Arsip Kategori: Dunia Binatang

Akhirnya Ilmuwan Taiwan Berhasil Menjawab Teka Teki Ikan Hiu Yang Memancarkan Cahaya

Penangkapan hiu dogfish (Squalus acanthias) di lepas pantai Taiwan menuntun kepada temuan baru. Hiu pigmi seukuran telapak tangan manusia ini telah membantu para ilmuwan memahami asal-usul spesies hiu berpendar.

Sejumlah spesies hiu yang tinggal di laut dalam diketahui bisa memancarkan cahaya (bioluminescence). Mereka memiliki organ khusus di samping-bawah tubuhnya yang bisa berpendar.

Sebuah penelitian terbaru tentang hiu pigmi menunjukkan kemampuan hiu laut dalam mengendalikan pendaran cahaya berawal dari evolusi nenek moyang hiu laut dangkal. Hiu pigmi adalah jenis hiu yang hidup di habitat laut dangkal.

“Bioluminescence tetap menjadi hal paling misterius dalam biologi ikan hiu,” kata Julien Claes dari Catholic University of Louvain di Belgia, yang memimpin penelitian. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Experimental Biology.

Menurut Claes, saat ini ada lebih dari 10 persen spesies hiu yang mampu memancarkan cahaya. Para ilmuwan menyebut cahaya ini sebagai “kontra-pencahayaan” dalam misi kamuflase. Sebab, tanpa cahaya itu, mangsa yang berada di bawah justru dengan mudah melihat tubuh hiu yang tampak seperti siluet karena terpaan cahaya matahari dari langit.

Penelitian sebelumnya menunjukkan hiu lentera menggunakan kemampuannya berpendar untuk berkomunikasi. Dinamakan hiu lentera karena pendaran cahaya pada hiu ini mirip pada lampu tradisional masyarakat Cina.

Dengan memproduksi hormon prolaktin, hiu dapat menunjukkan semburan cahaya biru. Cahaya itu mereka gunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dalam air gelap yang minim petunjuk visual.

Harimau Tasmania Kini Punah Sudah Menyusul Sepupunya Tasmanian Devil

arimau Tasmania dinyatakan punah mendahului sepupunya, iblis Tasmania (Tasmanian devil). Para ilmuwan menyebut punahnya hewan berkantong asli Pulau Tasmania dan Australia itu bukan akibat aktivitas perburuan oleh manusia.

“Kami menemukan keragaman genetik thylacine jauh lebih rendah dibanding iblis Tasmania,” kata peneliti Andrew Pask dari University of Connecticut, Amerika Serikat.

Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus), atau thylacine, diburu sampai nyaris punah pada awal 1900-an. Individu terakhir mati di kebun binatang Tasmania pada 1936. Selama ini perburuan oleh manusia dituding sebagai penyebab utama kepunahan harimau Tasmania.

Bertubuh garis-garis seperti harimau, hewan ini memiliki tubuh seperti anjing berukuran sedang serta berkeliaran di daratan Australia dan pulau kecil di sebelah selatannya, Tasmania.

Penelitian terbaru merekam beberapa fragmen genetik harimau Tasmania dari 14 sampel, termasuk bulu, tulang, dan spesimen, yang diawetkan selama lebih dari 100 tahun. Para ilmuwan menemukan individu-individu harimau Tasmania memiliki materi genetik sangat mirip, yang mencapai angka 99,5 persen. Padahal dulunya materi genetik ini sangat beragam.

“Jika kita membandingkan bagian yang sama dari DNA, harimau Tasmania rata-rata hanya memiliki satu DNA berbeda antar-individu. Adapun anjing, misalnya, memiliki 5-6 perbedaan antar-individu,” kata Brandon Menzies, rekan peneliti Pask dari University of Connecticut.

Menzies mengatakan variabilitas genetik pada dasarnya adalah perbedaan urutan gen di antara dua individu dalam satu spesies. Analisis genom menunjukkan harimau Tasmania memiliki variabilitas genetik terlalu sedikit untuk bertahan hidup.

Angka keragaman genetik yang makin kecil menjadi semacam mantra kepunahan bagi suatu spesies. Jika tidak memiliki kolam genetik yang lebih besar, spesies tersebut terancam tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Rendahnya keragaman genetik suatu spesies dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya, spesies tersebut terdiri atas banyak populasi berukuran kecil yang hidupnya saling terisolasi. Dampaknya, jumlah anggota populasi menurun tajam akibat banyak terjadi kawin silang antar-saudara (inbreeding).

“Dalam kasus iblis Tasmania dan harimau Tasmania, rendahnya keragaman genetik mungkin berasal dari kelompok-kelompok kecil populasi yang tetap terisolasi dari populasi di daratan utama Australia,” ujar Menzies.

Sepupu harimau Tasmania yang saat ini masih hidup, iblis Tasmania, juga nyaris punah karena kanker menular. Para ilmuwan mengatakan rendahnya keragaman genetik “si iblis” mempercepat penyebaran penyakit mematikan tersebut.

“Harimau Tasmania, kalaupun masih hidup sampai hari ini, juga akan sangat rentan terhadap penyakit,” kata para ilmuwan dalam jurnal PLoS ONE.

Pask menyatakan penelitian mendalam tentang harimau Tasmania dapat membantu para ilmuwan menyelamatkan iblis Tasmania yang masih tersisa. “Dari sudut pandang konservasi, kita perlu mengetahui hal-hal tentang genom hewan,” ujarnya. “Ada banyak hewan rapuh di Australia dan Tasmania.”

Kini Komunitas Pecinta Capung Indonesia telah Lahir

Tabita Makitan, 18 tahun, berendam di air Sungai Wendit, Pakis, Malang, yang sedalam pahanya, pagi itu. Cuacanya cukup dingin dan masih banyak embun menempel di dedaunan. Meski dingin, ia rela berbasah-basah demi mendokumentasikan metamorfosis nimfa menjadi capung muda.

Usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil mendapati nimfa merayap keluar dari air melalui ranting tanaman. Bergegas ia menjepret momen itu dengan kamera digital. “Saya mengamatinya dari jarak 2 meter,” kata Tabita, pekan lalu.

Nimfa adalah salah satu dari tiga tahap siklus hidup capung, yaitu sesudah menjadi telur dan sebelum menjadi capung dewasa. Sebagian besar siklus capung dalam bentuk nimfa. Menurut Tabita, nimfa itu wujudnya mirip jangkrik. Sifat dan bentuknya sama dengan capung dewasa, hanya hidupnya di air.

Aktivitas seperti yang dilakukan Tabita adalah salah satu kegiatan Departemen Penelitian dan Pengembangan Indonesia Dragonfly Society (IDS). Tabita adalah anggota organisasi pencinta capung yang berdiri pada September 2010 itu.

Awalnya, organisasi ini bernama Dempo Dragonfly Society (DDS). Diganti menjadi IDS setahun kemudian. Nama Dempo dipakai karena komunitas ini dirintis oleh Sekolah Menengah Atas Kejuruan (SMAK) Saint Albertus, Malang, yang dikenal dengan sebutan SMAK Dempo, sesuai dengan nama jalan di dekat sekolah tersebut.

Adalah Wahyu Sigit Rgd., Ketua IDS, yang memperkenalkan Tabita dengan capung. Guru sosiologi di SMAK Saint Albertus inilah yang merintis DDS. Wahyu mengajak klub fotografi sekolah memburu capung. Beberapa orang itu kemudian sepakat menjaga kelestarian pusaka alam melalui capung sebagai fokus kegiatannya.

Minimal satu minggu sekali IDS menyusuri Sungai Wendit. Selain memakai kamera foto untuk pengamatan, senjata lainnya adalah jaring serangga, pH meter, serta pengukur kelembapan udara. Observasi dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 12.00. “Jangkauan pengamatan sekitar seribu meter di sepanjang aliran sungai,” kata Wahyu, pekan lalu.

Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan IDS, Nur Christian, mencatat sampai kini terdapat 32 spesies capung (capung jarum dan capung besar) di Sungai Wendit dan sekitarnya. Tiga di antaranya belum diketahui jenisnya. Hasil observasi itu kemudian dilaporkan ke World Dragonflies Association (WDA) untuk identifikasi.

Tantangan lainnya adalah identifikasi. Pasalnya, belum ada buku referensi tentang capung Indonesia. Peneliti biasanya meminta bantuan entomolog dalam mengidentifikasinya. Atau mencari buku identifikasi ordo Odonata (segala jenis capung) yang iklimnya mirip dengan di Indonesia.

Selama IDS dibentuk, baru 20-an orang bergabung. Mereka tersebar di Malang dan Yogyakarta. Kantor IDS berada di Jalan Gresik Nomor 14, Malang, Jawa Timur. Sedangkan di Yogyakarta baru dirintis oleh Tabita, yang kuliah antropologi di Universitas Gadjah Mada. Artikel penelitian IDS bisa dilihat di www.indonesiadragonfly.wordpress.com atau di laman jejaring sosial Facebook (Odonata Nusantara) dan akun Twitter (@IDS_dragonfly).

Anggotanya mahasiswa, guru, dosen, serta kaum profesional. Ada juga budayawan, seperti Eka Budianta. Selain meneliti, mereka melakukan transformasi pengetahuan ke sekolah formal dan komunitas. Mereka juga mengeksplorasi persepsi dan kedekatan masyarakat terhadap capung, seperti cerita rakyat, mitos, dan legenda capung. Pada Juni 2012, IDS menggelar Festival Capung dengan tema “Saatnya Mencintai Capung di Negeri Sendiri”.

Pencinta capung terwadahi dengan adanya Kongres Capung Sedunia (International Congress of Odonatology), yang digelar oleh WDA setiap tahun. Tahun ini diadakan pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2012 di Odawara, Jepang. “Saya dan Nur mengikuti kongres tersebut pertama kalinya atas nama Indonesia Dragonfly Society, bukan atas nama pribadi,” kata Tabita.

Dalam kongres, ia dan Nur akan mempresentasikan hasil penelitian capung di Malang. Sebenarnya keinginan mengikuti kongres sudah ada sejak tahun lalu. Salah satu usaha IDS adalah mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ternyata surat itu direspons positif. Tabita berharap usahanya didukung pemerintah. “Jangan sampai capung di Indonesia punah,” ujarnya.

Ditemukan Fosil Mammoth Dengan Warna Rambut Pirang dan Merah

Ada yang unik dari penemuan terbaru fosil mammoth di Siberia. Selain tubuhnya yang masih terawetkan utuh, hewan purba yang hidup di zaman es tersebut memiliki rambut berwarna pirang agak merah muda (blonde stroberi).

Yuka, nama fosil mammoth remaja tersebut, ditemukan di sebuah tebing beku di Siberia, Menurut para ilmuwan, Yuka memberikan pemahaman penting tentang rahasia hewan raksasa berbentuk mirip gajah yang selama ini belum diketahui, seperti rambut dan warna matanya.

Para ilmuwan yang memeriksa tubuh Yuka menemukan banyak misteri. Tubuh fosil itu, misalnya, menunjukkan manusia purba diduga kuat mencuri sisa bangkai Yuka selepas mati dimangsa singa. Hal itu diketahui dari luka konsisten pada tubuh mammoth yang diduga kuat akibat serangan manusia dan singa.

Jika benar, temuan itu akan menjadi bukti pertama adanya interaksi antara mammoth dan manusia purba yang pernah ditemukan di daerah tersebut.

Yuka diperkirakan berusia tiga sampai empat tahun ketika mati dan masih memiliki bantalan kaki dan rambut yang tumbuh di sela-selanya. Para ilmuwan memperkirakan Yuka terkubur dalam es selama lebih dari 10 ribu tahun. Tubuh Yuka berikut cidera yang dialaminya terawetkan dengan baik di dalam es.

Kevin Campbell, profesor fisiologi lingkungan dan evolusi di University of Manitoba, Kanada, mengatakan satu hal paling mencolok tentang Yuka adalah warna pirang-stroberi rambutnya.

“Mammoth-mammoth sebelumnya memiliki rambut yang lebih gelap. Sempat ada kemungkinan rambut mammoth berwarna lebih terang saat para ilmuwan pada 2006 menganalisis gen dari tulangnya,” ujar Campbell.

Dia mengatakan, temuan fosil Yuka bakal membantu para ahli menentukan adanya variasi warna mata dan rambut di antara populasi mammoth. “Ini adalah temuan yang sangat langka dan memiliki makna besar,” kata dia.

Pakar lain menyoroti pentingnya cidera serius yang dialami Yuka. Cidera itu mengindikasikan manusia purba mungkin telah rebutan dengan predator lain untuk mencuri bangkai Yuka. Mereka menunjukkan Yuka muda memiliki kaki yang baru saja patah dengan luka serius, serta goresan luka yang lebih tua yang mungkin menunjukkan mammoth tersebut pernah selamat dari serangan predator sebelumnya.

Tubuh Yuka tidak hanya menunjukkan kerusakan konsisten akibat serangan singa, tapi juga memiliki tanda bekas potongan dan bukaan yang hanya mungkin dilakukan oleh makhluk yang lebih cerdas, dalam kasus ini adalah manusia purba.

Daniel Fisher, profesor ilmu bumi dan lingkungan di University of Michigan, Amerika Serikat, mengatakan ada bukti-bukti dramatis dari sebuah perjuangan hidup dan mati antara Yuka dan beberapa predator puncak. “Yang lebih menarik, ada petunjuk bahwa manusia purba mungkin mengambil alih pembunuhan Yuka,” ujar dia.

Yuka pertama kali ditemukan pemburu gading di Siberia. Fosil tersebut kemudian diambil alih oleh organisasi Mammuthus, sehingga memungkinkan para ahli untuk mulai menganalisanya.

Yuka bukanlah fosil mammoth pertama yang ditemukan, tetapi kondisinya sangat berbeda dengan fosil-fosil sebelumnya. Tubuh Yuka luar biasa terawetkan dengan baik, termasuk jaringan lunak, otot, kulit, dan organ internal yang biasanya jarang ditemukan pada bangkai mammoth.

Sapi Bali Silangan Dengan Banteng Jawa Akan Segera Melahirkan Anak

Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur menantikan kelahiran hewan hasil persilangan antara sapi Bali dan banteng Jawa. Saat ini dari 10 ekor sapi Bali betina di area konservasi, tujuh di antaranya bunting. Mereka ditempatkan pada kandang khusus bersama seekor banteng Jawa jantan.

Chief Animal Keeper Taman Safari II Suwarto mengatakan, usia kehamilan sapi-sapi Bali itu menginjak delapan bulan. Diperkirakan, kata dia, pada 23 April 2012 anak-anak sapi-banteng itu lahir. “Kalau program kawin silang ini berhasil, maka akan diteruskan ke daerah-daerah lain,” kata Suwarto, Senin 26 Maret 2012.

Suwarto menambahkan, banteng Jawa jantan diambil dari Taman Nasional Hutan Baluran, Banyuwangi. Sebenarnya, kata Suwarto, ada lima ekor banteng sebagai eksperimen. Namun empat ekor lainnya dibawa ke Alas Purwo.

Kurator satwa Taman Safari Indonesia II, dokter hewan Ivan Chandra mengemukakan, kawin silang banteng dengan sapi tak sulit karena kandungan genetik kedua hewan hampir sama. Di daerah beriklim tropis, keduanya cocok dikembangkan.

Ivan melanjutkan, kawin silang Taman Safari Prigen baru pertama kali terjadi. Daerah ini dijadikan proyek percontohan nasional. Bila sukses, dilakukan di tempat lain. “Jika sapi-sapi Bali itu melahirkan anak jantan, maka akan dipakai sebagai penjantan daerah-daerah lain,” kata Ivan.

Dokter hewan menambahkan bawa Gubernur Jawa Timur Soekarwo telah memesan nama bila anak sapi-banteng hasil persilangan itu lahir. Soekarwo, kata Ivan, menginginkan agar dinamai Sapi Karwo. “Itu permintaan gubernur secara khusus,” ucap Ivan.

10 Langkah dan Cara Menanggulangi Serangan dan Sembuhkan Gigitan Serangga Tomcat

Apabila tomcat menyerang Anda, Profesor Dokter Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, memberikan tip sebagai berikut.

  1. Apabila Anda menemukan serangan ini jangan dipencet supaya racun tidak mengenai kulit. Masukkan serangga ini ke dalam plastik dengan hati-hati dan buang ke tempat yang aman.
  2. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terrbuka.
  3. Usahakan pintu selalu tertutup dan bila ada jendela sebaiknya diberi kawat nyamuk untuk mencegah kumbang ini masuk ke dalam rumah.
  4. Sebaiknya tidur menggunakan kelambu jika memang di daerah yang Anda tinggali sedang dilanda serangan kumbang ini.
  5. Bila mendapati serangga ini dalam jumlah yang banyak sebaiknya pada setiap lampu perlu diberi pelindung untuk mencegah kumbang ini jatuh ke manusia.
  6. Apabila kumbang ini mengenai kulit, usahakan supaya Anda tidak menggosok kulit atau bagian mata.
  7. Bila kumbang ini berada di kulit, singkirkan dengan hati-hati-hati, dengan meniup atau menggunakan kertas untuk mengambil kumbang dengan hati-hati.
  8. Lakukan inspeksi ke dinding dan langit-langit dekat lampu sebelum tidur. Bila Anda menemukan kumbang ini segera matikan dengan menyemprotkan racun serangga, lalu singkirkan tanpa menyentuhnya.
  9. Segera beri air mengalir dan sabuni kulit Anda yang bersentuhan dengan serangga ini.
  10. Bersihkan lingkungan rumah, terutama tanaman yang tidak terawat yang ada di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat atau sarang hidup kumbang ini.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profesor Dokter Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan tentang gejala klinis serangan tomcat. Antara lain, kulit yang terkena biasanya di daerah kulit yang terbuka dalam waktu singkat yang akan terasa panas. Kemudian setelah 24 sampai 48 jam akan muncul gelembung pada kulit dan sekitarnya berwarna merah menyerupai lesi akibat terkena air panas atau luka bakar.

Pada kasus yang jarang terjadi tidak menimbulkan gejala kulit yang berarti. Perlu dipastikan bila tidak ada riwayat terkena bahan kimia atau luka bakar. Kemudian lesi pada mata menyebabkan conjunctivitis atau biasa disebut Naerobi Eye.

Untuk pengobatan, Tjandra menyarankan apabila menemukan serangga ini sebaiknya jangan dipencet agar racunnya tidak mengenai kulit. Kemudian masukkan ke plastik dengan hati-hati lalu buang ke tempat yang aman. Segera beri air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.

Tjandra juga mengatakan demi memastikan serangga ini tidak ada lagi, untuk mencegah bertambahnya lesi di kulit, kompres kulit dengan cairan antiseptik dingin. Apabila sudah timbul lesi seperti luka bakar, untuk pengobatan lanjutan sebaiknya periksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Pakar serangga dari Institut Pertanian Bogor Aunu Rauf mengatakan kalau Tomcat menempel di tubuh manusia, mengusirnya cukup ditiup saja. Ia menyarankan tidak ada kontak fisik atau menggosok Tomcat dengan tangan. Sebab, cairan racun serangga asli Indonesia ini justru keluar kala Tomcat merasa terancam.

“Kalau terlanjur terkena cairannya, segera basuh dengan air bersih dan sabun. Efek racun Tomcat bisa sembuh sendiri dalam waktu satu minggu,” kata Aunu di Bogor Selasa 20 Maret 2012.

Racun serangga Tomcat memang lebih dahsyat 15 kali lipat dibandingkan bisa ular kobra. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, karena serangga ini mengeluarkan cairan “payderin” hanya jika merasa terganggu.

“Memang berdasarkan literatur racunnya lebih kuat dibanding racun kobra. Tapi masyarakat jangan khawatir sama Tomcat,” kata Aunu.

Menurut Aunu, habitat asli Tomcat berada di daerah lembab dan di bawah permukaan tanah, terutama sawah. Sebenarnya Tomcat adalah sahabat para petani. “Tomcat adalah predator hama wereng cokelat. Keberadaannya justru membantu petani dalam mengusir hama pengganggu tanaman. Asal jangan diganggu, Tomcat tidak berbahaya,” kata Aunu.

Lalu apa alasan Tomcat bisa hijrah dari lahan pertanian ke sebuah apartemen Surabaya? Aunu menduga habitat serangga ini berada di lahan apartemen. Tomcat menyukai cahaya.

“Kemungkinan Tomcat terbang ke apartemen karena banyak cahaya lampu. Tapi saya belum ke lapangan, jadi belum tahu penyebab pastinya,” kata Aunu.

Penyebab Serangan Serangga Tomcat Di Komplek Apartemen Eastcoast dan Palm Spring Regency Surabaya

Guru Besar Entomologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc mengatakan, serangan serangga Tomcat terhadap warga penghuni komplek apartemen di Surabaya karena pembangunan pemukiman penduduk berada di perkembangbiakan binatang ini.

“Misalnya di dekat persawahan atau di pinggiran dekat hutan yang lembab atau rawa,” kata Aunu kepada Tempo di Bogor, Selasa 20 Maret 2012.

Menurut dia, ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan ledakan atau outbreak kumbang tomcat, sehingga masuk rumah penghuni apartemen. “Terjadi peningkatan populasi kumbang tomcat menjelang berakhirnya musim hujan. Sebelumnya masih dalam stadia larva dan pupa,” dia menjelaskan.

Aunu memaparkan, pada saat yang bersamaan terjadi kegiatan panen. Sehingga kumbang Tomcat berterbangan dan bergerak menuju sumber cahaya di pemukiman.

Outbreak kumbang tomcat seperti terjadi di Surabaya, pernah pula dilaporkan terjadi di negara lain, seperti di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang- Malaysia (2004 dan 2007), India Selatan (2007), dan Iraq (2008).

Menanggapi serangan serangga tomcat, Dinas Pertanian Surabaya membuka layanan call center. “Kami buka tujuh hari hingga pukul 22.00 WIB,” kata Kepala Bidang Pertanian dan Kehutanan Dinas Pertanian Surabaya, Alexandro S. Yahaya, ketika dihubungi pada Selasa, 20 Maret 2012.

Nomor yang bisa dihubungi warga Surabaya adalah 031-8275404. Penelepon bisa mengadukan serangan serangga tomcat ke nomor ini dan meminta bantuan ke Dinas Pertanian. Menurut Alex, nomor layanan itu sudah ada sejak tahun lalu.

“Dulu dipakai ketika ada serangan ulat bulu,” kata dia. Kini nomor yang sama dibuka lagi menghadapi serangan kumbang bernama latin Paederus riparius itu. Menurut Alex, nomor ini adalah nomor khusus untuk kejadian luar biasa.

Sejak Jumat, 16 Maret 2012, sejumlah daerah di Surabaya menjadi persinggahan serangga tomcat. Misalnya Apartemen Eastcoast, daerah Mulyorejo, perumahan Palm Spring Regency, daerah Ngagel Rejo, hingga kawasan Semampir.

Kumbang berwarna oranye itu rajin menyambangi kawasan tersebut pada sore hingga malam. “Korban rata-rata di daerah itu setiap hari ada puluhan orang,” ujar dia. Bahkan tercatat ada 50-60 puluhan siswa SD Mustaqim yang menderita gatal akibat tomcat.

Dinosaurus Mini Microraptor Dengan Ukuran Hanya Sebesar Merpati

Fosil dinosaurus yang baru saja ditemukan ilmuwan mengubah pandangan bahwa satwa purba itu selalu berukuran raksasa. Microraptor, demikian makhluk itu disebut, cuma sebesar merpati.

Palaentolog menduga bahwa fosil microraptor yang ditemukan berasal dari zaman Cretaceous, 130 juta tahun yang lalu. Hewan tersebut mendiami wilayah timur laut China.

Berdasarkan analisis, ilmuwan mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki perawakan seperti burung gagak. Ilmuwan juga berpendapat bahwa satwa ini mengibaskan ekornya seperti merak.

Dalam proses identifikasi, ilmuwan menganalisis fosil sayap dengan ikroskop elektron untuk melihat struktur melanosome. Struktur tersebut sangat kecil, tetapi berperan dalam penentuan warna bulu.

Diketahui bahwa susunan melanosome memengaruhi warna bulu. Jika melanosome tersusun rapi, maka bulu akan berwarna gelap. Jika sebaliknya, maka bulu akan berwarna lebih terang.

Peneliti kemudian mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki bulu berwarna hitam. Namun, belum diketahui apakah bulu tersebut mengilau.

“Keratin tidak terawetkan dalam fosil, jadi kami tak bisa secara langsung menyimpulkan adanya permainan warna,” ungkap Matthew Shawkey, asisten profesor di Universitas Akron, Ohio, yang terlibat riset.

Yang menarik dari microraptor ini adalah bulu ekornya yang diduga memiliki ornamen khas. Ilmuwan menduga, bulu ekor tersebut digunakan untuk menarik lawan jenis.

“Saya kira ini contoh pertama bulu ekor yang sangat kaya ornamen. Apakah bulu itu bisa terangkat (seperti pada merak) atau tidak, ada kemungkinan bahwa spesies ini bisa memamerkannya,” ungkap Shawkey seperti dikutip Discovery, Kamis (8/3/2012).

Penemuan microraptor ini dipublikasikan di jurnal Science yang terbit pada hari Jumat

Zebra Menggunakan Garis Hitam Putih Untuk Menangkal Nyamuk dan Sengatan Serangga

Pepatah kuno menyebut alasan zebra bergaris hitam putih adalah demi menyamarkan diri di hutan atau berkamuflase. Tujuannya apalagi selain untuk mengacaukan pandangan pemangsa seperti singa.

Tapi kajian terbaru yang dibuat di jurnal Experimental Biology 9 Februari 2012 menyebutkan bahwa pola hitam putih hewan yang sekeluarga dengan kuda ini justru untuk mengacaukan pandangan penggigit mungil bernama langau (lalat ternak) pengisap

Langau betina yang mengisap darah tertarik pada cahaya terpolarisasi–gelombang cahaya yang berorientasi pada arah tertentu, manusia mengenalnya sebagai silau. Silau ini memikat hampir semua lalat karena menyerupai cahaya yang terpantul di air, tempat para lalat bertelur.

Pada kuda, kulit berwarna hitam akan memantulkan cahaya yang terpolarisasi lebih baik ketimbang kulit kuda yang cokelat atau putih. Temuan tersebut pernah dikaji ahli ekologi evolusi Susanne Akesson. Akesson kemudian melanjutkan penelitian yang sama untuk zebra.

Awalnya Akesson dan tim berasumsi bahwa mantel zebra kurang menarik bagi langau ketimbang kuda berkulit hitam. Tetapi kemungkinan kulit zebra jauh lebih menarik bagi langau ketimbang kuda berkulit putih.

Hipotesis para ahli tersebut akhirnya terbukti. Para ilmuwan menguji para langau dengan memberikan model kuda dengan aneka kulit yang ditempeli dengan lem serangga. Ternyata garis zebra adalah penolak terbaik langau. Terbukti dari jumlah langau yang terjebak dari masing-masing tipe model kuda.

“Sangat mengejutkan karena di garis hitam putih mash ada ruang hitam yang merefleksikan cahaya terpolarisasi secara horizontal,” ujar Akesson. Tapi faktanya semakin sempit jarak hitam putih, semakin malas langau mendekat.

Kajian ini juga menjelaskan kenapa jeda garis semakin sempit pada bagian muka dan kaki. “Sebab muka dan kaki zebra memiliki kulit yang paling tipis,” ujar Akesson dari Universitas Lunds Swedia.

Akesson menekankan bahwa pengujian ini dilakukan di Hungaria, bukan sabana Afrika. Mereka pun hanya menggunakan model, sehingga temuan ini bukanlah kata akhir musabab kulit zebra bergaris.

Ahli biologi evolusi Universitas Manchester, Matheww Cobb, menyebut kajian tim Akesson menarik dan teliti. Tapi bukan berarti bisa mengesampingkan pakem yang ada tentang hipotesis asal usul garis zebra.

Peneliti harus membuktikan bahwa gigitan langu adalah penyebab utama serangga ini menolak zebra dan memilih kuda atau keledai. “Saya rasa mereka tahu dalam kajian mereka bahwa banyak faktor penyebab zebra bergaris,” ujar Cobb.

Ikan Tanpa Wajah Dan Otak Ditemukan Di Skotlandia Oleh Scottish Natural Heritage

Sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa ada seekor ikan tanpa wajah dan otak ditemukan untuk pertama kalinya di Skotlandia. Spesies ini dapat dianggap sebagai perwakilan modern dari binatang pertama yang mengalami evolusi tulang belakang.

Pemerintah Skotlandia memuji temuan itu. WWF Skotlandia mengatakan temuan itu memberi arti pentingnya perlindungan yang lebih baik atas lingkungan laut. Organisasi yang melakukan penelusuran itu antara lain Scottish Natural Heritage dan Edinburgh’s Heriot-Watt University,melakukan pengambilan gambar dan video bawah laut dan menggunakan akustik dan gambar 3D untuk penelitian itu.

Di sekitar pantai barat, kerang kipas ditemukan. yang tumbuh hingga 48 cm panjangnya, kerang itu merupakan kerang laut terbesar yang ada di Skotlandia. Di Tankerness wilayah Orkney, pemerintah mengatakan bahwa seekor ikan amphioxus prasejarah tanpa wajah dan otak ditemukan.

Dengan jaringan syaraf berada di belakang punggungnya, ikan itu tampak tidak memiliki wajah dan otak.