Arsip Kategori: Astronomy

Menantikan Supermoon Tengah Malam Untuk Bisa Melihat Bulan Raksasa Lebih Jelas

Supermoon akan terlihat Sabtu malam pada saat bulan purnama mencatat jarak terdekat ke Bumi dibandingkan posisi lainnya pada tahun ini. Purnama terdekat terjadi mulai Sabtu malam dan puncaknya pada Minggu pagi pukul 10.35 WIB.

Menurut space.com, bulan purnama terjadi pada Sabtu, 5 Mei 2012, pukul 11.35 PM, EDT (waktu timur Amerika) atau Minggu pagi waktu Indonesia, yang bertepatan dengan perigee (orbit terdekat bulan ke Bumi). Peristiwa ini hanya terjadi sekali dalam setahun.

Peristiwa itu akan menghasilkan pemandangan mengesankan, terutama setelah matahari terbenam ketika bulan akan muncul dengan warna mencolok dan terasa lebih besar dari normal di atas cakrawala.

Pada titik terdekat, bulan akan berjarak 222.000 mil (357.000 kilometer) dari Bumi. Hal itu menyebabkan gelombang tinggi dan rendah sedikit lebih ekstrem dari biasanya.

Dr Robert Massey, dari Royal Astronomical Society, mengatakan peristiwa tersebut akan terlihat jelas dengan mata telanjang, meski dampaknya terhadap Bumi minimal. “Anda akan melihat bulan secara signifikan lebih besar dari biasanya, dan itu berarti kisaran pasang-surut sedikit lebih lebar dari biasanya,” katanya.

Para astronom menegaskan bahwa ketakutan yang sering diutarakan bahwa supermoons–istilah yang diciptakan pada 1970-an–bertepatan dengan bencana alam sepenuhnya tidak berdasar.

Geza Gyuk, astronom dari Planetarium Adler di Chicago, mengatakan kepada National Geographic, “Sementara kita tahu bahwa saat bulan baru pasang-surut mencapai titik terbesar (dan jika disertai gelombang badai akan menghasilkan banjir yang tidak biasa), tidak ada bukti ilmiah bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya terhubung dengan supermoon.”

Menurut dia, supermoons telah terjadi selama miliaran tahun dan tidak ada yang khusus terjadi pada saat-saat itu, kecuali, tentu saja, bulan purnama yang indah.

Saat supermoon, bulan akan terlihat sekitar 16 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama lainnya.

Ribuan Gelembung Energi Ditemukan Melayang Layang Di Angkasa

Sebanyak 5000 gelembung angkasa ditemukan di Galaksi Bimasakti oleh tim yang terdiri dari ilmuwan amatir. Gelembung-gelembung itu berkaitan dengan bintang muda dan panas. Banyaknya gelembung yang ada menandakan bahwa Bimsakati merupakan tempat pembentukan bintang yang jauh lebih aktif dari yang diduga.

“Piringan Bimsakati seperti champagne dengan gelembung-gelmbung di semua sisinya,” ungkap Eli Bresselt, mahasiswa doktoral yang melakukan penelitian di European Southern Observatory (ESO).

Penemuan 5000 gelembung angkasa ini melibatkan 35.000 sukarelawan yang tergabung dalam Proyek Bimasakti. Observasi dilakukan dengan Spitzer Space Telescope milik NASA. Seperti diberitakan Space, Jumat (9/3/2012), jumlah gelembung yang ditemukan 10 kali lebih banyak yang yang diperkirakan.

Pimpinan investigasi Proyek Bimasakati, Robert Simpson dari Oxford University, mengatakan, “Proyek Bimasakti adalah upaya untuk melihat data yang banyak dan indah dari Spitzer serta mengekstrak informasi secara menyenangkan, online dan melibatkan publik.”

Dalam observasi, ilmuwan amatir diminta memberi tanda bendera pada gelembung yang ditemukan. Gelembung akan dikatalogkan jika telah ada minimal 5 orang yang menandai gelembung yang sama.

Berdasarkan penemuan, ilmuwan mengungkapkan bahwa gelembung lebih jarang ditemukan di tepian galaksi. “Kami memperkirakan bahwa pembentukan bintang paling banyak terjadi di pusat galaksi karena di sanalah gas bermassa jenis tinggi terdapat. Proyek ini mengungkap lebih banyak pertanyaan daripada jawaban,” kata Bressert.

Hasil studi telah dimasukkan ke jurnal Monthly Notice of the Royal Astronomical Society.

Cara Menikmati Hari Tanpa Bayangan

Matahari adalah bintang yang berjalan. Sepanjang tahun, benda langit ini menempuh perjalanan mondar-mandir dari utara ke selatan.

Perjalanan matahari itu disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang edar matahari. Kemiringan sebesar 23,5 derajat inilah yang membuat tampak berayun sepanjang tahun matahari.

Selama perjalanan tersebut, matahari menyinggahi berbagai kota di Bumi. Persinggahan dilakukan bergilir sesuai posisi lintang kota di bola Bumi. Pontianak, misalnya, yang berada pada lintang 0 derajat, mendapat kesempatan disinggahi matahari sebanyak dua kali dalam setahun.

“Matahari di atas Pontianak setiap tanggal 21 Maret dan 23 September,” ujar Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) Thomas Djamaluddin saat dihubungi, Jumat, 2 Maret 2012.

Beda lagi dengan Jakarta. Matahari singgah di atas Ibu Kota setiap tanggal 4 Maret dan 8 Oktober. Maklum, kota yang dulu dipanggil Batavia ini berbeda lintang dengan Pontianak. Jakarta berada 6,2 derajat lebih selatan dari Pontianak yang berada di khatulistiwa.

Saat matahari singgah di atas kota, terjadi fenomena unik. Selama lima menit, benda-benda tegak seolah kehilangan bayangan. Peristiwa ini terjadi tepat tengah hari, sebelum azan zuhur berkumandang.

Lenyapnya bayangan benda terjadi karena perspektif pencahayaan. Sumber cahaya yang berada di atas benda seperti tabung atau balok maka bayangan akan jatuh di alasnya. Jika sumber cahaya bergeser sedikit saja, bayangan akan bergeser keluar dari alas. Bayangan serta-merta terbentuk.

“Pada hari tanpa bayangan, matahari persis di atas kepala sehingga bayangan jatuh di bawah bangunan,” kata Thomas.

Karena jatuh di bawah benda, bukan berarti bayangan benar-benar menghilang. Jika benda tersebut memiliki penampang alas lebih kecil ketimbang penampang atas, maka bayangan tetap bisa terlihat. Hal ini bisa diamati pada pohon.

Saat matahari tepat di titik tertinggi langit Jakarta pada Minggu, 4 Maret 2012 nanti, rimbun daun pepohonan akan menghasilkan bayangan di tanah. Karenanya, bayangan tak benar-benar menghilang pada hari Minggu nanti di Jakarta.

Fenomena hari tanpa bayangan akan terjadi di Jakarta pada Minggu, 4 Maret 2012. Pada saat itu, matahari akan berada tepat di atas Kota Jakarta dan membuat hampir semua benda tegak kehilangan bayangan selama beberapa menit pada tengah hari.

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan Antariksa (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan lenyapnya bayangan di sebuah kota terjadi dua kali setiap tahun. Fenomena ini bagian dari rute gerak matahari yang bergerak dari selatan ke utara dan sebaliknya dalam satu tahun.

“Jika posisi matahari tepat di atas lintang sebuah kota maka benda tegak tak akan menunjukkan bayangan,” ujarnya saat dihubungi Tempo pada Jumat, 2 Maret 2012.

Pada Minggu nanti, matahari akan berada pada posisi 6,25 derajat Lintang Selatan, hampir sama dengan letak Kota Jakarta di 6,20 derajat Lintang Selatan. Tepat tengah hari, sekitar pukul 12.04 WIB, matahari akan berada tepat di atas kepala. Akibatnya, bayangan seolah lenyap karena jatuh tepat di tempat berpijak benda tersebut.

Lenyapnya bayangan pada tengah hari juga terjadi di kota lain. Pada Ahad, Serang juga mengalami peristiwa serupa.

Kota lain, yang terletak lebih selatan daripada Jakarta, akan mengalami fenomena itu lebih cepat. Bogor dan Semarang, misalnya, akan mengalami tengah hari tanpa bayangan pada Sabtu, 3 Maret 2012, sehari lebih dulu ketimbang Jakarta.

Sepekan terakhir, matahari memang berada di atas Pulau Jawa. Akibatnya, beberapa kota bergantian disinari matahari dari zenit. Kota Yogyakarta dan Surabaya berturut-turut kehilangan bayangan pada 1 Maret 2012 dan 29 Februari.

Bandung dan Sukabumi yang berada di 6,9 Lintang Selatan mengalami tengah hari tanpa bayangan pada Jumat, 2 Maret 2012. Namun Pelaksana Teknis Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lapan Sungging Emanuel Mumpuni mengatakan kantor Lapan di Bandung tak melakukan kegiatan khusus menyambut peristiwa ini. Alasannya, hal ini merupakan fenomena biasa yang tak banyak berpengaruh terhadap cuaca.

Menurut Thomas, fenomena lenyapnya bayangan untuk Jakarta selalu terjadi setiap tanggal 4 Maret dan 8 Oktober setiap tahun. Fenomena pada tanggal 4 Maret merupakan bagian dari perjalanan matahari dari Australia menuju khatulistiwa. Sementara pada 8 Oktober, matahari sedang dalam perjalanan dari khatulistiwa menuju Australia.

Lenyapnya bayangan lebih populer dengan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, yang terletak persis di khatulistiwa. Di kota ini, bayangan menghilang setiap tanggal 21 Maret dan 23 September setiap tahun. Selama waktu ini, Monumen Khatulistiwa akan diterangi matahari dari atas sehingga tak meninggalkan jejak bayangan.

Tak hanya di Indonesia, Kakbah di Mekah juga mengalami tengah hari tanpa bayangan pada 18 Juli nanti. Selama ini bayangan jatuh menjauh dari Mekah sehingga bisa dipakai sebagai penanda arah kiblat oleh umat Islam.

Selain membuat bayangan hilang, posisi matahari yang berada di atas kota juga membuat suhu udara sedikit lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Syaratnya, matahari tak terhalang awan dan angin berembus pelan. “Jika langit mendung dan angin kencang, suhu udara normal,” ujar Thomas.

Matahari merupakan benda langit yang berayun dari utara ke selatan dalam setahun. Bintang induk ini berada pada titik paling selatan setiap 21 Desember, mengakibatkan musim panas di Benua Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, dan Australia. Enam bulan kemudian, pada 21 Juni, matahari berada di titik paling utara, mengakibatkan musim panas di Benua Eropa dan Amerika Utara, serta negara seperti Jepang dan Korea.

Hari tanpa bayangan matahari akan terjadi pada 21-22 Maret dan 21-22 September 2012. Peristiwa alam pada tengah hari itu hanya bisa dilihat di kota atau daerah tertentu di Indonesia. Pulau Jawa termasuk yang terkena pengaruh fenomena ini.

Astronom dari Institut Teknologi Bandung Danny Herdiwijaya mengatakan hari tanpa bayangan matahari pada tengah hari bisa diamati di Pontianak, Riau, Jambi, serta Palu. “Di daerah yang dilewati garis ekuator atau garis nol derajat,” ujarnya, Jumat 2 Maret 2012.

Fenomena alam itu terjadi akibat pergerakan bumi terhadap matahari. Bagi penduduk bumi, yang terjadi seperti sebaliknya, yaitu matahari yang bergerak dari utara ke selatan bumi dan sebaliknya.

Saat matahari seolah-olah bergerak dari selatan bumi ke utara seperti yang terjadi saat ini, matahari akan melewati garis ekuator. Ketika sampai tepat di garis itu pada 21 atau 22 Maret tengah hari, matahari tepat berada di atas benda apa pun. Bayangannya pun jadi nihil.

Peristiwa serupa akan terulang pada 21 atau 22 September 2012. Saat itu matahari seperti bergerak dari utara ke selatan Bumi.

Di daerah lain atau di luar daerah garis ekuator, bayangan matahari pada tengah hari akan terlihat seperti biasa. “Karena posisi Bumi itu miring 23,5 derajat,” kata mantan Direktur Observatorium Bosscha, Lembang, tersebut.

Di Indonesia, pengamatan tengah hari tanpa bayangan itu leluasa dilakukan banyak orang di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sedangkan di Riau, kata Danny, letaknya di daerah hutan. Adapun di Palu agak ke utara. “Di daerah Maluku atau Irian jatuhnya di lautan,” katanya.

Khusus tugu titik nol derajat di Pontianak, ujar Danny, kini telah bergeser cukup jauh hingga puluhan meter dari tempatnya semula. “Dulunya dekat Sungai Kapuas, sekarang makin menjauh,” ujarnya. Pergeseran itu diduga kuat akibat pergerakan lempeng Bumi.

Malam Ini Bulan Berubah Jadi Darah Selama 100 Menit

Pengamat angkasa (BMG) Inggris mengharapakan langit cerah malam ini sehingga bisa melihat fenomena gerhana bulan penuh paling lama sejak 2000.

Fenomena itu akan mengubah warna bulan menjadi merah darah selama 100 menit atau selama masa gerhana bulan menjadi penuh.

Namun NASA memperingatkan Eropa akan kehilangan fenomena awal gerhana bulan itu karena “fenomena itu terjadi sebelum moonrise.”

Gerhana akan terjadi pada 06.24pm (BST/British Summer Time) dan berakhir pada tengah malam, tetapi matahari belum terbenam di Inggris sampai pukul 09:19pm.

Orang-orang di sebelah timur Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan Australia Barat akan menikmati fenomena tersebut. Namun, mereka yang tinggal di AS akan kehilangan fenomena itu karena terjadi pada siang hari.

Biasanya, Bulan diterangi Matahari. Selama gerhana bulan, Bumi, Matahari dan Bulan berada di garis dan bayangan Bumi bergerak melintasi permukaan bulan purnama.

Sinar matahari yang melewati atmosfer bumi membuat bulan tampak merah, coklat atau hitam.

Peredaran bulan ke posisi yang sama setiap bulan, tetapi kemiringan orbit bulan berarti biasanya bulan melewati atas atau di bawah bayangan terestrial. Hal itu berarti bulan purnama terlihat tetapi tidak terjadi gerhana, demikian dikutip dari Daily Mail yang dilaporkan Antara.

Penelitian Universitas Oxford Membuktikan Sukses Karir Tergantung Ditentukan Bulan Kelahiran

Sebagian orang mungkin menganggap astrologi sebagai isapan jempol belaka. Tetapi, percaya atau tidak, sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa bulan kelahiran Anda akan mempengaruhi profesi Anda di kemudian hari.

Badan statistik nasional Inggris (Office for National Statistics), seperti dikutip Telegraph, meneliti kecenderungan statistik di negara itu dan menemukan hubungan antara bulan kelahiran dengan profesi seseorang.

Seorang yang lahir bulan Desember misalnya cenderung menjadi seorang dokter gigi, sementara yang lahir Januari punya peluang besar menjadi seorang penagih utang.

Mereka yang berulang tahun pada Februari punya kemungkinan lebih besar untuk menjadi seniman. Ada pun yang lahir pada Maret biasanya menjadi pilot.

Lain halnya pada orang-orang yang lahir pada April dan Mei. Kelompok ini biasanya mempunyai profesi beragam. Sedangkan mereka yang lahir pada Juni sampai September punya peluang yang lebih kecil untuk menjadi pesepakbola, dokter, atau dokter gigi.

Temuan para peneliti itu disimpulkan dari proses analisis atas orang-orang yang bekerja di 19 bidang profesi berbeda dalam sensus terakhir di Inggris.

Mengomentari penelitian itu, Russell Foster, seorang ahli saraf dari Oxford University, menegaskan musim memang berpengaruh pertumbuhan seorang manusia.

“Saya tidak mendukung astrologi – itu tidak masuk akal – tetapi kita tidak kebal terhadap pengaruh musim,” tegas Russel.

“Memang kelihatannya absurd, tetapi periode ketika Anda bertumbuh dalam rahim dipengaruhi oleh beberapa hal seperti berapa lama Anda hidup, seberapa cerdas Anda di sekolah, berat dan tinggi badan Anda,” kata Russel

Tim Astronom Eropa Temukan Bintang Terlarang Di Konstelasi Leo

Tim astronom Eropa berhasil menemukan sebuah bintang terlarang dengan Very Large Telescope (VLT) European Southern Observatory. Bintang itu bernama SDSS J102915+172927, terletak di Konstelasi Leo, bermassa lebih rendah namun lebih tua 13 tahun dibandingkan dengan Matahari.

Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (1/9/2011) lalu. Astronom mengatakan bahwa SDSS J102915+172927 adalah bintang terlarang karena berdasarkan komposisinya, hampir seluruhnya terdiri dari elemen hidrogen dan helium, minim unsur logam lain yang lebih berat.

“Teori yang diterima secara luas memprediksikan bahwa bintang semacam ini, dengan massa rendah dan minim logam, tidak seharusnya ada karena awan materi yang membentuknya tidak bisa terkondensasi,” kata Elisabetta Caffau dari Zentrum fur Astronomie der Universitat Heidelberg, Jerman.

“Bintang ini sangat redup, sangat miskin logam, kita hanya bisa melihat tanda adanya satu unsur yang lebih berat dari helium, yakni kalsium, pada observasi pertama,” tambah Piercarlo Bonifacio dari Observatoire de Paris, seperti dikutip Physorg, Rabu (31/8/2011) lalu.

Komposisi bintang diukur dengan X-shooter dan instrumen UVES pada VLT. Teknik ini memungkinkan ilmuwan untuk melihat kelimpahan beragam unsur kimia pada bintang.

Berdasarkan analisis, kandungan logam pada bintang terlarang ini 20.000 kali lebih kecil dari Matahari. Ilmuwan lain yang terlibat studi, Lorenzo Monaco, mengatakan, “bintang yang kita pelajari sangat miskin logam, artinya ini sangat primitif. Bintang ini mungkin menjadi salah satu bintang tertua yang pernah ditemukan.”

Para kosmolog mempercayai, hidrogen dan helium terbentuk sesaat setelah big bang. Pada saat yang hampir bersamaan, unsur Lithium juga terbentuk. Sementara, unsur logam lain terbentuk dalam waktu jauh lebih lama setelah big bang. Ledakan supernova menyebarkan material pembentuk bintang ke interstellar medium, membuatnya kaya akan logam.

Bintang baru terbentuk dari medium ini dan memiliki kandungan logam lebih banyak dari bintang sebelumnya. Jadi, proporsi logam di suatu bintang bisa memberi petunjuk usianya. Satu lagi keunikan SDSS J102915+172927 adalah kandungan lithiumnya.

Berdasarkan teori, seharusnya jumlah lithium banyak sebab unsur ini terbentuk segera setelah big bang. Namun, ternyata jumlah lithium yang ada pada bintang ini 50 kali lebih rendah dari yang seharusnya. “Masih merupakan misteri mengapa lithium yang terbentuk segera setelah big bang seperti dihancurkan pada bintang ini,” tambah Bonifacio.

Caffau yang juga dari Observatoire de Paris, Perancis mengatakan, “Sangat mengejutkan bisa menemukan, untuk pertama kalinya, bintang pada “zona terlarang”. Ini berarti bahwa kita mungkin harus melihat lagi beberapa model pembentukan bintang.”

Muhammad Rayhan Berhasil Memotret Hujan Bintang Dari Pulau Pramuka

Jika selama ini hanya ada hujan meteor, maka kini ada hujan bintang. Inilah yang digambarkan dalam foto Muhammad Rayhan, salah satu penggerak Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ). Foto itu diambil di Pulau Pramuka, Minggu (3/7/2011) lalu, bersamaan dengan kegiatan Science Camp yang diadakan oleh FOSCA, sebuah kelompok Karya Ilmiah Remaja Jakarta.

Dalam foto tersebut, bintang tampak berwujud garis, seperti titik-titik air hujan. Dengan latar langit malam, galaksi Bimasakti dan sebuah masjid di pulau tersebut, foto tampak eksotis. Warna garis bintang pun beragam, ada yang berwarna putih terang seperti yang biasa dilihat, ada pula yang berwarna merah dan keunguan.

Jangan menyangka hujan bintang benar-benar terjadi. “Ini hanya judulnya saja,” kata Rayhan. Yang dihasilkan sebenarnya adalah star trail, foto bintang berupa garis yang didapat dengan long exprosure. “karena bintang selalu bergerak ke barat, makanya fotonya ngetrail. Seperti foto kota malam hari yang nge-trail lampu dari mobil,” kata Rayhan.

Rayhan mengungkapkan, banyaknya garis dalam foto menyatakan banyaknya bintang yang tertangkap kamera. Terlihat dalam foto bahwa garis bintang memiliki panjang tertentu. Rayhan yang dihubungi hari ini (10/7/2011) mengatakan, panjang pendeknya garis menyatakan seberapa lama pencahayaan sensor kamera atau exposure time.

Setiap garis juga mempunyai warna yang berbeda. “Ini karena warna bintang memang berbeda-beda. Suhu bintang kan memang berbeda, maka representasi warnanya juga berbeda. Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U. Merah suhunya paling dingin dan ungu suhunya paling panas” kata Rayhan yang juga menjadi mahasiswa Jurusan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Foto hujan bintang hanya salah satu dari karya astrofotografi Rayhan. Dalam momen gerhana bulan total yang terjadi bulan Juni kemarin, Rayha juga berhasil mengabadikan gerhana pada setiap fasenya. Beberapa foto lain adalah Bimasakti. Jupiter hingga polusi cahaya yang ada di kota besar macam Jakarta.

Dalam Science Camp kemarin, Rayhan menjadi observer bagi siswa-siswa anggota FOSCA yang meneliti tentang biota laut. Pada saat yang sama, Rayhan juga memiliki agenda Rukyatul Hilal bersama tim Planetarium Jakarta untuk hilal Bulan Syaban kemarin. Ke depan, rayhan juga akan mengisi materi tentang Hisab Rkyat dalam pertemuan rutin HAAJ.

Saksikan Gerhana Bulan Total Di Indonesia Pada Tanggal 16 Mei 2011

Tiga hari lagi, tepatnya Kamis (16/6) dini hari, gerhana bulan total akan terjadi dan dapat disaksikan di Indonesia. Gerhana akan dimulai pada pukul 00.25 WIB dan berakhir pada pukul 05.59 WIB. Berdasarkan publikasi NASA, totalitas atau kondisi saat bulan tak tampak sama sekali akan berlangsung selama 100 menit, dari pukul 02.22 WIB – 04.02 WIB.

Gerhana bulan total kali ini bisa disaksikan di wilayah Eropa, Afrika, Amerika Selatan, Australia dan Asia, termasuk Indonesia. Wilayah timur Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan barat Australia bisa menyaksikan keseluruhan tahap gerhana. Di Indonesia, wilayah yang keberuntungan yang sama adalah Sumatra, Jawa, Kalimantan dan sebagian Nusa Tenggara.

Pengamat di Eropa akan kehilangan tahap awal gerhana sebab saat tahap itu terjadi sebelum bulan terbit. Sementara, pengamat di wilayah timur Asia, timur Australia dan Selandia baru akan kehilangan tahap akhir gerhana karena pada tahap itu Bulan sudah tenggelam. Wilayah Amerika Utara kurang beruntung sebab tak bisa menyaksikan seluruh gerhana ini. Durasi totalitas gerhana kali ini akan menjadi salah satu yang terpanjang dalam 100 tahun. Dalam publikasi Space.com (11/6), totalitas gerhana yang bisa menandingi terjadi pada 16 Juli 1935 selama 101 menit, 6 Juli 1982 dan 16 Juli 2000 selama 107 menit. Totalitas gerhana yang panjang berikutnya diperkirakan terjadi 27 Juli 2018 selama 106 menit.

Gerhana Bulan terjadi saat Matahari, Bumi dan Bulan terjadi pada satu garis lurus dimana Bumi berada diantara Matahari dan Bulan. Tak seperti gerhana Matahari, gerhana bulan aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa perlu pelindung. Namun, karena terjadi tengah malam, maka pengamat disarankan istirahat terlebih dahulu.

Berkaitan dengan gerhana bulan total ini, astronom amatir Ma’rufin Sudibyo dalam halaman Facebook-nya memberitahukan penyelenggaran acara “Nonton Bareng Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011″ mulai pukul 01.23 WIB. Acara tersebut berlangsung di Masjid Asy-Syifa di kompleks RSU Muhammadyah Gombong, Jawa Tengah.

Sebelum pengamatan, Ma’rufin juga akan menyampaikan ulasan bertema “Seluk Beluk Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 serta Simulasi 1 Ramadan dan 1 Syawal 1432 H/2011″. Sementara sholat gerhana juga akan digelar menjelang waktu subuh. eleskop dengan kamera dan terhubung layar dan TV internal akan digunakan sehingga pengamat bisa melihat tanpa perlu berebut teleskop.

Observatorium Bosschajuga akan memanfaatkan momentum gerhana bulan total ini untuk melakukan pengamatan. Namun, sampai saat ini belum ada rencana menggelar nonton bersama menggunakan teleskop seperti gerhana bulan sebelumnya mengingat waktu gerhana yang terjadi dini hari yang sudah pasti sangat dingin di Lembang, Bandung.

NASA Sedang Meneliti Temuan Kawah Es Dikutub Super Panas Planet Merkurius

Para penyelidik misi pesawat ruang angkasa Messenger makin mengintensifkan pantauannya. Maklum, wahana milik NASA itu pada Jumat pekan lalu sukses memasuki orbit sekitar Merkurius. Alhasil Messenger menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang mengorbit planet terdalam.

“Kami berharap dapat meningkatkan pemahaman terhadap salah satu planet yang jadi tetangga terdekat,” kata Sean C. Solomon, penyelidik utama misi Messenger. Nama wahana penjelajah robotik ini merupakan singkatan dari MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry, and Ranging.

Wahana yang diluncurkan 2 Agustus 2004 telah menempuh penerbangan sejauh 7,9 miliar kilometer. Dia mengelilingi matahari sebanyak 15 kali dan melesat melintasi Bumi, Venus dan Merkurius serta ngebut mengejar ketertinggalannya dengan Mercurius.

Planet Mercurius sendiri berada dalam cengkeraman gravitasi Matahari. Alhasil planet yang disebut-sebut berada di tepi neraka ini, mengitari Matahari dalam setahun selama 88 hari, dengan kecepatan rata-rata 170.600 km/jam.

Menurut Sean C. Solomon, berhasil memasuki orbit Mercurius menjadi puncak dari misi. “Ini adalah pencapaian terbesar Messenger hingga masuk ke orbit Merkurius,” ujar Manajer Proyek Messenger Peter Bedini dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.

Menurut Peter, pencapaian ini adalah buah dari kerja keras tim navigasi, panduan dan kontrol. Tidak ketinggalan operasi misi yang memandu pesawat melakukan perjalanan sejauh 7,9 miliar kilometer.

Messenger saat ini berada di sekitar 46 juta km dari Matahari dan sekitar 155 juta km dari Bumi. Setelah mengalami pembakaran, mesin berdaya 600 newton itu akan “parkir” dalam 12 jam di orbit Merkurius.

Salah satu pertanyaan yang paling diharapkan jawabannya dari misi Messenger adalah apakah Merkurius menyembunyikan air di kawah es yang gelap? Bulan memiliki kawah seperti ini. Memang suhu lebih dari 370 derajat Celsius memanggang wilayah khatulistiwa Merkurius. Namun suhu di kawah dekat kutub tetap pada minus 183 derajat Celcius.

“Wilayah ini tidak tersorot Matahari selama jutaan, mungkin milyaran tahun,” kata Salomo. “Sangat dingin. Cukup dingin untuk menjaga air es kurun waktu geologi yang lama.”

Jika semua berjalan sesuai rencana, Messenger yang parkir selama 12 jam menjadi sangat unik. Wahana ini berada di titik rendah 200 km di atas permukaan planet dan titik terjauhnya lebih dari 15.193 km.

Untuk melakukan penelitian, Messenger memuat kamera dengan lensa sudut sempit dan lebar, serta altimeter laser untuk memetakan permukaan Merkurius. Ada pula spektrometer guna menyelidiki komposisi batuan dan atmosfer planet.

Magnetometer akan mempelajari bagaimana medan magnet – pada inti planet yang cair dan membentuk 60 persen massa Mercurius – berinteraksi dengan angin Matahari.

Setelah mengorbit orbit, Messenger akan kembali mengambil gambar pada 4 April. Wahana ini akan tinggal di orbit selama empat tahun. Misinya dapat diperpanjang selama satu atau dua tahun jika anggaran NASA memungkinkan. Ketika bahan bakar habis dan tidak ada tambahan dana, pesawat ruang angkasa tersebut akan menabrak permukaan Merkurius.

Bumi Pada Tahun 2012 Akan Memiliki Matahari Kembar Dari Nebula Orion

Ini bukan kabar biasa. Sebentar lagi, bumi akan memiliki dua matahari, sebuah penggambaran yang sering dilihat di film Star Wars. Kabar menggemparkan, matahari baru akan segera muncul di langit.

Bintang superbesar warnah merah di nebula Orion, Betelgeuse, diprediksi akan mendekat dan supernova mencapai bumi sebelum tahun 2012. Bintang kedua terbesar di alam semesta ini diperkirakan kehilangan berat massa dan merupakan indikasi terjadinya gravitasi dan kolaps serta kehilangan daya dukung.

Saat itu terjadi, bumi akan memiliki dua matahari. Demikian disampaikan Dr Brad Carter, staf pengajar Fisika di Universitas Southern Queensland.

“Bintang tua ini sudah kehilangan banyak bahan bakar di bagian inti,” jelas Carter. Menurutnya, bahan bakar inilah yang membuat Betelgeuse tetap bersinar dan bertahan. Namun, saat sudah kehilangan daya penunjang, bintang ini akan jatuh. Ketika ledakan hebat terjadi maka cahayanya 10 juta kali lebih terang dari matahari.

Kabar buruknya, ledakan ini bisa terjadi jutaan tahun mendatang. “Ini adalah akhir dari sejarah bintang itu dan pada malam hari akan seperti siang hari di bumi,” jelas Carter. Menurutnya, ketika terjadi ledakan akan menghasilkan cahaya yang luar biasa selama beberapa pekan hingga beberapa bulan sebelum akhirnya meredup dan tak bisa dilihat lagi.