2 meter per detik.

Tim Erwandi dibentuk tahun 2008 di Surabaya di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Uji coba pertama kali dilangsungkan pada akhir Maret 2010, dilanjutkan bulan Juni 2010. Uji coba tahap pertama menggunakan ukuran bilah turbin dua meter dengan diameter putaran turbin juga dua meter.

”Ada tiga bilah turbin yang dipasang dengan material bahan dari aluminium,” kata Erwandi.

Erwandi menggunakan turbin Darrieus tipe H, yaitu tipe vertikal yang menggunakan tiga bilah turbin. Uji coba pertama untuk menghasilkan listrik dengan daya 2.000 watt. Hasil evaluasi menunjukkan, bilah berbahan aluminium kurang efektif.

”Bilah aluminium menjadi bengkok-bengkok sehingga perlu diganti dengan material yang lebih kuat,” kata Erwandi.

Kekuatan turbin

Uji coba tahap kedua dilaksanakan pada 26 Maret 2011. Erwandi mengubah target perolehan listrik menjadi 10.000 watt dan meningkatkan kekuatan turbin. ”Poros dan bilah turbinnya diganti dengan logam baja antikarat (stainless steel),” kata Erwandi.

Ukuran diameter putar turbin dan panjang bilah turbin juga ditingkatkan. Diameternya diubah dari dua meter menjadi 3,6 meter, sedangkan panjang bilah turbin menjadi 2,5 meter.

Lokasi uji coba sama, sekitar 100 meter dari dermaga penyeberangan Dusun Tanah Merah, Desa Wureh, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, NTT.

”Lokasi itu cukup fenomenal karena arus lautnya lebih kencang dibandingkan lokasi di sekitarnya,” kata Erwandi.

Penambahan panjang bilah dan diameter putar turbin pada uji coba tahap kedua membawa konsekuensi tersendiri. Beberapa saat setelah instalasi PLTAL diceburkan, meski baru setengah, sudah berputar sangat kencang. ”Kecepatan arus laut waktu itu 3,8 meter per detik,” kata Erwandi.

Hanya sesaat instalasi PLTAL diceburkan, telah terseret arus sepanjang 50 meter. Padahal, bobot instalasi mencapai 8.000 kilogram ditambah 8.000 kilogram beban pemberat yang ditenggelamkan dengan empat jangkar.

”Uji coba untuk kapasitas listrik 10.000 watt itu dihentikan untuk sementara sampai selesai dievaluasi untuk perbaikannya,” kata Erwandi.

Salah satu solusi untuk uji coba berikutnya adalah menambah beban pemberat.

Dasar laut

Erwandi mengatakan, salah satu faktor penyebab hanyutnya instalasi PLTAL yang akan dievaluasi adalah kondisi dasar laut. Struktur dasar laut di Adonara saat ini tengah diselidiki dengan pengambilan gambar di dalam air.

”Dasar laut pada posisi yang makin sempit dan makin dangkal menyebabkan arus laut makin kencang, tetapi ini perlu dipastikan dengan cara mengambil gambar dasar laut,” kata Erwandi.

Teknologi pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan arus laut ini sudah diaudit oleh Pusat Audit Teknologi BPPT. Menurut Erwandi, teknologi itu menempati level 7 menuju level 8. Jika menempati posisi puncak pada level 9, diartikan sudah siap dikomersialkan.

”Efisiensi putaran turbin sudah cukup tinggi, mencapai 42 persen tanpa generator, dan 32 persen sampai 35 persen setelah dipasang generator,” kata Erwandi.

Efisiensi putaran turbin maksimal diperhitungkan mencapai 59 persen. Kecepatan arus laut melambat saat pergantian arah arus laut pasang dan surut mencapai setengah sampai satu jam.

Erwandi memperkirakan, listrik dari pembangkit listrik tenaga arus laut di perairan selat akan sangat melimpah. Di Selat Flores saja mampu membangkitkan listrik 300 megawatt, padahal selat di Indonesia jumlahnya mencapai ribuan.

Universitas Gajah Mada UGM Temukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dengan Generator Low RPM

Daerah pesisir dan daerah terpencil lainnya hingga saat ini masih banyak yang belum mendapat aliran listrik dari PLN. Untuk itu, UGM menciptakan generator yang cocok untuk daerah-daerah seperti itu.

Generator ini cocok karena jika penyediaan listrik dengan menggunakan tenaga surya, selain harganya mahal, suplainya pun relatif rendah, kurang dari 200 watt.

Adalah peneliti pada Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Sudiarto MS, yang berhasil menciptakan generator low RPM yang mampu menghasilkan listrik 200 watt hingga 500 watt.

Kepada wartawan, di Yogyakarta, Jumat (15/4), Sudiarto mengatakan, generator ciptaannya itu relatif mudah perawatan dan pembuatannya.

“Hampir kesemuanya menggunakan komponen lokal,” katanya.

Karena itu, tidak perlu dikhawatirkan soal penggantian suku cadang jika dalam masa penggunaannya mengalami kerusakan.

Generator yang kini masih dalam bentuk prototipe itu digerakkan dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan berupa angin dan surya. Generator ini diharapkan bisa menghasilkan energi lisrik berdaya 200 watt hingga 500 watt.

Untuk membuat generator low RPM itu, Sudiarto mengaku telah memberikan pelatihan kepada sejumlah warga di Bantul dan Gunungkidul yang selama ini bekerja sebagai bengkel, terutama bengkel dinamo.

Ia mengungkapkan prototipe generator PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) ini bisa menghasilkan listrik berkekuatan 200 watt meski dengan putaran yang rendah.

“Dengan adanya ketersediaan listrik dalam kapasitas yang memadai untuk rumah tangga di pedesaan, diharapkan juga akan membangkitkan perekonomian, tidak hanya untuk penerangan,” katanya.

Dengan daya yang lebih besar, katanya, tentu tidak hanya penerangan lampu, tapi bisa dimanfaatkan pula untuk seterika dan televisi.

Energi listrik dari produk generator ini pun nantinya bisa dimanfaatkan untuk menghidupkan mesin jahit. “Jadi tidak hanya lampu penerangan, alat elektronik televisi dan radio. Tentu saja hal ini akan menggerakkan industri kecil dan menengah di kawasan pesisir, pinggir sungai dan daerah-daerah terpencil,” harapnya

Ditemukan Cara Membuat Bahan Bakar Minyak Nabati Dari Minyak Genset dari Biji Bintaro

Pohon bintaro (Cerbera manghas) kerap hanya dijadikan sekadar tanaman perindang jalan. Ternyata tanaman ini baik juga difungsikan sebagai penahan abrasi laut karena tahan terhadap salinitas tinggi. Selain itu, bijinya dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati, misalnya untuk bahan bakar genset.

Teknologi ini khusus untuk remote area (daerah-daerah terpencil),” kata Dr Ir Desrial MEng, Ketua Departemen Teknik Mesin dan Biosistem pada Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (24/2) di Bogor, Jawa Barat.

Daerah terpencil secara spesifik lagi, menurut Desrial, daerah pantai yang rentan terkena abrasi. Daerah itu bisa berupa pantai pulau-pulau kecil dan juga pantai pulau besar.

Kerusakan ekosistem pantai banyak penyebabnya. Kebijakan alih fungsi hutan dataran rendah untuk konsesi perkebunan sawit bisa jadi penyebabnya.

Di hutan dataran rendah sebagian besar juga terdapat lahan gambut. Menurut Desrial, pohon bintaro dapat tumbuh pula dengan baik di lahan gambut.

Seperti di wilayah Jambi dan Riau sekarang, lahan gambut di pinggir pantai banyak yang ikut dialihfungsikan untuk ditanami sawit. Sebagian lahan itu pula sudah hilang tergerus abrasi.

”Pohon bintaro untuk konservasi pantai sekaligus bijinya mengandung minyak yang bisa digunakan untuk substitusi solar,” ujar Desrial.

Sianida

Buah bintaro mentah berwarna hijau cerah. Menurut Desrial, di dalam buah bintaro mentah ada kandungan racun sianida, tetapi mudah sirna jika terpapar sinar matahari.

”Gunakan buah bintaro yang sudah tua berwarna kecoklat- coklatan untuk diambil minyak dari bijinya,” kata Desrial.

Pemanfaatan buah bintaro tua selain dapat menghindari keracunan sianida saat mengupas sekaligus untuk mendapatkan kandungan minyak nabati optimum. Proses pembuatan minyak bintaro itu meliputi pengupasan, pengambilan biji, pengeringan biji, kemudian biji diekstraksi.

”Ekstrasinya dengan proses pengempaan, yaitu diberi tekanan dan suhu tertentu sehingga cairan minyak keluar dari bijinya,” kata Desrial.

Cairan itu sebagai minyak kasar bintaro. Kandungan getahnya masih tinggi.

Untuk menghilangkan getah di dalam minyak, ditempuh proses degumming (penghilangan gum/getah) sederhana. Biasanya digunakan penambahan fosfat untuk mengikat dan mengendapkan getah sehingga diperoleh minyak bintaro murni.

Untuk mendapatkan 1 kilogram minyak bintaro murni dibutuhkan 2,9 kilogram biji bintaro. Biji bintaro sebanyak itu bisa diperoleh dari 36,4 kilogram buah bintaro tua.

”Satu pohon bintaro secara optimal bisa menghasilkan 300 kilogram buah bintaro setiap tahunnya,” kata Desrial.

Konverter khusus

Penelitian buah bintaro untuk menghasilkan minyak substitusi solar ini dimulai tahun 2010. Riset ditujukan untuk masyarakat di kawasan Teluk Meranti, Riau, yang memiliki sumber bahan baku bintaro cukup melimpah.

Menurut Desrial, semula riset ditujukan untuk mencari pengganti minyak tanah, tetapi kualitas minyak bintaro murni ternyata hampir setara solar.

”Minyak bintaro akhirnya ditujukan untuk minyak genset, mesin penghasil listrik,” kata Desrial.

Desrial pun merancang genset dengan bahan bakar minyak murni bintaro. Ia menambahkan, konverter khusus yang berisi elemen pemanas bisa dikontrol dengan sumber energi berupa aki 12 volt.

”Konverter khusus untuk meningkatkan suhu minyak bintaro sampai 70 derajat celsius sehingga memudahkan pembakaran di dalam genset,” kata Desrial.

Untuk pemantik awal genset memang masih digunakan solar. Penggunaan solar juga pada tahap akhir untuk menghindari pengentalan minyak bintaro di dalam saluran sistem genset sewaktu ingin dimatikan.

Penggunaan minyak bintaro akan membantu wilayah-wilayah yang sulit terjangkau distribusi solar. Setidaknya, penanaman bintaro di pantai juga bisa menyelamatkan lingkungan supaya terhindar dari abrasi.