Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Cognitive Science’

Chip Seks Sedang Dikembangkan Untuk Membuat Wanita Menjadi Aktif Dan Menyenangi Seks

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Chip seks” yang dapat merangsang gairah sedang dikembangkan oleh para ilmuwan.

Situs berita Telegraph melaporkan, chip itu akan ditanam di kepala dan elektroda-nya akan menghasilkan kejutan listrik sangat kecil.

Teknologi tersebut telah digunakan di Amerika Serikat untuk mengobati penyakit Parkinson.

Dalam beberapa bulan terakhir para ilmuwan berkonsentrasi pada kawasan otak di belakang mata yang disebut sebagai korteks  orbitofrontal. Daerah tersebut terkait dengan perasaan senang yang berasal dari makan dan seks.

Sebuah penelitian survei yang dilakukan oleh Morten Kringelbach dari jurusan psikiatri Universitas Oxford, menemukan bahwa korteks orbitofrontal kemungkinan dapat menjadi “sasaran stimulasi baru” untuk menolong penderita anhedonia atau ketidakmampuan merasakan kenikmatan dari kegiatan seperti makan dan seks.Temuan itu dilaporkan dalam jurnal  Nature Reviews Neuroscience.

Profesor bedah saraf, Tipu Aziz, mengemukakan : “terdapat bukti bahwa chip ini akan berfungsi. Beberapa tahun lalu ilmuwan menanam perangkat tersebut ke otak seorang perempuan yang tidak atraktif secara seksual dan dia berubah menjadi perempuan yang sangat aktif secara seksual. Dia tidak suka perubahan yang mendadak itu sehingga alat di kepalanya itu diangkat.”

Namun dia menambahkan bahwa teknologi saat ini, yang mengharuskan bedah untuk menghubungkan kabel dari alat pacu jantung ke otak, dapat menyebabkan pendarahan dan “intrusif serta kasar”.

Ia melanjutkan: “Bila teknologi ini telah semakin baik, kita dapat menggunakan stimulasi otak ini untuk berbagai area baru. Kerjanya semakin  halus dan bisa lebih dikendalikan sehingga bisa dimatikan atau dinyalakan saat dibutuhkan.

“Dalam 10 tahun mendatang akan tercipta berbagai terapi yang menakjubkan – setengahnya saja belum bisa kita bayangkan.”

Sebuah mesin elektronik, yang bernama Orgasmatron, nama yang diambil film Sleeper garapan Woody Allen 1973, sedang dikembangkan oleh seorang dokter di Carolina Utara.

Orgasmatron mengubah sebuah stimulator saraf tulang belakang untuk menghasilkan gairah pada diri perempuan.

Kategori: Cognitive Science · Computer · Electricity

Menjadi Makin Bahagia Dengan Makin Sedikit Seks

Desember 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah survai di Amerika Serikat yang menjaring 1.000 responden berusia 55 sampai 75 tahun menunjukkan bahwa masa pensiun membuat banyak keluarga di AS menjadi lebih bahagia, stres jauh lebih berkurang, tetapi kehidupan seksual makin menurun.

Jajak pendapat yang diadakan AARP The Magazine dan kemudian dikutip msnbc.com memperlihatkan, 96 persen responden mengaku kehidupan mereka kokoh harmonis bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

“Itu hampir 100 persen lho. Saya kira itu adalah salah satu statistik paling mengejutkan yang pernah saya saksikan, terutama karena di situ terlihat orang-orang di usia pensiun menjadi makin bijaksana untuk saling memahami kelemahan masing-masing,” ungkap Nancy Perry Graham, editor AARP The Magazine.

Yang lebih mengejutkan adalah 74 persen responden mengaku hidupnya menjadi lebih bahagia justru ketika mereka pensiun, ketimbang semasa mereka masih bekerja.

“Mayoritas luas mengaku lebih bahagia dan mayoritas lainnya menyebut hubungan mereka semakin kuat sehingga semuanya sangat positif.  Ini kabar besar untuk banyak orang dalam melihat hidupnya ke depan, mengingat hidup orang-orang makin panjang.  Kami tidak sedang membicarakan tahun-tahun selama pensiun, melainkan dekade-dekade semasa pensiun,” sambung Nancy.

Survai yang membidik pasangan-pasangan nikah yang baik salah seorang maupun keduanya sudah pensiun ini menujukkan bahwa pasangan-pasangan bahagia ini menjadi lebih suka melancong, makan di luar, berolahraga, berbakti sosial, menggeluti hobi dan makin kerap berselancar di internet.

Kegiatan hidup sehari-hari lainnya yang meningkat di masa pensiun adalah merawat rumah, menonton televisi dan tidur.

Seks berkurang

Namun, di balik statistik-statistik naik itu, ada juga kecenderungan menurun, yaitu hubungan seks di mana 22 persen responden mengaku kehidupan seksual berkurang di masa pensiun.

Tetapi, para ahli kesehatan seperti Sallie Foley, Direktur Pusat Kesehatan Seksual pada Universitas Michigan, menyebutkan penurunan itu tidak mengejutkan karena aktivitas seksual memang bakal menurun di usia tua karena berbagai alasan khusus.

“Benar lho, orang banyak yang salah sangka mengenai penuaan ini dan salah satu kekeliruaan itu adalah pendapat yang mengatakan semakin tua orang menjadi semakin tidak menyukai seks.  (Padahal) orang tetap menyukai seks, kecuali mereka menghadapi dua faktor yaitu kesehatan dan depresi,” kata  Sallie.

“Itu yang membuat kita mesti bertanya, apakah bekerja bisa menghindarkan depresi?” tambah Sallie.

Untuk itu, Sallie menyarakan tiga langkah bagi mereka yang kehidupan seksualnya menurun, yaitu jangan menunda pekerjaan, berolahraga, dan berkomunikasilah selalu di ranjang meskipun tidak harus selalu dengan berhubungan seks.

Kembali ke hasil survai, lebih dari tigaperempat responden menyatakan romantisme hubungan mereka sekokoh sebelum pensiun, sementara 12 persen mengaku menjadi lebih romantis, dan 30 persen menjadi makin akur, tidak gampang bertengkar.

“Orang semakin menyelami kelemahan dan kekuatan masing-masing.  Mereka seperti berpacaran kembali, menikmati kebersamaan mereka, mengerjakan banyak hal bersama-sama, seperti melancong atau makan di luar bersama,” kata Nancy.

21 persen responden mengaku sering bertengkar selama masa pernikahannya, kemudian naik menjadi 27 persen ketika mereka mulai mempertanyakan masa depan keluarga mereka.

Survai itu juga menunjukkan wanita menjadi kelompok yang paling hirau dengan masa depan keluarganya di mana 24 persen wanita ingin masa kerja yang lebih panjang karena mereka takut kekurangan uang, kehilangan pekerjaan, menguapnya tunjangan kesehatan, atau merasa bosan dan frustrasi ada di rumah terus

Kategori: Cognitive Science · Psychology

Wanita Lebih Memilih Akses Internet Daripada Berhubungan Seks

Desember 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hampir satu dari dua wanita akan lebih suka tidak melakukan aktivitas seksual selama dua pekan ketimbang tanpa akses Internet, demikian menurut survei yang disiarkan Senin.

Sebaliknya, jauh lebih sedikit kaum pria akan memilih tanpa seks, demikian menurut survei atas 2.119 orang dewasa yang dilakukan perusahaan riset online Harris Interactive dan disponsori oleh Intel Corp., perusahaan pembuat chip komputer terbesar di dunia.

Empat puluh enam persen wanita yang diminta pendapatnya dalam jajak pendapat (poll) mengemukakan mereka lebih memilih tanpa seks selama dua minggu daripada tanpa okses ke Internet pada periode yang sama, kata survei tentang “Kepercayaan Terhadap Internet dalam Perekonimian Dewasa Ini”.

Hanya 30 persen kaum pria yang menyatakan mereka lebih suka hubungan yang intim daripada menjelajah dunia maya.

Sebanyak 95 persen dari mereka yang disurvei mengatakan “sangat penting atau agak penting” untuk dapat mengakses Internet.

Sekitar 65 persen responden memberikan peringkat akses Internet di atas pengeluaran lainnya, seperti langganan televisi kabel (39 persen), makan di luar (20 persen), membeli baju (18 persen) atau keanggotaan klub kesehatan (10 persen).

Kebanyakan responden wanita (61 persen) mengatakan mereka lebih senang tak menonton televisi selama dua pekan ketimbang tak mempunyai akses internet seminggu saja.

Menurut Harris Interactive dan Intel, survei tersebut dilakukan pada 18-20 Nopember. Mereka tidak memberikan berapa persen toleransi kesalahan (margin error) hasil survei.

Kategori: Cognitive Science · Computer · Internet · Psychology · Telecomunication

Bali Menjadi Pusat Studi Demokrasi Asia

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bali akan menjadi pusat studi demokrasi di Asia. Hal ini akan terwujud melalui diresmikannya Institute for Peace and Democracy oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, di Kampus Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Rabu (10/12).

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika mengatakan dengan disahkannya Institute for Peace and Democracy maka Pulau Bali mendapatkan satu julukan baru yakni `Island for Peace and Democracy`.

“Pulau Bali sudah mendapat julukan Island of paradise maka dengan diresmikannya Institute for Peace and Democracy maka Bali mendapat julukan baru sebagai Island for Peace and Democracy,” kata Pastika, dalam sambutannya dalam upacara peresmian Institute for Peace and Democracy, di Bukit Jimbaran, Bali, Rabu.

Pastika berharap Bali dapat dijadikan laboratorium hidup untuk pembelajaran kedamaian dan demokrasi di Indonesia untuk dibawa ke seluruh dunia.

“Di Bali, setiap orang terutama yang beragama Hindu akan mengucapkan santi atau damai sebanyak sembilan kali dalam satu hari dengan puja tri sandhya. Maka secara filosofis dan sosiologis Bali telah menerapkan hidup harmoni dan seimbang,” kata Pastika.

Untuk itu Pastika berharap Institute for Peace and Democracy dapat memberi kontribusi nyata atas perdamaian dan demokrasi di dunia khususnya Asia.

Institute for Peace and Democracy merupakan institut hasil kerjasama antara Universitas Udayana dan Departemen Luar Negeri RI. Institut ini merupakan suatu kesatuan dengan Bali Democracy Forum.

“Institut ini akan menjadi wadah untuk melaksanakan ide dan gagasan yang timbul dalam Bali Democracy Forum dalam bentuk pertemuan, dialog, seminar, workshop dan publikasi dalam bidang perdamaian dan demokrasi, ” kata Rektor Universitas Udayana, I Made Bakta.

Bakta juga berharap dengan dibentuknya Institute yang berbasis di Universitas Udayana akan mampu mengembangkan dan mengkaji isu-isu terkait dengan demokrasi dan perdamaian.

Menurut Bakta untuk sementara institute ini akan berada di lantai dua Gedung Rektorat Udayana. Direncanakan akan ke depan Institute for Peace and Democracy akan menempati gedung yang lebih representatif.

Institute ini akan dikelola oleh tim manajemen professional yang terdiri dari akademisi dan praktisi dari Universitas Udayana dan Universitas lainnya di Indonesia serta dari Departemen Luar Negeri RI.

Kategori: Cognitive Science

Bagi Sergei Brin, Ilmu Pengetahuan adalah Pencerahan dan Ketidaktahuan Bukan Berkah

Desember 10, 2008 · 1 Tanggapan

“Sergey Brin, salah satu pendiri Google, yakin bahwa pengetahuan selalu merupakan hal baik—dan (karena itu) mestinya ada lebih banyak lagi pengetahuan yang bisa dibagi.” (The Economist, Enlightenment Man, 6-12/12)

Sebagai salah satu pendiri perusahaan internet terbesar di dunia (Google), Sergey Brin adalah sosok yang besar pengaruhnya, selain sebagai salah seorang terkaya Amerika.

Belum lama ini muncul kisah tentang sosok kelahiran Moskwa 35 tahun silam yang ahli matematika ini. Tanggal 18 September 2008 ia meluncurkan blog pribadi di too.blogspot.com. Dalam posting pertama, Brin—seperti dilaporkan Michael Arrington di situs Techcrunch—tampak bercanda. Namun, dalam posting kedua, ia terdengar serius. Ia bicara tentang perusahaan 23andMe (yang salah satu pendirinya adalah istrinya, Anne Wojcicki). Menurut perusahaan yang bergerak dalam riset DNA ini, ia punya mutasi gen yang terkait dengan penyakit parkinson (G2019S). Dengan itu, Brin termasuk orang yang bisa terkena penyakit parkinson.

Tetapi, laporan kali ini bukan untuk membahas kemungkinan Brin terkena parkinson, melainkan untuk mengupas sikap dan pandangannya tentang keterbukaan informasi dan pengetahuan. Hal ini ia sampaikan dalam Konferensi Zeitgeist yang diselenggarakan Google. Inilah pertemuan eksklusif bagi kaum inteligensia. (Zeitgeist, dari Bahasa Jerman, zeit ’waktu’ dan geist ’semangat’. Selain harfiah berarti ”semangat zaman”, ungkapan ini menguraikan suasana keintelektualan, keberbudayaan, moral, etik, iklim politik satu zaman.)

Di forum ini, mereka yang dikenal sebagai ”pemimpin pemikiran” (thought leaders) dunia berkumpul selama dua hari untuk membicarakan upaya menemukan jalan keluar bagi problem dunia paling berat dengan menerapkan nilai-nilai penalaran dan sains pencerahan yang didukung oleh Google.

Dalam kaitan penemuan 23andMe, salah seorang hadirin Pertemuan Zeitgeist menanyakan, apakah mengetahui dirinya berpotensi terkena parkinson baik atau tidak bagi Brin. Dalam satu hal, orang mengatakan ”Tidak tahu itu merupakan berkah”. Bukankah setelah Brin tahu tentang gen parkinson, ia akan hidup dilanda kecemasan?

Mendapat pertanyaan itu, Brin pertama-tama menyampaikan, ”Siapa yang cemas?” Toh yang ia sampaikan hanyalah statistik bahwa untuk orang seperti dirinya, peluang mendapat parkinson adalah 20 persen hingga 80 persen. Itu saja.

Selebihnya, dengan mengetahui adanya kans sebesar itu, ia justru lalu mengambil langkah agar bisa terhindar dari penyakit tersebut. Ia, seperti dikutip The Economist di atas, menyebutkan bahwa olahraga membantu (mencegah parkinson).

Arti pengetahuan

Dengan uraiannya tentang peluang terkena parkinson, baik di blog pribadinya maupun di Konferensi Zeitgeist, Sergey Brin ingin menegaskan bahwa pengetahuan itu baik dan selalu lebih baik dari ketidaktahuan.

Berbekal pandangan itu, Brin lalu mendanai dan mendorong dilakukannya riset terhadap mutasi gen yang juga disebut dengan nama LRRK2 dan juga terhadap penyakit parkinson.

Sebagai tokoh internet terkemuka, Brin lalu memperlakukan gen tadi sebagai penyakit (bug) pada kode personalnya, jadi tidak ada bedanya dengan bug di komputer yang setiap hari dibereskan oleh teknisi Google. Brin—selain melakukan upaya mendahului (pre-emptive)—juga mengembangkan semangat berbagi. Dengan menolong dirinya sendiri, ia lalu bisa menolong orang lain.

Selain menjunjung pengetahuan, dalam sikap Brin juga terkandung pencerahan, hal yang tecermin dari visi yang kemudian juga dijadikan moto Google, yakni membuat semua informasi di dunia ini ”bisa diakses dan dimanfaatkan secara universal”. Bersama dengan mitranya, pendiri Google lainnya, Larry Page, kedua tokoh ini terus berupaya membawa semua informasi ke internet.

Daya transformatif

Dalam hidup, kita juga pernah mendengar kalimat bijak yang menyebutkan, ”berbeda dengan uang, ilmu yang dibagikan tak akan habis, tapi malah bertambah”. Dengan caranya, Brin tampak meyakini makna penyebaran pengetahuan.

Kisah Google sendiri sebelum ini telah ditulis oleh David Vise dan Mark Malseed dalam buku The Google Story (2006).

Dari kesehatan, Google dan kedua pendirinya juga mencoba berbuat untuk kebajikan lain. Di China mereka sepakat untuk menyensor hasil pencarian melalui mesin pencari Google. Mungkin itu untuk menyenangkan pihak Komunis, tetapi mereka berpandangan hal itu dilakukan dengan keyakinan bahwa di luar informasi yang disensor, warga China akan bisa mendapatkan informasi lebih banyak, dan itu akan membuat mereka lebih sejahtera.

Dalam Konferensi Zeitgeist, Brin mengumumkan, biarkan setiap orang menemukan genomnya masing-masing, lalu nyamanlah untuk berbagi kode yang diperoleh tadi agar pihak lain—pasien, dokter, dan peneliti—bekerja memecahkan sandi dan menemukan biang kerok (bug).

Semangat zaman yang diusung Brin bercorak keterbukaan informasi, yang diharapkan bisa memacu terbentuknya masyarakat berbasis pengetahuan. Untuk tujuan pragmatis, hal itu dimaksudkan agar masyarakat tersebut lebih berdaya saing. Namun, Brin tak menyinggung soal ini. The Economist juga mengaitkan Zeitgeist ala Brin lebih dalam konteks pencerahan

Kategori: Cognitive Science · Computer · Health · Internet · Math · Web Development

Bunuh Diri Karena Ketiadaan Cinta dan Dukungan

Desember 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Psikolog yang juga pengajar di FKIP Universitas Lampung (Unila) Diah Utaminingsih, mengatakan maraknya aksi bunuh diri diantaranya karena kehilangan dukungan sosial dan kegagalan mendapatkan cinta dan perhatian baik dari pasangan maupun lingkungan.

“Umumnya pelaku bunuh diri adalah remaja dan orang dewasa, bahkan mereka pun berpendidikan. Hal itu diantaranya karena tidak adanya faktor protektif, cinta dan kehilangan dukungan sosial,” kata dia, di Bandarlampung, Kamis.

Ia mencontohkan, kasus ayah bunuh istri dan anak di Jawa Timur, kemudian bunuh diri, dari keterangan beberapa saksi pelaku sebagai sosok ramah dan pandai bergaul yang mendadak menjadi pendiam karena faktor kehilangan dukungan sosial.

Artinya, ketika mendapatkan suatu masalah tidak bisa membagi ke orang lain yang dapat memberikan solusi karena seluruh lingkungan sudah membenci dia.

Selain itu, sebagai orang dewasa dituntut harus mandiri, mampu menanggung konsekuensi tanpa menyalahkan orang lain dan karena kurang berhasilnya dalam kehidupan sosial (mungkin disebabkan karena terlalu berfokus pada diri sendiri), ia merasa dilabel oleh lingkungan pribadi yang gagal, sehingga jalan pintas yang diambil adalah bunuh diri.

Terkait mengajak atau membunuh orang lain, seperti yang juga terjadi di Lampung beberapa hari lalu seorang ayah sebelum bunuh diri membunuh kedua putranya, Diah mengatakan dari perspektif ilmu psikologi seseorang yang ingin bunuh diri ada tiga yakni mempunyai sifat untuk membunuh, dibunuh dan mati.

“Sehingga, punya keinginan untuk membunuh orang lain terlebih dahulu sebelum bunuh diri,” katanya.

Menurut Diah, yang juga mantan atlet senam itu, pada kasus ayah membunuh anak kemudian bunuh diri, bisa saja adanya kekecewaan, yakni selama ini telah melaksanakan tugas sang istri, kemudian mendapat label tidak menyenangkan dari lingkungan.

Ketika berkumpul kembali dengan istri, keinginan yang diharapkannya tidak tercapai, sehingga membunuh anak-anak sebagai tanggungjawabnya selanjutnya bunuh diri.

Sementara pada kasus remaja bunuh diri, biasanya pelaku hanya ingin protes terhadap orang-orang di sekitarnya, bahwa tidak ada yang menyayanginya.

“Maka, beberapa kasus sering ditemukan remaja mencoba bunuh diri dan masih dapat diselamatkan, karena pelaku sebenarnya tidak ingin mati hanya berusaha untuk selalu menjadi pusat perhatian,” kata dia lagi.

Psikolog itu menambahkan, umumnya pelaku bunuh diri adalah sosok pribadi yang ramah dan pandai bergaul yang mendadak kehilangan dukungan sosial karena terlalu fokus pada diri sendiri hingga akhirnya menjadi pendiam dan pemurung.

Sementara itu, di Lampung dalam dua hari terakhir terjadi aksi bunuh diri yakni seorang ayah sebelum bunuh diri, membunuh kedua putranya yang masih berusia sembilan dan delapan tahun. Ketiganya ditemukan tewas tergantung.

Kemudian, seorang yang diduga waria, bunuh diri juga dengan cara mengikat lehernya dan menggantungkan ke bagian rumah, dan sempat membawa keponakannya dengan cara digantung.

Namun, keponakannya tersebut sempat tertolong sehingga selamat.

Kategori: Cognitive Science · Health · Psychology

Remaja Amerika Serikat Banyak Yang Suka Berbohong, Menyontek dan Mencuri

Desember 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu studi menunjukkan bahwa remaja Amerika Serikat ternyata berada pada “tingkat yang tidaka diduga-duga” dalam hal berbohong, mencuri dan menyontek.

Hasil penelitian atas hampir 30.000 siswa sekolah menengah itu merupakan sesuatu yang pertanda jelek bagi mereka saat menjadi orang tua, jenderal, wartawan, staf eksekutif perusahaan, polisi dan dan politikus generasi mendatang, ungkap lembaga nirlaba Josephson Institute.

Dalam “2008 Report Card on the Ethics of American Youth”, organisasi yang berpusat di Los Angeles tersebut, menyatakan jawaban para remaja itu atas pertanyaan mengenai berbohong, mencuri dan menyontek, mengungkapkan kebiasaan mengenai ketidakjujuran yang menjadi akar angkatan kerja masa depan.

Anak laki-laki didapati berbohong dan mencuri lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.

Secara keseluruhan, 30 persen siswa mengaku mereka mencuri dari satu toko dalam waktu satu tahun terakhir, naik dua persen dari 2006.

Lebih dari sepertiga anak laki-laki (35 persen) mengatakan mereka pernah  mencuri barang, sedangkan anak perempuan yang mencuri berjumlah 26 persen.

Sebesar 83 persen siswa sekolah agama, swasta maupun negeri, mengaku berbohong pada orang-tua mereka mengenai sesuatu yang penting, jumlah lebih rendah yaitu 78 persen didapat dari siswa sekolah non-agama yang independen.

“Menyontek di sekolah terus merebak dan bertambah parah,” kata studi tersebut. Di antara mereka yang ditanyai, 64 persen mengatakan mereka telah menyontek dalam tes, dibandingkan dengan 60 persen pada 2006. Dan 38 persen menyatakan mereka telah melakukannya dua kali atau lebih.

Kendati tak ada perbedaan jenis kelamin yang mencolok dalam masalah menyontek saat ujian, siswa dari sekolah independen nonagama memiliki angka menyontek paling rendah, 47 persen, dibandingkan dengan 63 persen siswa yang belajar di sekolah agama.

Studi itu memperingatkan, “Jumlah ini memang buruk, dan tampaknya  menggarisbawahi tingkat ketidakjujuran yang diperlihatkan oleh kaum muda Amerika.”

Lebih seperempat siswa (26 persen), katanya, mengakui mereka telah berbohong setidaknya satu atau dua kali mengenai pertanyaan jajak pendapat tersebut.

“Meskipun tingkat ketidakjujuran ini tinggi, anak-anak ini memiliki citra-diri yang juga tinggi ketika sampai pada masalah etika,” katanya.

Sebanyak 93 persen siswa menyampaikan kepuasan dengan etika dan watak mereka sendiri, dan 77  persen mengatakan, “Ketika sampai pada masalah melakukan apa yang benar, saya lebih baik dibandingkan dengan yang diketahui kebanyakan orang

Kategori: Cognitive Science · Psychology

Mari Belajar Dari Semut Agar Tidak Macet Saat Berkendaraan

November 26, 2008 · 2 Tanggapan

Pernahkah Anda terpesona oleh kemampuan semut naik-turun merayapi jalan sempit tanpa pernah baku tabrak?.

Tim ilmuwan dari Jerman mencari tahu bagaimana semut-semut itu bisa menghindari bertabrakan, dengan maksud agar lalu lintas gaya semut itu bisa diterapkan untuk lalu lintas jalan raya.

Para ilmuwan itu membangun “rumah semut” istimewa yang dilengkapi dengan jalan, jembatan dan berbagai bentuk kota semut, kemudian melakukan pengamatan sistem lalu lintas serangga tersebut untuk dimasukkan dalam komputer.

Dirk Helbing bersama tim dari Institut Teknologi Dresden itu merancang jalan bebas hambatan dengan dua arah dari sarang semut menuju ke kolam sirup gula, demikian menurut laporan yang sudah disiarkan oleh New Scientist.

Seperti yang sudah diduga, jalur sempit yang disiapkan dengan segera menjadi macet, namun apa yang membuat para ilmuwan itu terkesima adalah tepat sebelum jalur itu tersumbat, semut-semut yang keluar dan masuk saling menyilang untuk menciptakan jalur baru sehingga tidak terjadi kemacetan.

Para peneliti Jerman itu menerapkan hasil studinya dari serangga tersebut untuk menciptakan model pada komputer guna merancang jaringan jalan yang lebih rumit.

Mereka menemukan fakta bahwa semut-semut itu melakukan hal yang sama, yaitu semut yang akan masuk beralih untuk melewati jalur yang lebih sepi dan meskipun jalur tersebut lebih panjang, mereka tetap dapat mencapai ke pusat makanan dengan cepat dan praktis.

Cara itu sedang dipelajari untuk mengungkapkan bagaimana para semut tersebut menyebarkan informasi laporan lalu lintas antar mereka.

Menurut para ahli itu, jika mereka sudah bisa mengungkapkan misteri tersebut, mungkin manusia akan bisa melakukan tukar informasi ketika berlalu lintas dengan jalur jalan dua arah guna menghindari jalan macet, demikian DPA melaporkan

Kategori: Biology · Cognitive Science · Transportation

Orang Tidak Bahagia Lebih Lama Nonton TV Daripada Orang Bahagia

November 17, 2008 · 1 Tanggapan

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang hidupnya tak bahagia menghabiskan sebagian waktu luangnya dengan menonton televisi. Mereka berada di depan televisi 30 persen lebih banyak dibanding orang yang kehidupannya menyenangkan.

“Orang tidak bahagia makin banyak menonton TV diwaktu senggang sedangkan orang yang “sangat bahagia” akan banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran dan buku ilmu pengetahuan” kata sosiolog Universitas Maryland, John P. Robinson. Robinson adalah salah satu penyusun penelitian itu dan perintis berbagai penelitian pemanfaatan waktu dan seorang ahli sosiologi di University of Maryland, College Park, Amerika Serikat

Tingkat pendidikan, pendapatan, usia, dan status perkawinan tidak mempengaruhi hasil penelitian itu. Sebagai tambahan, orang berbahagia memiliki kehidupan yang lebih aktif seperti senang olahraga, jalan kaki ataupun bekerja hingga melakukan pekerjaan rumah sendiri, sering mengikuti kegiatan religius, gemar memberikan amal dan sedekah, dan lebih sering membaca koran dan buku ilmu pengetahuan dibanding tetangga mereka yang hidupnya kurang menyenangkan.

Penemuan yang diumumkan pada Kamis lalu itu adalah hasil survei terhadap hampir 300 ribu orang dewasa Amerika yang dilakukan antara 1975 dan 2006 sebagai bagian dari survei sosial umum. Survei itu menunjukkan bahwa orang yang hidup bahagia menonton televisi sekitar 10 jam per minggu. Sebaliknya, orang tak bahagia menghabiskan 25 jam per minggu.

Menurut para peneliti di University of Maryland, menghabiskan waktu dengan menonton televisi akan membantu menyenangkan penonton tapi hanya sesaat dan tidak banyak dampak positifnya untuk jangka panjang. Studi yang dilakukan para sosiolog itu akan dimuat di jurnal “Social Indicators Research”.

Rasa bahagia yang didapat dari acara televisi tidak berlangsung selamanya. “Data ini mengungkap bahwa TV memberikan kesenangan jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru membawa depresi,” kata John Robinson.

Dalam skenario itu, bahkan seorang yang paling bahagia pun bisa berubah menjadi orang paling menyedihkan bila mereka terus-menerus memelototi televisi. Kesimpulan studi tersebut adalah hasil dari analisa terhadap penelitian-penelitian pemanfaatan waktu berdasarkan data nasional sepanjang 30 tahun. Studi itu juga melanjutkan hasil survai serangkaian sikap sosial. .

“TV itu lebih pasif dan bisa jadi pelarian – khususnya pada saat beritanya sedang tidak menyenangkan sebagaimana keadaan ekonomi. Data menyarankan kita bahwa kebiasaan menonton TV bisa memberi kesenangan sesaat tapi merugikan untuk jangka panjang.”

Berdasarkan data survai pemanfaatan waktu, Robinson memperkirakan orang akan semakin banyak menonton TV seiring ekonomi kian memburuk.

Menurut penelitian tersebut, orang yang tidak bahagia 20 persen lebih banyak menonton televisi dibandingkan orang yang sangat bahagia. Menurut data tersebut, TV dipandang sebagai sesuatu yang “gampang” dan nyaman untuk menikmatinya tidak perlu beranjak, berdandan, merencanakan terlebih dulu, mengeluarkan energi, dikerjakan dahulu, atau keluar uang.

“Anda jadi mengerti alasan orang Amerika menghabiskan lebih dari setengah waktu senggang mereka untuk menonton televisi,” kata para peneliti tersebut. Kesimpulan lainnya adalah menonton televisi mirip dengan ketagihan. “Orang yang paling gampang ketagihan adalah yang cenderung punya masalah pribadi.

Kategori: Cognitive Science · Health · Psychology

Mengayunkan Bayi Bisa Merusak Otak

November 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Orang tua yang emosi dengan tangisan anak, harus berpikir ulang sebelum bertindak kasar yang mengakibatkan penyesalan. Menguncang-guncang bayi menangis ternyata dapat menyebabkan kerusakan otak yang parah bahkan kematian.

DPA mengutip asosiasi dokter anak se-Jerman yang mengemukakan bahwa orang tua yang sedang emosi kepada anaknya harus segera meninggalkan ruangan atau menghitung hingga angka 10 lalu menghirup nafas dalam-dalam.

Seorang dokter anak dapat menyarankan klinik rawat jalan terdekat untuk menggampangkan hubungan orang tua dengan “bayi yang sulit”.

Rata-rata sekitar 100 bayi di Jerman setiap tahun mengalami kerusakan parah di otak karena mereka diguncang-guncang pengasuhnya, yang hampir di semua kasus, “terlalu terbebani”.

Laporan mengenai angka tersebut berdasarkan sensus dari unit penyakit langka anak-anak di Jerman.

Asosiasi dokter anak di Jerman memperkirakan angka bayi yang mengalami trauma akibat diguncang-guncang, sebenarnya lebih tinggi lagi.

Para ahli mengemukakan bahwa faktor risiko atau pemicu trauma diguncang-guncang adalah tangis yang sejadi-jadinya. Kerusakan otak akibat terlalu kuatnya guncangan adalah penyebab terbesar kematian anak berusia enam hingga 12 bulan.

“Kepala bayi secara proporsional lebih besar dan posisi otak relatif lebih tinggi dengan jumlah cairan yang banyak,” kata profesor Hans-Juergen Nentwich, anggota dewan direktur asosiasi tersebut.

“Guncangan keras selama lima detik saja sudah cukup untuk merusak fungsi-fungsi otak.”

Robeknya pembuluh darah dan saraf menyebabkan pendarahan dan kerusakan pada otak.

Lebih dari dua pertiga anak yang mengalami trauma guncangan mengalami kerusakan penglihatan secara permanen, tuli dan bisu. Seperempat dari jumlah itu meninggal akibat cedera tersebut, kata Juergen Nentwich.

Kategori: Biology · Cognitive Science