Arsip Kategori: Computer

Penelitian Harvard Business Review Menunjukan Bahwa Bill Gates Lebih Baik Dari Steve Jobs Untuk Diteladani

- Bill Gates dan Steve Jobs. Dua nama ini paling populer di dunia teknologi.

Gates merupakan pendiri Microsoft, sebuah perusahaan software raksasa dan masuk daftar orang terkaya sejagad. Sementara Jobs adalah bos Apple Inc, yang fenomenal karena mampu menghasilkan produk yang nyaman dipakai.

Sejak meninggal dunia pada 6 Oktober lalu, Jobs mendapat banyak simpati dan pengakuan dari seluruh pencinta teknologi di seluruh dunia. Dia dianggap berjasa karena mampu menciptakan teknologi baru melalui produk Apple.

Namun, menurut penilaian Harvard Business School, bukan Jobs yang layak dijadikan panutan bagi mereka yang ingin menjadi pengusaha di bidang teknologi alias teknopreneur. Adalah Bill Gates yang lebih tepat untuk mendapat pengakuan sebagai teknopreneur yang baik dan layak ditiru.

Penilaian itu diambil dari tulisan Maxwell Wessel, seorang peneliti di Harvard Business School, yang sedang menulis untuk Forum for Growth and Innovation.

Wessel menilai, meskipun Steve Jobs adalah seorang visioner dan kemungkinan menjadi pemimpin generasi yang paling penting dalam dunia bisnis, Bill Gates merupakan orang yang lebih baik untuk dijadikan model pebisnis secara keseluruhan.

“Saya tidak yakin kita harus mengidolakan Steve Jobs,” kata Wessel seperti dikutip situs teknologi PC World, Senin, 7 November 2011.

Alasannya sederhana, Bill Gates memberikan warisan utama untuk membantu orang lain dan mengubah dunia melalui filantropi. Adapun Jobs membentuk warisan utamanya dengan sebuah bangunan perkantoran besar.

Untuk membuktikannya, Wessel sampai mengutip pernyataan Gates yang disampaikan kepada komunitas Harvard.

“Saya harap Anda merefleksikan perilaku dari bakat dan energi yang Anda miliki. Saya harap Anda tidak hanya memposisikan diri pada prestasi profesional Anda, tetapi juga menunjukkan seberapa besar Anda bisa bekerja untuk mengatasi ketidakadilan dan memperlakukan orang lain dari sudut pandang yang sama dan kemanusiaan,” kata Gates.

Wessel menambahkan, sebagaimana cintanya kepada Apple Inc, dia akan dengan senang hati menyerahkan iPhone kesayangannya untuk memberi makan anak-anak yang kelaparan.

Memori Super Komputer Dari Kaca Bagaikan Difilm Superman Ditemukan Oleh Southampton University

ANDA tentu ingat kristal memori dalam film Superman?

Benda ajaib itu ternyata menginspirasi sejumlah peneliti di Southampton University mengembangkan hard drive yang terbuat dari kaca.

Mereka menggunakan laser guna mengatur ulang atom dalam potongan kaca dan membentuknya menjadi memori komputer jenis baru. Alat penyimpan memori yang terbuat dari kaca diklaim dapat menahan suhu hingga 982 derajat celsius dan tahan air sehingga dapat bertahan ribuan tahun tanpa kehilangan data.

”Informasi dapat ditulis, dihapus dan ditulis ulang ke dalam struktur molekul kaca menggunakan laser,” kata Ketua Peneliti Martynas Beresna seperti dikutip telegraph.co.uk.

Proses pengubahan perjalanan cahaya melalui kaca juga menciptakan pusaran cahaya yang terpolarisasi, lalu dapat dibaca dalam banyak cara sebagai data dalam serat optik.

Menurut Beresna, memori kristal yang bentuknya tidak lebih besar dari layar ponsel mampu menampung data setara blu-ray disc berkapasitas 50GB.

Proyek penelitian Optoelektronik di Southampton University itu sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Applied Physics Letters.

Berkat Teknologi Canggih Lukisan Yesus Disalib Karya Michelangelo Seharga 1,4 Triliun Ditemukan Di Asrama Universitas Oxford

Sebuah lukisan yang telah tergantung sejak 1930-an di dinding sebuah aula asrama mahasiswa di Universitas Oxford, Inggris, diyakini sebagai karya Michelangelo. Ada pula yang menyatakan lukisan yang dibuat pada pertengahan abad ke-16 itu buatan Marcello Venusti.

Namun, menurut ahli dari Italia, Antonio Forcellino, hasil tes dengan teknologi infra merah menunjukkan lukisan berukuran panjang 68,58 sentimeter dan lebar 30,48 sentimeter itu asli buatan Michelangelo. “Tak seorang pun kecuali Michelangelo yang bisa membuat sebuah karya agung,” tulis Forcellino dalam bukunya berjudul The Lost Michelangelos.

Ahli Michelangelo dari Universitas Washington, Amerika Serikat, Profesor William Wallace, mengatakan yang membuat hal ini menarik lantaran Forcellino menyatakan lukisan Yesus Disalib itu asli buatan Michelangelo. “Ia seorang ilmuwan yang memiliki reputasi,” ujarnya.

Menurut Clare Dawey dari asuransi Axa, lukisan itu bakal menjadi karya seni paling mahal yang pernah dijual. “”Karya itu bisa menembus angka Rp 1,4 triliun jika para ahli percaya itu benar-benar asli,” katanya.

Jika perkiraan itu benar, karya Michelangelo ini bakal mengalahkan lukisan Pablo Picasso yang terjual melalui lelang tahun lalu seharga Rp 963,5 miliar.

Lukisan Yesus Disalib dengan Madonna, Santo Yohannes, dan dua malaikat yang bersedih itu kini disimpan di Museum Ashmoleon, Oxford. Karya itu bakal dipamerkan di Milan dan Roma musim gugur mendatang.

Aplikasi Android Untuk Mendeteksi dan Menghindari Jalan Berlubang Bagi Mobil Kini Sudah Dilepas Kepasar

Situasi paling mengesalkan saat berkendara adalah ketika roda menghajar lubang, seperti yang dialami seorang pengemudi di Boston, Inggris. Namun, alih-alih marah kepada pemerintah setempat, produsen perangkat lunak ponsel New Urban Mechanics memilih mengembangkan aplikasi anti-lubang jalan bernama The Boston Urban Mechanic Profiler atau “Street Bump” sebagai solusi.

Street Bump bekerja dengan memanfaatkan GPS dan akselerometer secara bersamaan untuk mendeteksi, mencari, dan melaporkan lubang kepada pengemudi. New Urban Mechanics mengklaim bahwa aplikasi tersebut bisa sangat sensitif terhadap lubang sampai ukuran kecil sekalipun, yang berpotensi menimbulkan petaka.

Pada 2009, mereka membuat aplikasi Citizens Connect untuk iPhone. Pengguna aplikasi ini bisa melaporkan aksi perusakan atau lubang jalan melalui kamera dan GPS. Penggunanya bahkan bisa diberi tahu jika laporan sudah ditangani.

Kabarnya, satu dari enam lubang jalan yang diperbaiki pemerintah setempat merupakan hasil laporan yang disampaikan melalui aplikasi semacam ini. “Ini seperti sukarelawan dalam bentuk baru. Kita bisa membantu kota dengan hal tersebut. Mudah, hanya dengan perangkat yang Anda rogoh dari kantong,” ungkap Nigel Jacob, salah satu pemimpin di perusahaan tersebut.

Saat ini timnya sudah melepas versi awal dari aplikasi tersebut untuk pasar Android. Namun, mereka akan terus mengembangkannya. Mereka juga menawarkan hadiah sebesar 25.000 dollar AS bagi programmer yang berminat merancang algoritma yang diperlukan untuk mengubah data mentah menjadi informasi yang bermanfaat terkait lubang jalan. Dengannya, mobil pun bisa anti-lubang jalan.

Rahasia Itu Kini Hanya Sementara dan Bukan Rahasia Lagi Berkat Teknologi Informasi

Tampaknya keliru, atau sebuah kenaifan, bila menganggap dengan pecahnya kasus WikiLeaks maka yang guncang adalah sistem kerahasiaan negara. Dalam kasus WikiLeaks, yang terungkap adalah rahasia negara. Namun, di luar itu, yang bisa guncang adalah rahasia dalam level individu atau rahasia pribadi. Hal-hal menyangkut pribadi seseorang, yang disebut sebagai privasi pun, sebenarnya telah guncang di era kemajuan teknologi informasi (TI) dan kemudian TI-komunikasi (TIK).

Tak diragukan lagi, apa yang telah dilakukan oleh Julian Assange dan situs internet (website) revolusioner WikiLeaks telah memaksa pemerintah di dunia bertanya kembali tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai ”rahasia”. (Time, 13/12)

Terkait dengan merebaknya kasus ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kasus WikiLeaks menjadi pelajaran penting, yaitu agar dokumen rahasia dijaga ketat. (Kompas, 20/12)

Pertanyaannya adalah pada era kemajuan TIK sekarang ini, apakah yang disebut sebagai rahasia tadi benar-benar masih bisa dijaga?

Sebagaimana pesan baru yang pasti telah disampaikan kepada para diplomat untuk lebih saksama dalam berkomunikasi dan mengutarakan pendapat, satu hal yang juga dituntut adalah perubahan perilaku. Ini karena moda komunikasi yang ada sekarang ini memungkinkan komunikasi yang diandaikan bersifat pribadi pun bisa segera tersebar ke seluruh dunia dalam sekejap mata. Sekadar menyebut contoh, apa yang dialami Prita Mulyasari beberapa waktu lalu memperlihatkan hal itu, di mana berbagi keluhan melalui e-mail kepada teman bisa merebak ke khalayak luas.

Dalam lingkup pribadi, perkembangan jejaring sosial memperlihatkan fenomena lain. Dalam situs seperti Facebook, ada banyak hal atau informasi yang dalam konteks konvensional dianggap bersifat pribadi justru disiarluaskan.

Itu boleh jadi disebut sebagai pembocoran privasi secara sukarela.

Sudah diramalkan

Jauh hari sebelum merebaknya pembocoran informasi rahasia oleh WikiLeaks, para ahli informasi telah meramalkan bahwa di era kemajuan pesat TIK akan sulit bagi siapa pun untuk mengamankan informasi.

Dalam edisi khusus tentang masa depan privasi, majalah Scientific American (9/08) telah mengangkat pertanyaan, ”Dapatkan kita mengamankan informasi di dunia yang berteknologi tinggi dan tak aman ini?”

Dalam pengantar edisi itu Pemimpin Redaksi John Rennie menyebutkan, privasi sulit dipertahankan bagi warga masyarakat karena semakin banyak kota memasang kamera untuk memantau aktivitas warga masyarakat.

Dengan realita baru bahwa rahasia dan privasi sulit diamankan, sosok seperti David Brin menyarankan bahwa upaya yang lebih penting dilakukan adalah mencegah penyalahgunaan privasi atau informasi rahasia. Pemerintah dalam hal ini juga diminta sama-sama bersifat terbuka, sebagaimana warga masyarakat yang semakin terbuka, seperti dalam Facebook atau MySpace.

Sebagaimana telah disinggung dalam ”Laporan Iptek” tentang peran dan tanggung jawab baru Chief Informationa Officer (Kompas, 11/10) yang dihadapi pemerintah—dan sebenarnya juga masyarakat—dewasa ini adalah sosok revolusioner militan seperti Julian Assange, yang mengklaim tidak ingin melihat hal-hal yang korup.

Sosok Assange sendiri sebenarnya bisa disebut sebagai pengikut Rev Robert Browne, pimpinan Anglikan yang tahun 1582 pernah mengucapkan kalimat bahwa ”Kita semua harus saling mengawasi satu sama lain”. Ia mengucapkan hal itu karena—seperti dikutip Scientific American—menurut pandangannya, jiwa manusia pada dasarnya adalah lemah dan rawan terhadap godaan berbuat jahat sehingga harus ditopang oleh komunitas mata-mata dan informan.

Pandangan yang amat berpengaruh besar di kalangan kaum puritan Inggris Baru itu, dalam era kemajuan TIK, mendapat dukungan besar dari para pembuat alat-alat pemantau, pengintai, penyadap, yang teknologinya semakin canggih.

Dalam konteks lain tapi dalam semangat senada, majalah The Economist (19/12) mengangkat isu ”Kemajuan dan Kerugiannya” (Progress and Its Perils). Dalam hal pemanfaatan TIK, manusia telah mendapat berbagai manfaat. Kebutuhannya akan informasi mendapat dukungan penuh dari teknologi mutakhir yang dilengkapi mesin pencari dan alat sunting canggih.

Namun, seiring dengan itu, ia juga terikat— dan dengan itu terperangkap—dalam jaringan mahaluas yang bisa membelenggu dan menelikung. Dalam kemudahan itu, virus atau aksi hacker dan cracker dapat menyelinap masuk dalam rahasia kita yang amat dalam.

Meminjam ulasan The Economist tentang gagasan kemajuan, bisa juga dalam kaitan privasi ini kita merujuk pada karya Imre Madach, penulis drama Hongaria, yang berjudul Tragedi Manusia (1861). Dalam buku yang disebut sebagai padanan ”Surga yang Hilang” untuk zaman industri ini dilukiskan, antara lain, Adam setelah turun dari Taman Firdaus turun ke Bumi dan mencoba menegakkan kejayaan. Di Mesir, hal itu ia capai di piramid. Tapi segera ia sadari bahwa itu dibangun di atas kesengsaraan para budak.

Kalau ia tiba di dunia pada abad ke-21, ia juga akan melihat kejayaan di pemanfaatan TIK. Namun, gebyar itu akan dia lihat juga disertai dengan terpaparnya rahasia, dan boleh jadi juga aib, para pengguna fanatiknya. Bukankah itu juga ”Tragedi Manusia”?

1 Gram E. coli Mampu Tampung 900TB Data Lebih Efisien Dari Harddisk

Para peneliti asal Hong Kong telah menemukan cara untuk menyimpan data di dalam DNA bakteri. Ternyata, bakteri yang digunakan sebagai sampel, bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data.

Dalam uji coba awal, seperti dikutip dari i09, 15 Desember 2010, peneliti meng-encode sebuah pesan singkat ke dalam sebuah vektor bersama dengan dua pengulangan yang dibalik.

Kemudian, peneliti mendesain sebuah primer yang menarget pesan yang sudah di-encode baik dalam orientasi normal ataupun dalam orientasi tambahan yakni yang sudah dibalik.

Kedua set primer tersebut bisa digunakan untuk meng-generate produk PCR (Polymerase Chain Reaction). Ini mengindikasikan bahwa pesan ter-encode hadir di pesan yang sudah direkombinasi dan di dalam bentuk normal. Hasil ujicoba pengulangan juga mengonfirmasikan akurasi produk PCR yang bersangkutan.

Peluang dari penggunaan bioteknologi ini sendiri sangat luar biasa. Peneliti menemukan, satu gram sek bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data. Artinya, bakteri mampu menyimpan hampir 500 kali lipat lebih banyak dibandingkan harddisk terbesar saat ini.

Sebagai contoh, harddisk komputer desktop berkapasitas 1,5 terabyte saat ini umumnya memiliki bobot seberat 1 kilogram. Jika harddisk itu terbuat dari bakteri, maka kapasitasnya menjadi 900 petabyte.

Lalu, apakah menggunakan bakteri E. coli untuk menyimpan data tidak berpotensi menimbulkan penyakit?

Tak perlu khawatir. Peneliti sudah menemukan rangkaian non-virulent dari bakteri tersebut. Bakteri E. coli yang digunakan sudah didesain sedemikian rupa sehingga hanya berfungsi menyimpan data di DNA dan melakukan reproduksi, dan DNA yang digunakan tidak meng-encode protein yang berpotensi berbahaya.

Bayer Schering Pharma Temukan Cara Meneliti Khasiat Obat Dengan Microsoft Excel

Membuat metode validasi untuk obat merupakan pekerjaan kompleks. Di bagian akhir pengembangan obat, bisa jadi kandidat obat yang akan digunakan untuk mengatasi penyakit, malah dibuang. Akhirnya, seluruh proses validasi yang dilakukan terhadap obat itu menjadi sia-sia.

Sebagai contoh, munculnya virus HIV pada tahun 1980-an memicu kalangan medis melakukan penelitian karena banyak pasien yang terenggut nyawanya akibat AIDS.

Ternyata, untuk menemukan virus yang bertanggungjawab terhadap penyakit itu saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan obatnya juga lebih panjang lagi.

“Dikhawatirkan, di masa depan, akan lebih banyak lagi virus yang merenggut jiwa manusia karena lambatnya proses ini,” kata Dr Ian Lipkin, seorang neurolog asal University of California, San Francisco, seperti dikutip dari NY Times, 16 Desember 2010. “Kita harus menemukan cara yang lebih baik untuk melakukan hal ini,” ucapnya.

Untuk menghindari usaha sia-sia, peneliti dari Bayer Schering Pharma mencari cara yang cepat dan sederhana dalam membuat metode yang stabil dan dapat digandakan dalam mengembangkan obat.

“Bagian paling sulit dari pengembangan obat adalah membuat stok solusi dan memodifikasi parameter untuk menentukan metode mana yang paling stabil,” kata Dr Michael Pfeffer, Lab Manager Bayer Schering Pharma.

Pfeffer kemudian melakukan sebanyak mungkin otomatisasi terhadap sejumlah langkah dalam tahapan pencarian obat. Sebuah sistem Agilent HPLC yang dilengkapi dengan autosampler berthermostat dan dikontrol lewat software ChemStation dipilih untuk mengembangkan metode analisis.

Sebuah bahasa pemrograman macro kemudian digunakan untuk membuat macro spesifik yang disebut sebagai “Validation Generator” atau Autoval yang membuat pencairan rutin untuk autosampler dan disaat yang sama membuat tabel pengulangan terhadap sampel tersebut.

Setelah sampel dijalankan, data kemudian diekspor ke Microsoft Excel untuk mendapatkan hasil kalkulasi.

Hasilnya, ternyata setelah menggunakan metode otomatisasi tingkat tinggi, analisis non stop dapat dijalankan dan menghasilkan penghematan waktu yang signifikan bagi tim peneliti di lab dalam melakukan risetnya.

“Metode otomatisasi ini, dikombinasikan dengan evaluasi yang sudah terstandarisasi terbukti menjadi bagian penting dalam metode validasi terhadap obat yang efektif,” kata Pfeffer. “Alur kerja otomatis juga memungkinkan reproduktivitas yang baik dan juga mengurangi dampak dari kesalahan penelitian secara manual,” ucapnya.

Membangun Riset Berkesinambungan Ala Jepang

”Ke Jepang acara apa? Fuji Xerox? Xerox? Mesin fotokopi itu? Memangnya masih ada?” Itu adalah sepenggal pertanyaan umum dari orang-orang Indonesia. Pertanyaan ini cukup menggelitik karena tersimpan banyak tanya menggoda.

Apakah Fuji Xerox yang dikenal orang Indonesia sebagai mesin fotokopi jajaran atas itu benar-benar masih eksis? Jika ya, bagaimana perusahaan dengan bisnis klasik itu bisa bertahan di tengah digitalisasi zaman? Siapa yang bisa menyelamatkan keadaan sulit seperti itu? Dengan mantra apa?

Segudang pertanyaan itu sedikit demi sedikit terungkap ketika Kompas bersama jurnalis se-Asia Pasifik mengunjungi kantor dan gedung pusat riset dan pengembangan Fuji Xerox di Jepang, pertengahan November 2010. Di hari pertama, pertanyaan itu mulai dijawab dengan sendirinya, langsung dari President Fuji Xerox Tadahito Yamamoto.

Yamamoto mengungkapkan data pertumbuhan Fuji Xerox. Hingga pertengahan 2010, data menunjukkan Fuji Xerox masih membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 8,3 persen year on year. Laba perusahaan bahkan dua kali lipat. Penjualan di Asia Pasifik tumbuh pesat, juga ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa melalui US Xerox Corporation amat menggembirakan.

Bahkan, Fuji Xerox bersama US Xerox Corporation pada 2009 mengklaim menduduki posisi nomor satu untuk jumlah produksi printer yang terjual di seluruh penjuru dunia.

Ya, Fuji Xerox memang sudah tak berbisnis fotokopi biasa, dalam artian jualan mesin fotokopi konvensional yang papan namanya sering terlihat di kios-kios fotokopi pinggir jalan. Fuji Xerox sudah fokus ke bisnis mesin cetak digital dan printer, mulai kelas bawah hingga kelas atas.

Kalaupun masih memproduksi mesin fotokopi, produk mereka sudah multifungsi, tak sekadar mesin fotokopi tunggal. Produk mesin cetak digital mereka, misalnya Color 1000 Press dan iGen4, siap berkompetisi untuk menandingi mesin cetak offset tradisional.

Cetak digital

Dengan mesin cetak digital, proses cetak tak lagi ribet dan tak lagi membutuhkan pelat seperti pada offset printing. Tak ada jumlah minimal untuk dicetak, itulah salah satu keunggulan digital printing.

Prediksi pasar mereka untuk mesin cetak digital cukup meyakinkan. Secara global, pasar mesin cetak digital diproyeksikan tumbuh dari 12 triliun yen pada tahun 2008 menjadi 18 triliun pada tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan per tahun mencapai 10 persen.

Seperti perusahaan teknologi informasi lainnya, mereka juga menawarkan solusi layanan dokumen untuk klien kelas perusahaan. Fuji Xerox Global Services, yang memberi layanan outsourcing untuk mengelola dokumen perusahaan lain, seolah menjadi simbol bahwa mereka tak sekadar berbisnis fotokopi.

Yamamoto yakin betul masa depan dunia layanan dokumen. Keyakinan itu seolah dilipatgandakan dengan membangun gedung riset dan pengembangan atau R&D mewah di Yokohama. Cara orang Jepang dalam memandang pentingnya R&D memang berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia, misalnya.

Gedung ”yang hanya” khusus untuk litbang ini bahkan lebih mewah dan canggih dibandingkan kantor Fuji Xerox di Tokyo.

”Untuk pengembangan bisnis ke depan, kami membangun R&D Square di Minato Mirai, Yokohama, yang dibuka April lalu. Di situ kami punya riset dengan metode pendekatan atau gaya yang berbeda,” papar Yamamoto.

R&D Square akan menjadi pusat aktivitas riset yang melibatkan kampus, para peneliti, mitra kerja sama, pelanggan, industri, dan pemerintah.

”Kami menyebut model ini sebagai Customer Collaboration Laboratory, semua pihak bisa bekerja sama di sini,” tutur Yamamoto.

Maka, ketika Yamamoto mempresentasikan soal R&D yang serius dan mewah itu, kesan konvensional yang menempel pada merek Xerox di kepala ini mulai terhapus. Yamamoto, yang tampak sudah sepuh, masih intensif bergelut dengan persoalan-persoalan teknis teknologi informasi (TI).

Ketika ada pertanyaan setengah mengetes dari seorang wartawan soal cloud computing atau komputasi awan yang menekankan sistem jejaring terdistribusi, beberapa wartawan seolah menahan napas, menunggu apakah Yamamoto mengikuti tren seksi TI itu.

”Kami sudah mengaplikasikannya pada sistem cloud printing. Di Jepang, Anda bisa mencetak foto atau mengirim foto di semua jaringan 7-Eleven,” kata Yamamoto. 7-Eleven adalah jaringan toko kelontong yang ada di 18 negara.

Cloud printing adalah ide lama, tetapi di Indonesia tak populer. Idenya sederhana, bagaimana, misalnya, saudara kita di Jakarta yang tak bisa mudik dapat pergi ke kios tertentu untuk mengambil hasil cetakan foto keluarga di kampung beberapa saat setelah diambil fotonya.

Walau dunia digital membentang dan seolah menggerus semua hal yang berbau cetak, Fuji Xerox justru berasumsi positif. Digitalisasi media dan konvergensi perangkat bergerak justru akan memudahkan seseorang untuk mencetak dokumen

Research Development Square Jepang Yang Ramah Lingkungan

Apabila Anda bekerja di bidang bisnis konvensional, misalnya bisnis cetak, bagaimana bisa bertahan dari terpaan dunia digital? Bagi orang Jepang, untuk menjawab kondisi itu haruslah melewati proses penelitian dan pengembangan.

Namun, jika Anda di Indonesia dan berada di lini litbang, Anda pasti paham betul bagaimana perusahaan berhemat untuk urusan research and development (R&D). Orang Jepang justru membalikkan logika ini.

Fuji Xerox, pemain pembuat mesin fotokopi, salah satu contoh yang bisa bertahan dan berkembang dari terpaan dunia digital. Mereka tak hanya punya satu gedung R&D, yang pusatnya ada di Fuji Xerox R&D Square, Yokohama, Jepang. Namun, mereka juga punya banyak pusat riset, di antaranya Ebina Center, Nakai Research Center, FX Palo Alto Laboratory.

R&D Square adalah yang terbaru dan paling megah, dibangun di area seluas 14.600 meter persegi, terdiri atas 20 lantai dengan total luas 135.250 meter persegi, dan jumlah pekerja 4.500 orang. Sayangnya, seluruh ruangan mulai dari lobi hingga lantai teratas dilarang keras untuk diambil gambarnya.

Di Fuji Xerox R&D Square, mereka tak sekadar riset untuk bisnis terkait dokumen. Salah satu penelitian sampingan yang bersifat kolaboratif dan sedang berjalan adalah pengembangan perangkat lunak untuk memudahkan mengelola green office atau kantor berperspektif ramah lingkungan.

Green office yang mereka kembangkan tak hanya dari sisi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), tetapi termasuk brainware alias perilaku para pegawainya. Jadi, green office juga termasuk cara pandang ramah lingkungan untuk aktivitas keseharian di kantor.

Label green kini memang sedang seksi. Green office paling mudah bisa dimulai dengan meminimalkan penggunaan energi guna mengerem laju emisi gas CO.

”Kami mengembangkan perangkat lunak bernama EneEyes untuk memonitor penggunaan energi di R&D Square,” kata Yasuaki Onoishi, Corporate Vice President Fuji Xerox.

EneEyes merupakan perangkat lunak yang memvisualisasikan penggunaan semua elemen sumber daya di kantor. Visualisasi secara waktu nyata membantu untuk mengevaluasi penggunaan sumber daya setiap saat.

Program ini memantau penggunaan energi per lantai, bahkan per divisi, sehingga jika ada penyimpangan bisa segera diantisipasi. Penggunaan listrik, gas, manajemen buka-tutup jendela berdasarkan sensor cahaya matahari, dan manajemen lampu ruangan berdasar sensor gerak, semua bisa dipantau.

Program ini juga bisa menghitung penggunaan dan total biaya yang telah dikeluarkan, sampai menghitung berapa jejak karbon atau carbon footprint yang bisa dihemat.

”Dengan mendesain ulang cara bekerja, kami mampu mengurangi emisi gas buang CO, juga meningkatkan efisiensi kerja,” kata Onoishi.

Dari sisi personal, program green office juga akan mengukur jejak karbon setiap pegawai. Misalnya, bagaimana transportasi pegawai ke kantor, apakah menggunakan kendaraan pribadi, sepeda kayuh, atau kendaraan umum.

Juga, bagaimana pegawai mengelola pertemuan dengan kolega dan rekan-rekan kerjanya, apakah lebih memilih menggunakan angkutan umum ataukah mobil pribadi.

”Misalnya, memilih menggunakan transportasi umum daripada mobil pribadi, lebih suka teleconference daripada harus bepergian ke luar kota untuk bertemu dengan kolega bisnis,” kata Yukako Abe, Solutions Development Fuji Xerox.

Fuji Xerox, menurut Abe, memiliki target mengurangi emisi gas buang karbon dari aktivitas kantor mereka sebesar 7 juta ton per tahun pada 2010.

”Fuji Xerox R&D Square memang berkomitmen membangun Urban R&D ramah lingkungan,” kata Tadahito Yamamoto, President Fuji Xerox

Penemunan Ajaib Siswa SMP dan SMA Dalam NYIA 2010 Pantas Untuk Di Paten Kan

Temuan para siswa SMP dan SMA/SMK finalis Penghargaan Penemu Muda Nasional Ke-3 Tahun 2010 layak untuk dipatenkan. Meski masih memerlukan penyempurnaan agar dapat digunakan lebih baik, temuan tersebut bisa menjadi incaran industri.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Juri Penghargaan Penemu Muda Nasional (National Young Inventor Awards/NYIA) 2010 yang juga peneliti Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Subiyatno, di Jakarta, Kamis (21/10). Temuan mereka umumnya masih bersifat penyelesaian teoretis sehingga untuk bisa diaplikasikan, apalagi dikomersialkan, perlu penyempurnaan lebih lanjut.

Secara kualitas, temuan pelajar SMP-SMA/SMK Indonesia yang umumnya bersifat mekanik itu tidak kalah dengan penemuan sejenis yang dilakukan anak-anak SMA di negara-negara ASEAN. Namun, jika dibandingkan dengan temuan pelajar Jepang atau Taiwan, kondisinya berbeda karena temuan mereka sebagian besar sudah bersifat digital dan robotik.

”Temuan pelajar Indonesia memiliki keunikan, yaitu berakar pada persoalan sehari-hari dan budaya Indonesia. Sifatnya yang mekanik juga membuat temuan mereka mudah digunakan masyarakat Indonesia yang kurang terbiasa dengan peralatan yang bersifat robotik,” katanya.

NYIA 2010 diikuti 154 peserta, baik kelompok maupun individu, yang mewakili sejumlah SMP dan SMA di 12 provinsi. Sebaran asal peserta untuk perlombaan tahun ini dianggap lebih baik dengan semakin banyaknya peserta dari Indonesia timur.

”Keikutsertaan siswa SMK masih sangat kurang. Padahal, seharusnya lebih banyak siswa SMK yang ikut karena pelajaran mereka lebih aplikatif,” ujarnya.

Untuk finalis lomba yang dipilih sebanyak 15 peserta, dominasi siswa dari Jawa dan Sumatera masih cukup tinggi. Demikian pula untuk pemenang lomba yang akan diikutkan dalam Pameran Internasional Penemu Muda di Vietnam, Desember nanti.

Diraih Yogyakarta

Juara pertama NYIA 2010 diraih tim SMAN 1 Yogyakarta yang beranggotakan Ikhsan Brilianto, Andreas Diga, dan Ahmed Reza. Mereka menemukan plasmurator atau plasma-generator untuk meminimalkan emisi kendaraan bermotor. Alat yang dibuat dari kaleng bekas dan hanya memerlukan biaya Rp 20.000 ini terbukti mampu mengurangi kadar karbon dioksida yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor hingga 25,76 persen dan meningkatkan jumlah oksigen hingga 4,76 persen.

Pemenang kedua diperoleh tim SMA Plus Negeri 17 Palembang yang beranggotakan Eddy Yuristo, Reijefki Irlastua, dan Priyanka dengan temuan berupa alat semprot herbisida untuk menahan pertumbuhan gulma di perkebunan yang jauh lebih ekonomis dibandingkan teknik yang sudah ada. Sedangkan juara ketiga dianugerahkan kepada tim SMA Negeri 6 Yogyakarta yang terdiri atas Erlinda Nurul Kusuma, Maria Fransisca Simbolon, dan Delphine Yustica Ratnasari dengan temuan pot tanah yang langsung mengandung pupuk organik sehingga membuat tanaman tidak perlu diberi pupuk lagi.

Selain ketiga pemenang itu, tim juri yang beranggotakan peneliti dari sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi itu juga memberikan kesempatan kepada dua tim lain untuk diberangkatkan ke Vietnam. Mereka adalah tim SMA Stella Duce I, Yogyakarta, yang menemukan kuas cat tembok yang dilengkapi sekaligus dengan penampung catnya dan tim SMAN 3 Padang dengan temuan berupa penggabungan sikat gigi dan pasta gigi dalam satu benda.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, lomba ini dapat menjadi ajang pembelajaran bagi para siswa SMP/SMA/SMK untuk mengenal dan mengetahui perkembangan penelitian yang dilakukan siswa di daerah lain.