Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Biology’

Menciptakan Energi Alternatif Lewat Rambut

Juni 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penelitian tentang pembuatan energi yang murah, hemat dan ramah lingkungan terus dikembangkan. Seperti yang dilakukan Milan Karki (18). Remaja yang tinggal di sebuah desa di Nepal. Ia menemukan tipe panel solar baru yang terbuat dari rambut manusia. Dan ia meyakini penemuannya merupakan solusi untuk pemenuhan energi dunia.

Dituturkan Milan, rambut sangat mudah digunakan menjadi konduktor dalam sebuah panel solar dan bisa memperbarui energi yang dikeluarkannya.

“Awalnya saya ingin menyediakan listrik di kediaman saya, lalu di desa tempat tinggal saya. Kini saya berpikir untuk seluruh dunia,” ujar Milan yang bersekolah di ibukota Kathmandu.

Dijelaskan Milan, rambut tersebut menggantikan silikon, yang komponennya hampir sama digunakan pada panel solar. Artinya panel bisa dibuat dengan biaya rendah bagi mereka yang memiliki sambungan listrik.

Di Nepal, banyak area pedesaan yang tidak memiliki sambungan listrik. Meski di beberapa tempat sudah diterangi listrik, namun pemakaiannya hanya dibatasi 16 jam per hari. Nah, awalnya Milan dan empat temannya membuat panel solar tersebut sebagai sebuah percobaan. Mereka meyakini penemuan ini bisa diaplikasikan dan berkembang lebih lanjut.

“Saya mencoba memproduksinya secara komersial dan mendistribusikan di wilayah tempat tinggal saya. Saat ini tengah dilakukan percobaan agar bisa diketahui segala kemungkinannya,” jelas Milan.

Solar panel tersebut menghasilkan energi sebesar 9 V (18 W), dan untuk membuatnya butuh biaya sekitar Rp 379.500. Tapi jika diproduksi secara missal, menurut Milan, harga jualnya bisa mencapai separuh atau bahkan seperempat dari modal awal yang diperlukan untuk membuatnya.

Melanin, pigmen yang memberikan warna pada rambut, sangat sensitif terhadap cahaya. Ia juga bisa berfungsi sebagai konduktor. Apalagi rambut jauh lebih murah dibanding silikon, sehingga biaya untuk membuatnya bisa diminimalisir. Solar panel ini juga bisa untuk mengisi baterai ponsel maupun penyedia listrik sepanjang malam.

Milan mulai tertarik dengan bidang elektronika ketika ia masih kanak-kanak. Waktu itu ia tinggal Khotang, sebuah wilayah pedalaman di Nepal yang tidak tersentuh listrik sama sekali. Ketika ia menemukan panel solar tersebut, warga desa banyak yang meragukan keberhasilannya.

“Mereka lebih percaya keajaiban dibanding pengetahuan. Namun mereka kini percaya,” kata Milan.

Untungnya pihak keluarga terus mendukung keyakinan yang dimilikinya. Maklum saja, latar belakang keluarga Milan berasal dari kalangan terdidik. Sementara warga desa lainnya tidak mendapat pendidikan yang layak, bahkan dipaksa bekerja sejak anak-anak.

Milan mengaku penemuannya terinspirasi buku Stephen Hawking yang dibacanya. Dalam buku tersebut dijelaskan cara membuat energi statis dari rambut. Dan ia pun tergoda untuk mencobanya. “Ini merupakan solusi mudah atas krisis energi yang kami alami saat ini. Yang terpenting sekarang memikirkan masa depan sembari menjaga bumi ini tetap hijau dengan menggunakan bahan-bahan alami,” tegasnya.

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy

Spesies Baru Yang Tahan Radiasi dan Mampu Hidup Dalam Air Mendidih Ditemukan

Maret 28, 2009 · 1 Tanggapan

Beberapa ilmuwan India menemukan mikroorganisme baru dinamai “extremophiles” yang dapat bertahan hidup dalam air mendidih dan radiasi sinar ultraviolet, lapor tabloid Mail Today baru-baru ini.

Para ilmuwan menemukan mikroorganisme itu pada ketinggian 40 kilometer di atas permukaan Bumi.

Upaya itu pelopori ilmuwan dari Pusat Sel dan Mikrobiologi di kota Hyderabad, India Selatan, S. Shivaji, yang telah meneliti bakteri di Antartika, Kutub Utara dan Gletser Himalaya.

“Ketiga spesies baru yang ditemukan sekarang dapat dibedakan dari semua spesies yang sejauh ini dilaporkan ada dalam catatan ilmiah,” kata surat kabar itu mengutip Shivaji.

Bakteri itu dapat bertahan pada dosis lebih tinggi radiasi ultravioalet, tumbuh dalam kondisi gizi rendah, dan memiliki susunan asam lemak yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Spesies baru itu diisolasi setelah analisis luas mengenai contoh udara yang dikumpulkan dari atmosfir daerah yang lebih tinggi. Semua contoh dikumpulkan dari ketinggian antara 20 – 41,4 kilometer pada April 2005, tapi temuan baru terjadi belum lama ini.

Para ilmuwan mengatakan sulit untuk meramalkan bagaimana bakteri dapat bertahan hidup di lingkungan yang rendah oksigen semacam itu.

Penelitian “extremophile” ini sendiri menimbulkan pertanyaan mengenai kelangsungan hidup bentuk kehidupan dan dapat mengarah kepada pengenalan lebih lanjut mengenai rangkaian baru dan menemukan beragam penerapan produk yang berlandaskan bioteknologi

Kategori: Biology · Genetics

Dinosaurus Ayam Yang Ganas Bagaikan Raptor

Maret 18, 2009 · 1 Tanggapan

Ukurannya memang hanya sebesar ayam, namun jenis dinosaurus yang baru dideskripsikan fosilnya ini kelihatannya garang. Dengan taring tajam dan panjang, makhluk tersebut diperkirakan seganas velociraptor dengan cakar di ujung jari-jarinya.

Sejauh ini, spesies itu merupakan dinosaurus pemakan daging alias karnivora yang paling kecil di Amerika Utara. Rekor sebelumnya sebesar serigala. Berat tubuhnya hanya sekitar setengah kilogram.

“Mungkin berburu dan makan apapun yang dapat diraihnya sesuai ukurannya, serangga, mamalia, amfibi, dan mungkin bayi dinosaurus lain,” ujar Nicholas Longrich dari Universitas Calgary Kanada yang melaporkannya dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.

Dinosaurus tersebut diperkirakan hidup di kawasan rawa dan hutan basah di Amerika Utara 75 juta tahun lalu. Temuan dinosaurus berukuran kecil di Amerika Utara termasuk jarang. Fosilnya telah ditemukan sejak seperempat abad lalu namun selama ini teronggok di gudang museum.

Para peneliti memberi nama Hesperonychus elizabethae untuk menghormati Elizabeth “Betsy” Nicholls, paleontolog yang mengumpulkan spesimen dinosaurus tersebut. Sementara Hesperonychus berarti cakar barat istilah untuk cakar panjang berbentuk sabit.

Kategori: Archeology · Biology

Fosil Burung Raksasa Bergigi Ditemukan Di Peru

Maret 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah fosil tengkorak burung laut raksasa berusia 10 juta tahun ditemukan di pantai selatan Peru. Paruhnya tidak hanya masih terlihat utuh, tetapi dilengkapi gigi.

Menurut Kepala Paleontologi Vertebrata Museum Sejarah Nasional Peru Rodolfo Salas, fosil ini berasal dari keluarga Pelagornithid. Keluarga burung ini dipercaya telah punah 3 juta tahun yang lalu.

Rodolfo menambahkan bahwa burung tersebut diperkirakan memiliki rentangan sayap mencapai 6 meter. Makanannya adalah ikan-ikan kecil dan cumi-cumi. Gigi di sepanjang paruhnya mungkin digunakan untuk mencengkeram tubuh mangsanya yang licin.

Sementara itu, Dan Kepska, paleontolog dari North Carolina State University, AS, mengatakan bahwa fosil ini juga ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, dan Antartika. Beberapa orang meyakini bahwa fosil ini berhubungan dengan pelikan, bebek, atau burung laut raksasa lainnya.

Ken Campbell, kurator Museum Sejarah Los Angeles, mengatakan, penemuan fosil di Peru ini niscaya menjadi penemuan penting untuk mengetahui misteri burung raksasa ini. Temuan tersebut juga membantu mempelajari fosil-fosil Pelagornithid yang ditemukan di tempat-tempat lain.

Dengan ditemukannya fosil kepala burung di pantai selatan Lima ini, membuat daerah ini semakin dikenal sebagai tempat penemuan fosil binatang laut. Fosil lain yang telah ditemukan adalah fosil paus, lumba-lumba, dan penyu yang umurnya mencapai 14 juta tahun yang lalu.

Kategori: Archeology · Biology

Indonesia Mengembangkan Teknologi Bioteknologi Rumput Laut

Maret 9, 2009 · 1 Tanggapan

Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) mengembangkan bioteknologi berasal dari rumput laut untuk dijadikan energi ramah lingkungan.

“Kita ingin kembangkan bioteknologi memanfaatkan rumput laut untuk energi,” kata Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Widi Agoes Pratikno, kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan Indonesia memiliki sumber daya laut yang berlimpah untuk dikembangkan menjadi energi tergantikan.

Namun, Widi mengatakan Indonesia membutuhkan teknologi dan modal untuk bisa mengembangkan energi dari “deep sea water” tersebut.

“Kebetulan Korea memiliki teknologinya untuk pemanfaatan rumput laut menjadi energi. Jadi kenapa kita tidak coba melakukan kerjasama dengan Korea,” ujar Widi.

Ia juga mengatakan kerjasama kedua negara untuk melaukan pengembangan energi dari rumput laut tentu akan berlanjut pada kerjasama lainnya, seperti pengolahan produk perikanan maupun budidaya.

“Yang penting sudah ada MoU dulu, nanti ke depannya peluang investasi pasti akan mudah,” ujar dia.

Sementara itu, Presiden Korea Institute of Industrial Technology (Kitech), Kyoung-Hoan Na mengatakan, kerjasama dua negara diawali dengan penandatanganan MoU untuk melakukan riset pengembangan energi ramah dari rumput laut.

Pilihan kerjasama jatuh ke Indonesia karena Indonesia memiliki sumber daya alamnya yakni rumput laut sedangkan Korea memiliki terknologinya.

“Jadi kita akan membawa teknologinya, Indonesia menyediakan sumber daya alam dan sumber daya manusianya,” tambah dia.

Kategori: Biology · Genetics

Kotoran Ikan Ternyata Seperti Pupuk Yang Sehatkan Lautan

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau ditanya hewan apa yang paling banyak hidup di lautan, tentu jawabnya adalah ikan. Menurut para ilmuwan ternyata ikan pula yang menentukan baik tidaknya kualitas air laut. Kotorannya ternyata mengendalikan siklus karbon di air laut sehingga tahan terhadap perubahan iklim.

Pemodelan komputer menunjukkan bahwa populasi ikan menghasilkan kotoran yang mengandung karbon anorganik kalsium karbonat dalam kadar tinggi yang bermanfaat untuk mengendalikan keasaman air laut. Selain mengendalikan keasaman, kalsium karbonat yang berwujud putih seperti kapur juga berguna untuk mendukung ekosistem laut dan pembentukan terumbu karang.

“Senyawa tersebut membantu pengendalian jumlah karbon dioksida yang diserap lautan dari atmosfer pada masa depan,” ujar Villy Christensen dari University British Columbia yang melaporkan penelitiannya dalam jurnal Science teranyar seperti dilansir Reuters.

Selama ini, sumber kalsium karbonat hanya diketahui berasal dari organisme renik plankton. Namun, ternyata kotoran ikan menyumbang 3-15 persen kalsium karbonat di laut atau sekitar 110 juta ton per tahun. Itu pun baru populasi bony fish, sekelompok ikan yang tubuhnya bertulang keras saja. Bony fish mewakili 90 persen populasi ikan di samudera. Hiu dan pari tidak masuk dalam kelompok ini.

“Populasi bony fish yang diperkirakan antara 812 juta hingga 2 miliar ekor menekan dampak perubahan iklim melalui siklus karbonnya,” ujar Christensen. Karena dampak perubahan iklim terus meningkat, peranan ikan akan semakain besar dalam mengendalikan siklus kimia lautan di masa depan.

Kategori: Biology · Environment

Ikan Pemanjat Tebing dari Venezuela

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seekor ikan yang hidup di pedalaman hutan tropis Venezuela, Amerika Latin, tidak hanya baru bagi dunia sains. Ikan sapu-sapu yang diberi nama ilmiah Lithogenes wahari itu sangat unik dibandingkan ikan pada umumnya karena punya kemampuan memanjat tebing.

Ikan tersebut dapat merayap di lereng atau batuan yang tegak lurus sekalipun menggunakan sirip khas di badannya. gerakannya menjadi lebih mantap karena bagian luar kepala dan ekornya dilapisi kulit yang keras. Spesies tersebut memang mewarisi sifat-sifat dua kelompok sapu-sapu (catfish), yakni genus Loricariidae (lele bertubuh keras) dan Astroblepidae (lele pemanjat).

Seperti kedua genus sapu-sapu itu, spesies baru dari Venezuela ini juga memiliki mulut yang dapat mengisap yang berguna saat ia memanjat. Keberadaannya sebenarnya sudah diketahui sejak 20 tahun lalu, tapi baru diteliti lebih lanjut belakangan ini.

“Ikan tersebut sangat aneh dari sisi morfologi sehingga tidak cocok dengan kategori taksonomi yang sudah kami ketahui,” ujar Scott Schaefer dari Museum Sejarah Nasional Amerika. Dia dan timnya memastikannya sebagai spesies baru setelah mengumpulkan 84 spesimen yang ditemukan saat menempel di batu di Rio Cuao yang merupakan anak Sungai Rio Orinoco.

Kategori: Biology

Tips dan Cara Agar Nyamuk Tak Sebarkan Demam Berdarah

Januari 10, 2009 · 3 Tanggapan

Memasuki musim hujan, serangan penyakit demam berdarah dengue patut diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu telah menelan banyak korban.

Namun, segala upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit itu masih kurang efektif.

Di tengah ketidakberdayaan melawan demam berdarah dengue di berbagai negara tropis di dunia, sekelompok peneliti Australia didanai miliarder Bill Gates mengklaim telah menghasilkan riset yang dapat membantu memerangi DBD dengan cara menghentikan jalur penularan penyakit itu.

Mereka berhasil menginfeksi nyamuk penyebar penyakit tropis itu dengan bakteri Wolbachia sehingga kemampuannya menularkan dengue ke manusia berkurang.

Caranya, dengan menginfeksi nyamuk pembawa penyakit itu dengan parasit yang memperpendek masa hidup nyamuk itu. Dalam paparan hasil penelitian pada jurnal Science dijelaskan, bakteri Wolbachia menyebar dengan baik melalui uji laboratorium pada nyamuk-nyamuk yang berkembang biak.

Dengue hanya dibawa nyamuk dewasa sehingga membunuh mereka bisa memutus mata rantai penularan DBD. Mereka telah menginfeksi 10.000 embrio nyamuk dengan bakteri itu. Tes itu untuk melihat sejauh mana bakteri itu bisa mengurangi masa hidup serangga tanpa membunuhnya atau mencegah perkembangbiakan mereka

Para peneliti dari Universitas Queensland di Brisbane, Australia, mengambil strain yang dikenal dengan nama Wolbachia untuk memperpendek masa hidup nyamuk vektor DBD. Nyamuk yang membawa virus dengue tak secara alami rentan terhadap bakteri sehingga peneliti membuat nyamuk beradaptasi agar infeksi itu berhasil.

Bakteri itu dapat menyebar dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada keturunannya. Hal ini bisa memperpendek masa hidup nyamuk itu dan embrionya.

Penentuan apakah hal itu dapat menghilangkan nyamuk pembawa virus merupakan tantangan tersendiri. Virus itu menyerang manusia saat nyamuk membawa virus tersebut dalam darah. Selama ini pemberantasan nyamuk dilakukan dengan insektisida, tetapi hal ini bisa menimbulkan resistensi nyamuk terhadap paparan bahan kimia.

Potensi Wolbachia sebagai satu jalan pengendalian populasi nyamuk cukup menjanjikan. Studi terakhir menawarkan harapan—meskipun di bawah kondisi laboratorium—bahwa hal itu kemungkinan berjalan efektif. ”Kuncinya adalah hanya nyamuk berusia sangat tua yang dapat menularkan penyakit itu,” kata Prof Scott O’Neill, peneliti.

Ini berarti hanya nyamuk dewasa yang berbahaya bagi manusia dan dengan membunuh nyamuk-nyamuk itu akan mengurangi kemampuan mereka menginfeksi. Upaya ini dinilai jalan murah untuk mengatasi masalah itu, khususnya di daerah urban saat metode lain pengendalian penyakit itu sulit dilakukan

Kategori: Biology · Environment · Health

Jepang Kloning Sapi Legendaris Sebelum Mammoth

Januari 10, 2009 · 1 Tanggapan

Memasuki Tahun Sapi (Year of Ox) di awal tahun 2009 ini, para ilmuwan Jepang mengumumkan kesuksesannya mengkloning sapi legendaris khas Jepang. Keberhasilan tersebut tidak sekadar prestasi baru penelitian bioteknologi di Jepang, tetapi membuka kesempatan untuk menyediakan stok pangan berkualitas yang terjamin di masa depan.

Jenis sapi yang berhasil dikloning adalah Hida-gyu yang merupakan sapi khas Prefektur Gifu, bagian tengah Jepang. Para peneliti dari Universitas Kinki dan lembaga riset peternakan Gifu berhasil menghasilkan empat ekor sapi kloning antara November 2007 dan Juli 2008. Namun, hanya dua ekor yang bertahan hidup sampai sekarang.

Keempat sapi kloning tersebut dikembangbiakkan dari sel testikel seekor sapi legendaris yang diberi nama Yasufuku yang merupakan cikal bakal sapi Hida-gyu. Testikel tersebut telah dibekukan selama 13 tahun sejak kematiannya.

Keberhasilan kloning sapi Hidqa-gyu ini menjanjikan dunia peternakan Jepang karena jenis sapi tersebut dikenal berkualitas tinggi dan berharga mahal. Pemerintah Jepang telah membentuk panel untuk menilai kelayakan daging kloning untuk konsumsi dan kelihatannya segera mengizinkannya seperti yang dilakukan Pemerintah AS dan negara-negara Eropa.

Namun, para peneliti mengatakan, tujuan utama riset saat ini adalah mempelajari jenis gen dan struktur protein yang membuat daging sapi Hida-gyu lebih lezat. Perlakukan terhadap sapi Hida-gyu memang terkenal unik karena sering kali peternak memberikan makanan sampanye dan secara rutin memijatnya.

Selain meneliti kualitas daging sapi, para ilmuwan Jepang juga menjadikannya batu loncatan sebelum menggapai ambisinya mengkloning hewan-hewan yang telah punah. Antara lain mammoth, sejenis gajah yang hidup di zaman es.

“Mimpi kami menciptakan mammoth, itulah mimpi besarnya,” ujar Kazuhiro Saeki, profesor di Universitas Kinki seperti dilansir AFP. Saat ini para peneliti telah menemukan sumber sel mammoth dari Siberia. Namun, mereka belum berhasil menemukan cara mengekstrak dan menanam inti sel mammoth ke dalam sel telur gajah yang merupakan hewan paling dekat kekerabatannya sebelum menaruhnya ke dalam rahim gajah betina.

Kategori: Biology · Genetics

Gen Virus H9N2 Hong Kong Berasal dari Unggas

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pusat bagi Perlindungan Kesehatan (CHP) Departemen Kesehatan Hong Kong, Rabu, mengumumkan bahwa hasil pengurutan gen virus H9N2 yang didapat dari seorang bayi perempuan menunjukkan semua gen berasal dari unggas.

Bayi perempuan itu, yang berusia dua bulan, dikonfirmasi terinfeksi virus H9N2 –jenis ringan flu unggas– pada Desember tahun lalu. CHP, Rabu, menuntaskan pengurutan gen pada contoh virus yang diambil dari bocah perempuan tersebut.

Juru bicara CHP mengatakan pemeriksaan DNA atas gen itu memperlihatkan bahwa semuanya berasal dari unggas dan belum ditemukan penggolongan kembali dengan gen yang berasal dari influensa manusia.

“Virus tersebut sangat mirip dengan virus H9N2 yang dipisahkan dari kasus lain yang melibatkan anak perempuan berusia sembilan bulan pada 2007,” katanya. Juru bicara itu mengatakan virus tersebut, yang ditemukan pada bayi perempuan itu, sensitif terhadap Tamiflu dan Amantadine, dua jenis obat anti-virus.

Bayi perempuan tersebut masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Tuen Mun karena penyakit itu. Gejala infeksi H9N2 yang dialaminya telah reda dan semua orang yang melakukan kontak langsung dengan dia tak memperlihatkan gejala infeksi H9N2.

“Temuan genetika dan epidemiologi sejauh ini menunjukkan bahwa virus H9N2 tak memperlihatkan tanda mengenai peningkatan risiko penularan dari manusia ke manusia,” kata juru bicara tersebut.

Kategori: Biology · Health