Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Bio Fuel’

Menciptakan Energi Alternatif Lewat Rambut

Juni 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penelitian tentang pembuatan energi yang murah, hemat dan ramah lingkungan terus dikembangkan. Seperti yang dilakukan Milan Karki (18). Remaja yang tinggal di sebuah desa di Nepal. Ia menemukan tipe panel solar baru yang terbuat dari rambut manusia. Dan ia meyakini penemuannya merupakan solusi untuk pemenuhan energi dunia.

Dituturkan Milan, rambut sangat mudah digunakan menjadi konduktor dalam sebuah panel solar dan bisa memperbarui energi yang dikeluarkannya.

“Awalnya saya ingin menyediakan listrik di kediaman saya, lalu di desa tempat tinggal saya. Kini saya berpikir untuk seluruh dunia,” ujar Milan yang bersekolah di ibukota Kathmandu.

Dijelaskan Milan, rambut tersebut menggantikan silikon, yang komponennya hampir sama digunakan pada panel solar. Artinya panel bisa dibuat dengan biaya rendah bagi mereka yang memiliki sambungan listrik.

Di Nepal, banyak area pedesaan yang tidak memiliki sambungan listrik. Meski di beberapa tempat sudah diterangi listrik, namun pemakaiannya hanya dibatasi 16 jam per hari. Nah, awalnya Milan dan empat temannya membuat panel solar tersebut sebagai sebuah percobaan. Mereka meyakini penemuan ini bisa diaplikasikan dan berkembang lebih lanjut.

“Saya mencoba memproduksinya secara komersial dan mendistribusikan di wilayah tempat tinggal saya. Saat ini tengah dilakukan percobaan agar bisa diketahui segala kemungkinannya,” jelas Milan.

Solar panel tersebut menghasilkan energi sebesar 9 V (18 W), dan untuk membuatnya butuh biaya sekitar Rp 379.500. Tapi jika diproduksi secara missal, menurut Milan, harga jualnya bisa mencapai separuh atau bahkan seperempat dari modal awal yang diperlukan untuk membuatnya.

Melanin, pigmen yang memberikan warna pada rambut, sangat sensitif terhadap cahaya. Ia juga bisa berfungsi sebagai konduktor. Apalagi rambut jauh lebih murah dibanding silikon, sehingga biaya untuk membuatnya bisa diminimalisir. Solar panel ini juga bisa untuk mengisi baterai ponsel maupun penyedia listrik sepanjang malam.

Milan mulai tertarik dengan bidang elektronika ketika ia masih kanak-kanak. Waktu itu ia tinggal Khotang, sebuah wilayah pedalaman di Nepal yang tidak tersentuh listrik sama sekali. Ketika ia menemukan panel solar tersebut, warga desa banyak yang meragukan keberhasilannya.

“Mereka lebih percaya keajaiban dibanding pengetahuan. Namun mereka kini percaya,” kata Milan.

Untungnya pihak keluarga terus mendukung keyakinan yang dimilikinya. Maklum saja, latar belakang keluarga Milan berasal dari kalangan terdidik. Sementara warga desa lainnya tidak mendapat pendidikan yang layak, bahkan dipaksa bekerja sejak anak-anak.

Milan mengaku penemuannya terinspirasi buku Stephen Hawking yang dibacanya. Dalam buku tersebut dijelaskan cara membuat energi statis dari rambut. Dan ia pun tergoda untuk mencobanya. “Ini merupakan solusi mudah atas krisis energi yang kami alami saat ini. Yang terpenting sekarang memikirkan masa depan sembari menjaga bumi ini tetap hijau dengan menggunakan bahan-bahan alami,” tegasnya.

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy

Pemerintah Denmark Tertarik Menjalin Kerjasama Efesiensi Energi BBM Dengan Indonesia Karena Sangat Menjanjikan Keuntungan Yang Besar

Maret 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemerintah Denmark mengutarakan ketertarikannya menjalin kerja sama teknologi efesiensi energi atau bahan bakar minyak (BBM) dengan Indonesia khususnya dengan Sumatera Utara, karena daerah itu memiliki potensi sumber daya alam (SDA) pengganti BBM seperti crude palm oil (CPO) yang cukup besar.

Ketertarikan itu disampaikan Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Borge Petersen ketika bertemu gubernur Sumut, H Syamsul Arifin di Medan, Selasa.

Menurut Petersen, Sumut memiliki potensi CPO yang melimpah dan sangat tepat untuk dimanfaatkan sebagai pengganti BBM yang sumber dayanya terus menipis. “Kita punya teknologi efisiensi energi BBM yang sudah dikembangkan dan kiranya teknologi tersebut sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di Sumut,” katanya.

Sumut sendiri tercatat sebagai salah satu produsen CPO terbesar di tanah air. Pada 2006 daerah itu bahkan mengekspor 3,316 juta ton CPO senilai 1.395,44 juta dolar AS lebih, sedangkan pada 2007 Sumut mengekspor sebanyak 1,533 juta ton CPO senilai 1.451,28 juta dolar AS.

Sementara itu, pada 2008 (per-15 Desember) sumut mengekspor sebanyak 1,670 juta ton CPO dengan perolehan devisa mencapai 1.682,64 juta dolar AS.

Pada kesempatan itu Borge Petersen juga menawarkan kerja sama bidang peningkatan kualitas air minum, termasuk teknologi pengolah air limbah dan antisipasi tingkat kebocoran pipa air yang menurut penelitian mencapai 50 persen dari yang didistribusikan ke pelanggan.

Selain itu Pemerintah Denmark juga menawarkan kerja sama peningkatan produktivitas pertanian padi berikut teknologi pembibitannya. “Kami punya teknologi dan pengalaman tentang hal ini. Karenanya melalui kerja sama yang akan dijalin kelak kami berharap pihak swasta bisa dilibatkan untuk lebih menjamin keberhasilannya,” katanya.

Gubernur H Syamsul Arifin mengaku sangat menyambut baik tawaran kerja sama tersebut. “Kita harapkan kabupaten dan kota se Sumut bisa menangkap peluang ini, karena daerah kita sebenarnya punya potensi yang banyak meski dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.

Syamsul juga mengakui alih teknologi yang ditawarkan Denmark harus bisa disikapi dengan positif. “Terus terang saya bersyukur mulai ada pandangan positif pihak luar terhadap Sumut. Besok (Rabu, 18/3) juga akan datang Dubes Kanada dan Srilanka, dan mudah-mudahan kedatangan mereka bisa membawa kebaikan untuk Sumut dan masyarakatnya,” ujarnya.

Kategori: Bio Fuel · Electricity · Energy · Environment

Hasil Riset BPPT Mulai Dilirik Pengusaha dan Kalangan Industri

November 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT mulai dilirik industri. Pemilik perusahaan Ciputra Grup, Ciputra, dan PT Martina Berto, Martha Tilaar, Kamis (6/11), menandatangani nota kesepakatan dengan BPPT untuk mengembangkan riset aplikatif.

”Ciputra Grup mengharapkan riset kantong aspal yang tahan panas sampai 120 derajat Celsius. PT Martina Berto mengharapkan riset pengembangan alat ekstraksi tanaman untuk minyak aroma herbal,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPPT Wahono Sumaryono dalam konferensi pers seusai penandatanganan nota kesepakatan atau letter of intent (LoI) tersebut.

Menurut Wahono, momentum ini mempertemukan inventor (penemu) dengan investor yang jarang terjadi. Selama ini banyak temuan-temuan BPPT yang kurang dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, termasuk kalangan industri. Temuan tersebut merupakan hasil kerja keras periset BPPT yang sekitar 500 orang berjenjang pendidikan doktor dan sekitar 600-700 orang berjenjang pendidikan master.

Harus dipasarkan

Ciputra mengatakan, hasil-hasil riset BPPT jangan cuma didokumentasikan, tetapi harus bisa dikomersialkan. Caranya, bisa saja BPPT menawarkan hasil risetnya ke pasar, atau mencari tahu riset apa yang dibutuhkan pasar. Ciputra tidak menyalahkan sepenuhnya periset yang lebih berorientasi kepada riset, tanpa berorientasi komersial.

”Pendidikan di Indonesia memang lebih suka melahirkan akademisi semata. Seharusnya, juga mendidik entrepreneur yang bisa mengomersialisasikan hasil-hasil riset,” kata Ciputra.

Martha Tilaar mengkritik, selama ini banyak periset sampai tingkat profesor pun masih menyimpan hasil-hasil risetnya sendiri. ”Tidak ada upaya untuk menjadikan hasil-hasil riset tersebut sebagai komoditas yang bermanfaat untuk masyarakat banyak,” ujar dia.

Wahono mengungkapkan, perspektif riset sekarang cenderung terbatas pada kepentingan periset, karena minimnya dana dan infrastruktur. Semestinya dalam kondisi seperti sekarang, riset lebih berorientasi pada kebutuhan pasar.

”Peneliti atau perekayasa masih banyak yang mengejar kepuasan batin semata. Ke depan, ini tinggal diarahkan saja supaya penelitian bisa bersinergi dengan kebutuhan entrepreneur, termasuk kalangan industri, sehingga bisa lebih berguna bagi masyarakat,” kata Wahono.

Paten lama

Menurut Wahono, kendala aplikasi riset untuk menunjang sektor industri terletak pada proses memperoleh paten yang sangat lama. Dalam 10 tahun terakhir, misalnya, BPPT hanya memperoleh 79 paten dari ratusan temuan yang diusulkan patennya.

”Proses pengajuan paten tidak pernah dijawab dengan tegas, bisa atau tidak. Seperti hasil riset saya, sudah delapan tahun tidak pernah jelas bisa memperoleh paten atau tidak,” kata Wahono.

Kesulitan memperoleh paten juga dialami Martha Tilaar. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang dipimpinnya mengusulkan 29 paten, tetapi baru satu paten yang diperoleh.

”Teknologi yang berkembang sangat cepat, semestinya bisa diimbangi dengan proses memperoleh paten yang cepat pula,” kata Martha Tilaar.

Menurut Wahono, pengujian untuk memperoleh paten paling cepat 18 bulan. Waktu ini dinilai terlalu lama

Kategori: Bio Fuel · Biology · Energy · Environment · Food · Gadget · Health · Math · Medicine · Telecomunication · Transportation

Energi Terbaharukan Merintis Bahan Bakar Nabati Generasi Kedua

November 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bahan bakar minyak yang terus menurun kandungannya di perut bumi dibarengi dengan harganya yang cenderung menanjak mendorong penelitian untuk meningkatkan pemanfaataan alternatif energi lainnya. Salah satunya pilihan energi adalah Bahan Bakar Nabati.

Penelitian Bahan Bakar Nabati di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1980-an antara lain oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pada tahap awal penelitian ini telah melibatkan lembaga riset Jepang seperti NEDO.

Kerjasama riset energi yang dilakukan Indonesia-Jepang lebih terfokus pada teknologi pemanfaatan biomasa dan energi surya, serta upaya mengkombinasi sumber energi yang ada dengan sistem hibrid, jelas Komaruddin Hidayat, peneliti energi yang juga Rektor Universitas Dharma Persada, dalam sesi diskusi tertang energi terbarukan, di Japan Expo.

Produksi Bahan bakar Nabati, lanjut Komaruddin mengalami peningkatan hasil dan reduksi biaya produksi karena diterapkan metode pemanasan suhu tinggi tanpa katalis (non catalytic superheated methode).

Daur ulang minyak goreng atau jelantah sebagai bahan baku biodiesel telah diterapkan di rumahtangga dan restoran di kota Kyoto Jepang, sejak tahun 1997. Penelitian tersebut, jelas Yasuyuki Sagata dari Universitas Tokyo, selain dilakukan peneliti dari universitasnya, juga melibatkan University of Sluga Perfecture, National Food Research Institute dan pihak swasta yaitu Kajima Corporation. Biodiesel yang dihasilkan dari minyak jelantah melalui reaksi termal trans-esterifikasi ini kemudian dicampur dengan minyak solar atau diesel dengan komposisi 20 : 80.

Sekam padi

Kerjasama penelitian juga dilakukan pada pengembangan tungku yang menggunakan sekam padi. Optimasi efisiensi tungku dilakukan dengan mendesain sistem pembakaran hingga tercapai peningkatan efisien nilai kalor sebesar 11,8 persen. Untuk memasak 200 liter selama 3 jam diperlukan bahan bakar seberat 35 kilogram.

Sementara itu, penggunaan minyak jarak pagar (jatropha curcas) secara besar-besaran di Indonesia diketahui telah diintroduksi Jepang, ketika menjajah Indonesia pada tahun 1942. Pengembangan teknik pengolahan minyak jarak, kini dilakukan kedua belah pihak Indonesia-Jepang dalam kerjasama riset. Dalam hal ini Jepang memperkenalkan metode gelembung (bubble methode) untuk memisahkan atau memurnikan minyak jarak dari getah atau lemaknya, sehingga menjadi lebih encer dan jernih.

Hasil penelitian ini lebih lanjut dikembangkan untuk skala lebih besar. BPPT misalnya membangun pabrik biodiesel dari minyak sawit berkapasitas 8 ton per hari di Pekan Baru. Adapun kan pabrik minyak jarak dibangun di Sukabumi, Jawa Barat

Teknologi bahan bakar nabati generasi kedua dilakukan di Universitas Kyoto dan Universitas Tokyo dengan melibatkan peneliti dari Universitas Dharma Persada di Indonesia. Salah satu hasilnya adalah penemuan metode Saka-Dadan, oleh Dadan Kusdiana dari peneliti dari Direktorat Jendral Listrik dan Pengembangan Energi. Ia menemukan metode pembuatan biodiesel berkualitas tinggi tanpa katalis. Untuk itu digunakan dua tahapan proses hidrolisis dan esterifikasi dengan metode supercritical metanol

Kategori: Bio Fuel · Energy · Environment

Tehnik Membuat Rumput Laut Menjadi BioFuel

Oktober 29, 2008 · 5 Tanggapan

Riset rumput laut yang dilakukan dari waktu ke waktu kian lebar menguak kegunaan tumbuhan air ini. Selama ini rumput laut telah banyak digunakan sebagai bahan baku beragam jenis produk, seperti pangan, farmasi, dan kosmetika.

Belakangan ini mulai diketahui manfaat lain rumput laut, yaitu sebagai pereduksi emisi gas karbon dan bahan baku biofuel. Oleh karena itu, untuk mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini telah berlangsung, rumput laut harus dikembangkan pemanfaatannya sebagai sumber alternatif energi.

Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi saat memberi sambutan pada Indonesia Seaweed Forum I di Makassar Sulawesi Selatan, Selasa (28/10). Pertemuan ini diselenggarakan Indonesia Seeweed Society, Asosiasi Petani Rumput Laut Indonesia, Ikatan Fikologi Indonesia, dan Asosiasi Rumput Laut Indonesia.

Mikroalga sebagai biodiesel, menurut Freddy, lebih kompetitif dibandingkan dengan komoditas lain. Sebagai perbandingan mikroalga (30 persen minyak) seluas 1 hektar dapat menghasilkan biodiesel 58.700 liter per tahun, sedangkan jagung 172 liter per tahun serta kelapa sawit 5.900 liter per tahun.

Selain itu, lanjutnya, rumput laut juga bukan merupakan bahan konsumsi pokok harian dan budidayanya tidak memerlukan waktu yang lama.

Sebagai daerah yang memiliki kawasan pesisir yang luas, apalagi berada di daerah tropis, Indonesia berpotensi menjadi produsen terbesar rumput laut di dunia. Menurut Freddy, saat ini ada areal seluas 1,1 juta hektar lebih yang berpotensi untuk budidaya rumput laut, tetapi yang termanfaatkan hanya 20 persen.

Menanggapi harapan Freddy, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya akan menyediakan lahan yang memadai untuk budidaya rumput laut. Sulsel memiliki pesisir pantai sepanjang 2.000 kilometer dan hampir 1.000 jumlah pulaunya.

Revitalisasi perikanan

Oleh karena memiliki beberapa keunggulan, Freddy menambahkan, rumput laut pun dapat menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan. Keunggulan itu antara lain peluang ekspornya masih terbuka luas, harganya relatif stabil, serta belum ada kuota perdagangan bagi rumput laut.

Keunggulan lainnya, teknologi pembudidayaannya sederhana sehingga mudah dikuasai petani, siklus budidayanya relatif singkat sehingga cepat memberikan penghasilan dan keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil, serta pembudidayaan rumput laut tergolong usaha padat karya. Di sisi lain, rumput laut ramah lingkungan dan tidak ada produk sintetisnya.

Dalam program revitalisasi budidaya rumput laut tahun 2009 ditargetkan tercapai produksi 1,9 juta ton. Untuk itu, Freddy menekankan perlunya penerapan pola pengembangan kawasan budidaya terutama untuk komoditas Euchema dan Gracilaria. Luas lahan yang diperlukan sampai 2009 adalah 25.000 hektar, yakni 10.000 ha untuk Gracilaria dan 15.000 ha untuk Euchema.

Untuk penyediaan bibit akan dikembangkan kebun bibit di sentra atau pusat pengembangan di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sultera, Maluku, dan Papua. Selain itu, juga akan dilakukan pengaturan pola tanam dan penyediaan 150 unit mesin pra-proses untuk perbaikan mutu pascapanen. Dengan pengembangan ini diperkirakan akan terserap 255.000 tenaga kerja.

Kategori: Bio Fuel · Energy · Environment

Rusia Membuat Pembangkit Listrik Tenaga Jerami di Sumatera Utara Indonesia

Oktober 25, 2008 · 1 Tanggapan

Perusahaan asal Rusia, JSC PromSviaz Automatika, akan membangun pembangkit listrik menggunakan limbah tanaman padi, jerami, dan sekam di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pembangkit memiliki kapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt tergantung ketersediaan jerami dan sekam.

Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, Jumat (24/10), menandatangani nota kesepahaman tentang pembangunan pembangkit listrik itu. Penandatanganan dilakukan dengan perwakilan JSC PromSviaz, PLN Wilayah Sumatera Utara, dan perwakilan Babcock and Brown, lembaga finansial asal Australia yang rencananya mendanai pembangunan proyek itu.

Menurut Sahat M Sinaga, perwakilan Xoma Power Nusantara, perusahaan yang akan menggandeng JSC PromSviaz dan Babcock and Brown, pembangkit listrik menggunakan sumber energi dari jerami dan sekam padi adalah baru di Indonesia. Pembangkit sejenis sudah ada di Thailand dan Rusia.

”Jerami dan sekam padi punya kandungan 3.180 kalori per kilogram. Dengan teknologi yang dimiliki Rusia, pembakaran jerami dan sekam pada suhu tertentu bisa memanaskan tungku boiler untuk menggerakkan turbin,” kata Sahat.

Sekadar perbandingan, batu bara yang dijadikan sumber energi listrik memiliki 5.000 hingga 6.000 kalori per kilogram.

80 ton jerami

Sahat mengungkapkan, untuk menghasilkan listrik 10 megawatt diperlukan kurang lebih 80.000 ton jerami dan sekam. ”Saat ini kami tengah memproses studi kelayakan penggunaan jerami dan sekam di Serdang Bedagai dan kabupaten sekitarnya,” katanya.

Bupati Serdang Bedagai T Erry Nuradi mengatakan, dengan total luas panen 78.000 hektar per tahun, daerahnya mampu memasok kebutuhan jerami dan sekam untuk pembangkit listrik tersebut. Dari 78.000 hektar luas panen, dihasilkan sekitar 400.000 ton jerami dan 80.000 ton sekam. Belum lagi dari daerah sekitar seperti Deli Serdang, Batu Bara, dan Simalungun.

General Manager PLN Wilayah Sumut Manarep Pasaribu menyambut baik kerja sama itu. Apalagi mayoritas pembangkit di Sumut berbahan bakar minyak.

Di Sulawesi Selatan, krisis listrik membuat khawatir Wali Kota Makassar Andi Herry Iskandar, terkait pelaksanaan pilkada di kota itu Rabu pekan depan. Dia meminta jaminan PLN agar tidak terjadi pemadaman listrik selama proses pemungutan suara.

Empat kabupaten lain yang melaksanakan pilkada Rabu pekan depan adalah Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Wajo, sementara pilkada Jeneponto pada Selasa

Kategori: Bio Fuel · Electricity · Energy · Environment

Rakyat Indonesia Masih Tetap Paling Boros Energi Di Dunia

September 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Indonesia negara paling boros energi dibanding banyak negara di dunia seperti Perancis, AS, Kanada, Jepang, Inggris, Jerman, bahkan dibanding Malaysia dan Thailand.

“Jargon kita biar miskin asal sombong harus diubah,” kata Dirjen Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM, Evita Legowo, pada Seminar Membangun Strategi Ketahanan Energi yang Berkelanjutan di UI Depok, Rabu.

Ia menerangkan, konsumsi energi per kapita Indonesia memang kecil yakni 0,467 toe per kapita dibanding misalnya Jepang 4,14 toe per kapita, namun demikian, intensitas energi Indonesia sampai 470 toe per juta dolar AS PDB sementara Jepang hanya 92,3 toe per juta dolar AS PDB.

Sehingga perbandingan elastisitas, pemakaian energi Indonesia menjadi sangat tinggi yakni 1,84, sementara Jepang hanya 0,1, sedangkan Malaysia 1,69, Thailand 1,16, Perancis 0,47, AS 0,26, Kanada 0,17, Inggris -0,03 dan Jerman -0,12, ujarnya.

Karena itu, sebagai negara boros dan yang 51,66 persen kebutuhan energinya dipasok oleh minyak, Indonesia sempat mengalami “shock” atas terjadinya kenaikan harga minyak dunia.

Evita menegaskan, hanya negara yang memiliki efisiensi energi yang tinggilah yang tidak terpengaruh oleh harga minyak. Demikian pula, negara yang segera mengembangkan energi alternatif dan negara yang memiliki kebijakan harga energi sesuai mekanisme pasar.

Sementara itu, Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Bambang Setiawan, dalam kesempatan yang sama mengatakan, pemerintah akan mengusulkan regulasi Domestic Market Obligation (DMO) atau kewajiban pasok dalam negeri batubara untuk PKP2B (perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara) dan KP (kuasa pertambangan).

Selain itu diusulkan adanya kewajiban terhadap perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan batubara dalam negeri, juga kebijakan penetapan harga jual batubara.

Ia mengatakan, Indonesia seharusnya malu pada China dan India yang daya serap batubara dalam negerinya sangat tinggi.

“Produksi batubara kita 220 juta ton per tahun, tetapi hanya 20-25 persen yang diserap di dalam negeri, sisanya diekspor. Padahal China yang produksi batubaranya 2,2 miliar ton dan India 800 juta ton tidak bisa memenuhi permintaan ekspor karena dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi dalam negeri,” katanya

Kategori: Bio Fuel · Energy · Environment

Banyak Hasil Riset Putra Putri Indonesia Enggan Diaplikasikan Karena Pemerintah Lebih Senang Pakai Teknologi Yang Ditemukan Bangsa Asing

September 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI berhasil mengembangkan pembangkit listrik berteknologi sel surya, angin, dan hidrogen. Meski demikian, hasil riset putra-putra bangsa ini tidak diaplikasikan pemerintah daerah.

Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan hal itu, Selasa (2/9) di Jakarta.

Secara terpisah, Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Indroyono Soesilo mengatakan, inovasi energi yang dihasilkan LIPI itu sangat bermanfaat untuk penanggulangan kemiskinan masyarakat, antara lain, pada upaya pemenuhan kebutuhan listrik. Hal ini mengingat rasio elektrifikasi yang masih sangat rendah, yakni hanya 54 persen dengan produksi listrik terpusat di Pulau Jawa ( 80 persen) dan selebihnya di Sumatera (11 persen), serta di Kalimantan dan Indonesia Timur sebesar 9 persen.

Menurut Indroyono, pemerintah sudah meningkatkan peluang investasi penanggulangan kemiskinan di tingkat kecamatan, di antaranya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Kebijakan ini sebagai sinergi program antardepartemen yang bisa mengakumulasikan dana penanggulangan kemiskinan per kecamatan mencapai Rp 3 miliar dalam setahun.

”Ini peluang bagi LIPI untuk menawarkan inovasi-inovasinya yang sekarang makin terbuka lebar,” kata Indroyono.

Menurut Lukman, LIPI memproduksi pembangkit listrik hibrid sel surya, angin, dan hidrogen yang pertama kali di Indonesia, yaitu di Malingping, Banten. Kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 3.000 watt.

Menurut Indroyono, inovasi- inovasi dari lembaga riset seperti LIPI atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) harus terus disempurnakan sehingga aplikatif bagi masyarakat. Jangan sampai hasil inovasi lembaga riset kalah bersaing dengan hasil inovasi masyarakat. Harus diakui, saat ini masyarakat terkadang bergerak lebih cepat dan kreatif dalam melakukan inovasi teknologi, termasuk teknologi bidang energi.

Kategori: Bio Fuel · Computer · Electricity · Environment · Food · Gadget · Health · Medicine · Physics · Robotics · Telecomunication

Tanah Di Bulan Dapat Dipakai Sebagai Bahan Bakar Nuklir

Agustus 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jika suatu saat manusia benar-benar berhasil membangun koloni di Bulan, sumber energi adalah salah satu masalah yang harus terpenuhi. Para ilmuwan dari badan antariksa berbagai negara tengah menyiapkan bahan bakar yang diambil dari bahan galian di perut Bulan.

Bahan bakar yang dimaksud adalah helium-3, salah satu isotop unsur gas. Helium-3 secara teori dapat dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Proses konversi menjadi listrik bahkan lebih ramah lingkungan daripada reaktor nuklir di Bumi karena hanya menghasilkan sedikit limbah.

Penggunaan Helium-3 berbeda dengan Uranium. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan uranium dilakukan melalui reaksi fisi, di mana inti atom dibelah-belah menjadi  lebih kecil untuk melepaskan energi. Sementara Helium-3 dapat dipakai dalam reaksi fusi di mana, inti atom-atomnya yang bertabrakan membentuk inti atom baru lebih besar dan melepaskan energi.

“Ia merupakan sumber energi yang lebih bersih dan aman daripada bahan bakar buklir,” ujar Gerald Kulcinski, direktur Institut Teknolog Fusion di Universitas Winconsin, Madison, AS. Sekitar 40 ton Helium-3 cukup untuk memasok kebutuhan energi di seluruh AS selama setahun.

Helium-3 sangat jarang ditemukan di Bumi namun banyak terkandung dalam tanah Bulan. Sejumlah negara yang telah memulai program eksplorasi Bulan seperti China, Rusia, dan India menjadikan Helium-3 sebagai target sumber energi masa depan untuk program ruang angkasanya.

Namun, membangun reaktor fusi lebih sulit daripada reaksi fisi karena menbutuhkan energi awal yang sangat besar. Belum ada satu pun reaktor fusi yang beroperasi di Bumi. Baru satu prototip yang tengah dibangun, yakni fasilitas yang diberi nama ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) di Cadarache, Perancis. Reaktor percobaan tersebut baru akan beroperasi mulai 2016 dan mulai menghasilkan energi 20 tahun kemudian. bahan baku yang digunakan di sana bukan Helium-3 melainkan deuterium dan tritium.

Kategori: Bio Fuel · Electricity · Geology · Nuclear · Physics · Space

Minyak Mentah Sintesis Dapat Dibuat dan Diekstrak Dari Batu Bara

Agustus 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Keluar dari OPEC karena menjadi net importer minyak bumi, Indonesia mulai beralih pada batu bara, yang jumlahnya tergolong masih melimpah. Pemanfaatan batu bara itu tidak hanya dalam bentuk padat untuk membangkitkan pembangkit listrik tenaga uap, tetapi juga dicairkan menjadi minyak sintetis pengganti solar.

Pemanfaatan batu bara untuk otomotif sebenarnya telah dilakukan beberapa abad lalu pada lokomotif, yaitu sejak ditemukannya mesin uap. Namun, penggunaannya tidak berkembang karena bahan bakar ini menimbulkan polusi dan kurang praktis.

Sementara itu, penggunaan minyak bumi lebih menjanjikan dan prospektif kala itu. Namun, dengan melonjaknya harga minyak bumi belakangan ini, penggunaan batu bara mulai ditengok lagi.

Potensi cadangan batu bara di Indonesia disebut-sebut mencapai 36,3 miliar ton, tetapi sebagian besar, yaitu 85,2 persen, berkualitas rendah, disebut juga batu bara lignit. Sayangnya, batu bara yang bernilai kalor rendah ini tidak ekonomis pengangkutannya. Karena itu, dipikirkan untuk memanfaatkannya di mulut tambang sebagai pembangkit atau dicairkan di lokasi tambang.

Dengan teknik pencairan tersebut, batu bara mudah digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan dapat menekan polusi.

“Pencairan batu bara merupakan upaya untuk meningkatkan nilai ekonomis batu bara rendah sehingga dapat dipasarkan secara komersial sebagai minyak sintetis,” jelas Martin Djamin, staf ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Energi Alternatif dan Terbarukan dalam Seminar “Rusnas Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan”, Senin (11/8) di Jakarta.

Pencairan batu bara merupakan salah satu upaya men- capai sasaran energi mix nasional tahun 2025 untuk menjamin tersediaan energi untuk kepentingan nasional. Pada tahun itu, sebesar 2 persen kebutuhan energi disuplai oleh batu bara cair.

Proses likuifikasi batu bara

Dibandingkan dengan minyak, berat molekul batu bara lebih besar daripada minyak dan mengandung hidrogen lebih sedikit, tetapi lebih banyak oksigen, sulfur, dan nitrogen daripada minyak. Karena itu, batu bara memiliki densitas energi lebih sedikit daripada minyak.

Oleh karena itu, batu bara diubah menjadi bahan bakar bersih dengan densitas energi lebih tinggi dengan memisahkan sulfur dan nitrogen dan meningkatkan kandungan hidrogennya.

Likuifikasi batu bara dilakukan dengan mengubah wujud batu bara yang telah bebas abu dengan dipanaskan sampai 450 derajat Celsius dan tekanan 180 bar (satuan tekanan udara).

Produk cair dari otoklaf dipisahkan dengan alat destilasi vakum, urai SD Sumbogo M, Ketua Tim Pencairan Batu Bara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Cairan fraksi berat hasil destilasi lalu diekstraksi dengan pelarut untuk pemisahan fraksi lebih lanjut.

Bahan bakar yang padat itu dapat dikonversi menjadi minyak fraksi berat, medium, dan ringan, untuk bahan bakar mobil dan pesawat terbang.

Teknologi pencairan batu bara itu telah dilakukan lembaga pengembangan energi Jepang (NEDO), beberapa dasawarsa lalu. Namun, teknologinya sendiri pertama kali diperkenalkan oleh F Bergius, kimiawan Jerman yang memperoleh paten produksi bahan bakar cair dari batu bara dengan memakai tambahan hidrogen pada batu bara di tahun 1913.

Mengacu pada pengalamannya, NEDO kemudian bekerja sama dengan BPPT untuk hal yang sama mulai tahun 1993. Penelitian difokuskan pada pemanfaatan sampel batu bara Indonesia dari Tanjung Enim (Sumatera Selatan), Cerenti (Riau), dan Kalimantan Timur.

Pengujian dan analisa dilakukan di laboratorium pencairan batu bara di Laboratorium Sumber Daya Energi (LSDE), Pusppitek Serpong, dan di Laboratorium Nippon Brown Coal Liquefaction (NBCL).

Pabrik percontohan

Evaluasi awal menunjukkan bahwa batu bara di Banko Selatan terbaik untuk proses likuifikasi dengan hasil minyak lebih dari 70 persen berat.

Adapun dari segi teknologinya, dijelaskan Martin, pencairan batu bara tersebut sudah terbukti berhasil dalam skala laboratorium. Dari pengembangan teknik pencairan batu bara itu telah dihasilkan paten katalis untuk proses tersebut yang disebut limonit. Paten tersebut dimiliki bersama BPPT dan NEDO.

Tahap berikutnya adalah pengembangan pabrik pencairan pada skala yang lebih besar, sampai pada tingkat komersial. Dalam hal ini tengah dipersiapkan desain dan rancang bangun pabrik percontohan berkapasitas 6.000 ton per hari.

Akan tetapi, karena biaya pembangunannya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 1,3 miliar dollar AS, BPPT pada tahun 2005 sudah mengusulkan pembangunan pabrik kapasitas 3.000 ton per hari, dengan dana yang dibutuhkan sekitar 800 juta dollar AS.

Menurut perhitungan, ujar Martin, meskipun menyerap dana yang relatif besar, pabrik pencairan batu bara ini ini dapat menghasilkan minyak sintetis yang harganya kompetitif dan menguntungkan.

Harga jual minyak sintetis batu bara untuk pabrik berkapasitas 3.000 ton per hari adalah 29,3 dollar AS-33,4 dollar AS per barel.

Pembangunan pabrik berkapasitas 3.000 ton per hari itu sebenarnya sudah disepakati akan didanai oleh Bank Sentral Jepang, JEBIC. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena pihak Jepang meminta jaminan teknologi dari Pemerintah Indonesia.

Hal ini, menurut Martin, jelas memberatkan Indonesia karena apabila pabrik tersebut mengalami kegagalan, sepenuhnya harus ditanggung pihak Indonesia. Sebagai jalan tengahnya akan diusulkan jaminan teknologi ditanggung kedua belah pihak.

Dengan terlaksananya pembangunan pabrik pencairan batu bara, Indonesia akan menjadi salah satu perintis penerapan teknologi baru pencairan batu bara langsung.

Selama ini, pencairan batu bara tidak langsung yang disebut Sasol telah dikembangkan oleh Afrika Selatan. Untuk penerapan teknologi Sasol, Indonesia juga menawarkan kerja sama dengan negara Afrika tersebut.

Kategori: Bio Fuel · Physics