Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Astronomy’

Awas, Serangan Matahari Terhadap Bumi Bisa Mematikan

Agustus 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Matahari bisa menyerang Bumi dengan angin kuat, yang dapat mengganggu komunikasi, penerbangan dan saluran listrik bahkan ketika Matahari berada dalam tahap tenang di lingkaran 11-tahunnya.

Beberapa pengamat sejak lama telah menggunakan jumlah titik surya di permukaan Matahari untuk mengukur kegiatannya. Jumlah titik Matahari mencapai puncak pada apa yang disebut maksimum surya, kemudian turun untuk mencapai minimum selama satu lingkaran.

Pada puncaknya, lidah api surya yang sangat kuat dan badai geomagnetik menyemburkan sangat banyak energi ke antariksa, menggilas ladang magnetik yang melindungi Bumi, merontokkan satelit, mengganggu komunikasi dan mengakibatkan pancaran cahaya warna-warni.

Namun para ilmuwan di National Center for Atmospheric Research di Amerika Serikat dan University of Michigan mendapati bahwa Bumi dibombardir dengan angin surya secara gencar tahun lalu kendati Matahari berada pada tahap yang sangat tenang.

“Matahari terus mengejutkan kita. Angin surya dapat menghantam Bumi seperti selang pemadam, bahkan ketika jelas-jelas tak ada bintik surya,” kata Sarah Gibson dari High Altitute Observatory di pusat itu dan pemimpin penulis studi tersebut.

Para ilmuwan sebelumnya mengira sebagian besar arus energi tersebut hilang saat lingkaran surya mendekati minimum.

Gibson dan timnya, yang juga meliputi para ilmuwan dari NOAA dan NASA, membandingkan pengukuran dari jeda minimum surya saat ini, yang diambil pada 2008, dengan pengukuran minimum terakhir surya pada 1996.

Penelitian itu, yang disiarkan di dalam Journal of Geophysical Research, terbitan paling akhir, mendapati kelaziman arus berkecepatan tinggi selama minimum surya pada 2008 tampaknya berkaitan dengan tatanan Matahari saat ini.

Saat jumlah bintik surya berkurang selama beberapa tahun belakangan ini, banyak lubang besar terbentuk di permukaan Matahari di dekat garis tengahnya.

Arus berkecepatan tinggi yang berhembus dari lubang itu menelan Bumi selama 55 persen masa studi pada 2008, dibandingkan dengan 31 persen pada masa studi 1996. Satu arus partikel yang terpancar dapat berlangsung selama 7 sampai 10 hari.

“Pengamatan baru dari tahun lalu mengubah pemahaman kami mengenai betapa jeda tenang surya mempengaruhi Bumi dan bagaimana serta mengapa ini mungkin mengubah dari satu lingkaran ke lingkaran lain,” kata penulis bersama studi itu Janet Kozyra dari University of Michigan.

Kategori: Astronomy

Sebuah Asteroid Nyaris Menabrak Bumi

Maret 7, 2009 · 5 Tanggapan

Sebuah asteroid melintas sangat dekat dan bisa saja menabrak Bumi jika terjadi sedikit perubahan jalur orbit. Betapa tidak, jarak terdekat dengan Bumi saat melintas hanya tinggal 66.000 kilometer. Bandingkan jarak Bumi-Bulan yang rata-rata 384.000 kilometer.

Lebih mengejutkan lagi kedatangan asteroid ini tidak diduga-duga sebelumnya. Astroid yang diberi nama 2009 DD45 ini baru terdeteksi beberapa hari lalu.

Pengamat yang beruntung di wilayah Asia, Australia, dan Kepulauan Pasifik dapat melihatnya saat melintas di natar Bumi dan Bulan pada Senin (2/3) pukul 20.44. Batuan angkasa itu bergerak dengan kecepatan hanya 20 kilometer per jam.

“Kita melihat objek-objek yang melintas sedekat ini atau bahkan lebih dekat hanya tiap beberapa bulan sekali,” ujar Timothy Spahr, direktur Pusat Planet Minor Himpunan Astronomi Internasional (IAU) di Massachusetts, AS.

Asteroid 2009 DD45 baru dilaporkan kedatangannya pada 28 Februari. Observatorium Siding Spring Australia hanya merekamnya sebagai sebuah titik kecil. Saat itu, asteroid berada pada jarak 2,4 juta kilometer dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi.

Dibanding objek ruang angkasa lainnya, asteroid termasuk kecil dengan diameter antara 20-50 meter. Asteroid merupakan objek batuan padat yang banyak mengorbit di kawasan yang disebut sabut asteroid antara Planet Mars dan Jupiter.

“Objek sekecil itu sulit dilihat dengan mata telanjang meski berada pada jarak sangat dekat dengan Bumi,” ujar Spahr. Namun, penganat amatir maupun profesional dapat mengatinya dengan teleskop ke arah lintasan yang tepat.

Berkat bantuan para astronom amatir di berbagai belahan dunia, bentuk lintasan orbitnya dapat diperkirakan. Asteroid tersebut mengorbit di bagian dalam tata surya dan diperkirakan menghabiskan waktu 1,56 tahun untuk sekali mengelilingi Matahari.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang asteroid tersebut dapat melintas kembali dekat Bumi cukup besar karena waktu orbit yang tidak terlampau jauh berbeda. Meski demikian, para astronom belum sampai pada kesimpulan bahwa objek tersebut mengancam Bumi.

“Sejauh ini tidak ada kejadian yang luar biasa,” ujar Spahr.

Kategori: Astronomy · Space

NASA Siapkan Misi Pencarian Planet Bumi Di Jagad Raya Lain

Maret 7, 2009 · 1 Tanggapan

NASA kini sedang mempersiapkan peluncuran pesawat antariksa Kepler, dengan teleskop antariksa baru yang untuk pertama kalinya akan mampu mendeteksi berbagai planet seperti Bumi di luar tata surya, manajer proyek itu menyatakan.

Kepler dijadwalkan akan diluncurkan dengan roket Delta II dari Pangkalan AU Tanjung Canaveral, di Frolida, pada 5 Meret pukul 10:48 waktu setempat atau 6 Maret pukul 10:48 WIB.

Misi tersebut merupakan misi pertama Badan Antariksa dan Aeronautika (NASA) AS dalam pencarian planet-planet yang mengorbit berbagai matahari sama seperti Matahari kita, pada jarak dan temperatur yang tepat sehingga memungkinkan adanya air yang mendukung kehidupan.

“Kepler akan merintis jalan menuju tapal batas tak dikenal pada galaksi kita, Bima Sakti. Dan berbagai penemuannya boleh jadi akan mengubah secara mendasar pandangan manusia atas galaksi tersebut,” kata Jon Morse, direktur astrofisika pada badan antariksa itu di kantor pusatnya Washington, dalam jumpa persnya, seperti dilaporkan AFP.

“Sensus keplanetan Kepler akan menjadi penting sekali bagi pemahaman banyaknya planet seperti Bumi pada galaksi kita dan perencanaan misi-misi yang akan mendeteksi secara langsung dan mengenali ciri-ciri dunia-dunia seperti ini di sekitar bintang-bintang di dekatnya,” imbuhnya.

Dilengkapi dengan kamera terbesar yang pernah diluncurkan ke antariksa, yang dikenal sebagai charged couple devices (CCD) 95 megapiksel, teleskop Kepler mampu mendeteksi bintang-bintang yang berkedip secara berkala akibat tertutup planet-planet saat benda langit itu melintas di dekat bintang-bintang tersebut.

Dengan biaya hampir 600 juta dolar, misi Kepler akan berlangsung selama tiga tahun dan meneliti lebih dari 100.000 bintang seperti Matahari di kawasan konstelasi Angsa dan Lira di galaksi Bima Sakti.

Tak terlalu panas dan juga dingin

Menurut William Borucki, penyelidik utama Kepler yang berkedudukan di Pusat Riset Ames, NASA, di California, proyek itu akan menemukan tempat-tempat dimana kondisi sempurna untuk mendukung kehidupan.

“Apa yang menarik perhatian dalam penemuan kami adalah planet-planet itu tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Suhunya cukup memadai,” katanya.

“Kami akan mencari planet-planet dengan suhu yang betul-betul memadai bagi adanya air cair di permukaan planet.”

Teleskop itu, yang siap memelototi sebuah tempat di langit dalam seluruh misinya, mampu melihat bintang-bintang yang kedipannya dipengaruhi planet-planet.

“Planet-planet seperti Bumi di kawasan yang dapat dihuni secara teoritis akan memerlukan waktu setahun untuk mengorbit,” jadi rentang kehidupan tiga tahun Kepler akan memungkinkan proyek itu untuk memastikan kehadiran sebuah planet dengan mengamati dampaknya yang tak kentara atas bintang-bintang yang diedarinya, kata NASA dalam sebuah pernyataannya.

“Jika kami menemukan banyak planet, ini tentu saja mengandung arti bahwa kehidupan boleh jadi suatu yang lazim di seluruh galaksi kita, dan ada peluang bagi kehidupan untuk memiliki tempat berkembang,” kata Borucki.

“Jika planet tak ditemukan atau hanya sedikit ditemukan, itu boleh jadi menegaskan bahwa planet-planet yang dapat didiami seperti Bumi sangat jarang dan Bumi kemungkinan satu-satunya pos terdepan bagi kehidupan,” katanya

Kategori: Astronomy · Space

Para Astronom Prancis Temukan “Planet Sauna”

Februari 8, 2009 · 1 Tanggapan

Sebuah observatorium Prancis yang mengorbit telah menemukan dunia jauh di luar Tata Surya, yakni planet yang sama dalam ukuran dengan Bumi namun sangat panas, sehingga pantas dijuluki sebagai “planet sauna”, para astronom melaporkan Selasa.

Planet itu besarnya hampir dua kali Bumi dan boleh jadi merupakan planet penuh dengan bebatuan, kata mereka dalam sebuah simposium di Paris.

Bahkan, penggemar fiksi ilmiah paling bergairah pun akan mengakui kalau planet itu tak dapat didiami.

CoRot-Exo-7B terletak begitu dekat dengan bintang induknya, sehingga permukaannya hangus terbakar, dengan suhu antara 1.000 hingga 1.500 derajat Celsius.

Benda langit yang disebut eksoplanet itu pertama kali dideteksi pada 1995 dan jumlah mereka yang telah diamati kini mencapai 337.

Hampir semua planet di luar Tata Surya itu merupakan gumpalan gas raksasa, serupa dengan Jupiter, ketimbang dengan planet yang terdiri atas bebatuan saja.

Benda langit baru itu dipergoki oleh sebuah tim dengan menggunakan pemburu eksoplanet Prancis, satelit CoRot, yang diluncurkan pada Desember 2006.

Mereka mendeteksi planet itu berkat kedipan cahaya yang kecil yang berlangsung setiap planet itu lewat di depan sebuah bintang jingga sekitar 400 tahun cahaya jauhnya.

Setahun hanya 20 jam

CoRot-Exo-7B menempuh lintasan yang sangat cepat. Ini  berarti “tahunnya”, yakni waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu kali orbit, lamanya hanya 20 jam saja.

Metode observasi tersebut menghasilkan perkiraan diameter planet itu, namun bukan massanya, yang harus dikalkulasi dengan menggunakan berbagai teleskop berpangkalan di darat.

“Planet itu kemungkinan benda penuh bebatuan dan ditutupi oleh lava cair,” kata para penemunya kepada AFP.

Menurut Daniel Rouan, pemimpin para penemu dari Observatorium Paris, planet itu boleh jadi masuk kategori planet setengah batu dan setengah air.

Dalam kasus ini, planet tersebut berupa “planet sauna”, mengingat betapa panasnya suhu di planet itu.

Sebuah planet dapat dihuni mahluk hidup kalau orbitnya cukup dekat dengan bintangnya, sehingga memungkinkan munculnya cairan dan memiliki atmosfir.

Orbit yang terlalu dekat merupakan aset berharga untuk melindungi diri dari ledakan radiasi surya dan terlalu jauh dapat membuat planet itu menjadi bola es abadi atau permanen

Kategori: Astronomy · Space

Satelit India Memburu Es di Kawah Bulan

Januari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dengan menggunakan radar khusus yang dibawanya, satelit Chandrayaan-1 milik India yang terbang di orbit Bulan mengamati bagian dasar kawah bulan yang gelap gulita. Para ilmuwan berharap dapat melihat bagian dalam kawah Bulan yang dingin dan gelap sehingga diduga terdapat es di dalamnya.

Instrumen yang disebut Mini-SAR, sebuah radar ringan dengan lubang bidik kamera sintetis, telah berhasil bekerja dengan baik dalam uji coba pertama dan mengirimkan data pertama berupa gambar. Gambar tersebut menunjukan dasar kawah kutub di bagian Bulan yang tidak terlihat dari Bumi. Alat tersebut digunakan untuk memetakan dan mencari air pada bagian kawah tersebut.

“Satu-satunya cara untuk menjelajahi area tersebut adalah dengan menggunakan radar foto orbit, seperti Mini-SAR. Ini langkah pertama yang menarik untuk tim yang telah bekerja selama lebih dari tiga tahun,” kata Wakil Kepala Penyidik Mini-SAR Benjamin Bussey dari Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins.

Gambar-gambar tersebut, yang diambil 17 November 2008, menampilkan sebagian kawah Haworth, yang terletak di kutub selatan Bulan, dan bagian barat kawah Seares. Bagian cerah dalam setiap gambar mencerminkan kekasaran permukaan atau lereng yang mengarah ke satelit. Pengumpulan data lebih lanjut oleh Mini-SAR dan analisa akan membantu para ilmuwan dalam menentukan apakah simpanan es tersebut secara permanen berada di dalam kawah yang terletak di dekat kutub bulan itu.

“Selama beberapa bulan ke depan kami berharap memiliki alat dengan kalibrasi penuh yang dapat mengumpulkan data ilmiah berharga di Bulan,” kata program eksekutif Mini-RF Jason Crusan.

Mini-SAR adalah salah satu dari 11 instrumen yang dibawa Chandrayaan-1 dan satu dari dua instrumen sumbangan NASA. Alat satunya lagi adalah Moon Mineralogy Mapper, spectometer yang akan menghasilkan peta Bulan secara keseluruhan dengan resolusi tinggi.

Chandrayaan-1 diluncurkan dari India’s Satish Dhawan Space Center pada tanggal 21 Oktober, dan mulai mengorbit di Bulan pada tanggal 8 November 2008. Misi utama satelit ini adalah memetakan permukaan Bulan.

Kategori: Astronomy · Space

Bima Sakti Ternyata Berputar Lebih Cepat dan Memiliki Massa Yang Lebih Besar

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bima Sakti (Milky Way), galaksi tempat beradanya Bumi, ternyata berputar jauh lebih cepat dan memiliki massa 50 persen lebih besar ketimbang perkiraan sebelumnya.

Sebagai akibatnya, kemungkinan Bima Sakti bertabrakan dengan galaksi lain semakin besar, demikian menurut sebuah laporan yang disiarkan Senin.

Sebuah tim astronom internasional, dengan bantuan 10 teleskop yang tersebar di antara Hawaii, Karibia dan AS timurlaut, memastikan bahwa Bima Sakti berputar pada kecepatan 161.000 kilometer per jam lebih cepat daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Naiknya kecepatan meningkatkan massa Bima Sakti dengan 50 persen, kata Mark Reid, dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, dalam riset yang disampaikan pada pertemuan Masyarakat Astronomi Amerika pada pekan ini di Long Beach, California.

“Kita tak akan lagi berpikir bahwa Bima Sakti adalah adik Galaksi Andromeda,” kata Reid dalam sebuah pernyataannya, seperti dikutip AFP.

Namun demikian, massa yang lebih besar itu juga berarti bahwa Bima Sakti memiliki tarikan gravitasi yang lebih besar, sehingga meningkatkan kemungkinan bertabrakan dengan Galaksi Andromeda atau galaksi-galaksi yang lebih kecil di dekatnya, katanya.

Pengukuran baru

Sistem tata surya tempat Bumi menjadi salah satu anggota keluarganya jaraknya sekitar 28.000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti.

Pada kejauhan ini, pengukuran baru memperlihatkan bahwa galaksi itu berputar dengan kecepatan 965.000 kilometer per jam, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya 804,672 kilometer per jam, ujar para astronom.

Pangamatan baru dari jaringan teleskop radio itu “menghasilkan pengukuran langsung yang lebih akurat mengenai jarak dan gerakan mereka,” kata Karl Menten dari Institut Astronomi Radio Max Planck di Jerman, anggota tim tersebut.

“Pengukuran ini menggunakan metode triangulasi surveyor tradisional dan tidak tergantung apa asumsi apapun yang didasarkan pada hal lain, seperti kecemerlangan,” ujar Menten.

Pengukuran langsung ini “merevisi pemahaman kita atas struktur dan gerakan Galaksi kita,” kata Menten.

Sulit untuk memastikan struktur Bima Sakti karena Bumi berada di dalamnya. “Untuk galaksi lainnya, kita dapat dengan mudah melihat mereka dan melihat strukturnya, namun kita tak bisa melakukan hal ini untuk mendapatkan citra secara keseluruhan Bima Sakti, kata Menten.

“Kita harus menarik kesimpulan strukturnya dengan mengukur dan memetakan,” imbuh Menten

Kategori: Astronomy

Komet Menghantam Bumi dan Menghasilkan Debu Permata Intan

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tanah yang kaya dengan intan yang ditemukan di Amerika Utara mengukuhkan teori bahwa berbagai meteor yang jatuh menyebabkan kepunahan hewan raksasa purba dan satwa lainnya, demikian menurut pengkajian yang disiarkan jurnal Science.

“Berbagai penemuan ini memberikan bukti kuat bagi peristiwa kosmik pada sekitar 12.900 tahun silam yang menimbulkan dampak luar biasa pada tanaman, hewan dan manusia di kawasan Amerika Utara,” kata Douglas Kenneth dari Universitas Oregon yang memimpin riset itu kepada AFP.

Penemuan itu nampaknya mendukung teori yang disampaikan pada 2007 bahwa beberapa komet yang menghantam Bumi memicu jaman es pada 1.300 tahun lalu, sehingga menyebabkan punahnya beberapa spesies hewan dan hancurnya budaya masyarakat Clovis pra-sejarah.

Orang Clovis hidup dari berburu dan berkumpul di kawasan yang kini adalah Amerika Serikat, Meksiko dan Amerika Tengah.

Puncak kejayaan manusia Clovis berlangsung pada 13.200 sampai 12.900 tahun sialm dan para ilmuwan menyatakan orang Clovis masuk ke Amerika Utara melalui “jembatan darat” dari Siberia.

Salah satu dari lapisan endapan kaya intan ditemukan para peneliti berada langsung di atas berbagai material Clovis pada situs di Murray Springs, Arizona, kata para peneliti.

Intan-intan berukuran nanometer itu dihasilkan pada suhu tinggi dan tekanan tinggi dari dampak kosmik yang telah ditemukan pada berbagai meteorit.

Lapisan yang penuh dengan debu intan juga ditemukan dalam penggalian pada lima situs lainnya, yakni Bull Creek, Oklahoma; Gainey, Michigan; dan Topper, South Carolina in Amerika Serikat dan Lake Hind, Manitoba; serta Chobot, Alberta di Kanada.

Intan-intan berukuran nano dapat dihasilkan di Bumi, namun hanya sebagai hasil ledakan dengan daya ledak tinggi dan penguapan kimia

Kategori: Archeology · Astronomy

Misteri Bintang Bethlehem dan Orang Majus Terlengkap

Desember 24, 2008 · 1 Tanggapan

Banyaklah sisi yang muncul ketika umat Kristiani menyambut Natal. Selain sukacita, dengan puji-pujian melalui musik yang melahirkan rasa bahagia tetapi juga kudus, ada pula sisi yang senantiasa menggugah bagi pencinta alam, jagat perbintangan, atau sains. Ini adalah teka-teki tentang apa sebenarnya Bintang Bethlehem yang mengiringi Kelahiran Sang Juru Selamat seperti dikisahkan dalam Injil Mateus.

Sepanjang tahun Masehi, Bintang Bethlehem banyak menjadi bahan kajian dan penelitian, tidak saja astronomi, tetapi juga astrologi. Salah satu buku yang tergolong mendalam mengupas Bintang Bethlehem adalah The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi karya Dr Michael Molnar (Rutgers, 1999). Molnar adalah astronom dan pendidik yang mendapatkan PhD dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, tahun 1971.

Tentang apa dan bagaimana persisnya ”bintang” yang dimaksud, program komputer modern, yang dapat divisualisasikan dalam planetarium bisa digunakan untuk menghadirkan kembali keadaan langit pada masa sekitar Yesus lahir.

Seperti digambarkan Molnar, setting waktu yang diduga kuat adalah 17 April tahun 6 sebelum Masehi, yakni dua tahun sebelum Raja Herodes meninggal. Saat itu Planet Jupiter muncul di langit timur sebagai bintang pagi di rasi Aries. Saat itu Matahari juga ada di Aries. Bulan juga sangat dekat dengan konjungsi dengan Jupiter. Planet Saturnus juga hadir, yang berarti bahwa ketiga penguasa Aries (Matahari, Jupiter, dan Saturnus) sedang singgah di Aries. Untuk era modern, situasi tersebut bisa disebut biasa (trivial). Namun, bagi pengamat bintang zaman dahulu, konfigurasi di atas sungguh mencekam (Molnar, situs eclipse.net).

Apakah Bintang Bethlehem adalah komet? Komet menurut keyakinan orang pada waktu itu dikaitkan dengan raja yang bertakhta akan wafat atau pratanda akan datangnya perang atau kekacauan, jadi dipercayai juga bukan obyek yang pas untuk satu kelahiran agung.

Lalu, apakah bintang itu sebuah supernova (bintang raksasa yang meledak)? Di sini pun Molnar mengatakan tidak ada bukti sejarah dari zaman dahulu bahwa supernova menandai kelahiran seorang raja. Seperti halnya komet, supernova merupakan ide zaman modern.

Lalu, apakah Bintang Bethlehem merupakan bintang keajaiban? Astronom besar, Johannes Kepler, mengira bintang itu adalah sebuah keajaiban disertai dengan fenomena alam, seperti konjungsi tripel, bahkan juga supernova yang ia amati tahun 1604. Namun, Molnar menyatakan, untuk menjelaskan Bintang Bethlehem tak perlu menghadirkan bintang ajaib.

Tentu saja akan ada penjelasan lebih lengkap jika ada catatan lebih rinci dari orang- orang Majus tentang Bintang Bethlehem. Mereka inilah orang yang dikenal sebagai orang bijak yang amat berpengetahuan. Majus (magus, jamaknya magi) asalnya dari kasta pendeta Zoroaster. Karena pandai, menguasai ilmu perbintangan dan ketabiban, cakap menyembuhkan orang sakit, menafsir mimpi, dan menyampaikan ramalan, mereka ini lalu dikenal sebagai orang yang punya keahlian magic—kata yang diturunkan dari nama mereka.

Seandainya ada teleskop

Seandainya ketiga orang Majus yang melihat Bintang Bethlehem saat itu sudah dilengkapi dengan teropong bintang (teleskop) pastilah deskripsi mereka akan lebih gamblang lagi. Namun, seperti kita tahu, teleskop baru muncul pada tahun 1608 atau enam abad setelah kelahiran Kristus.

Teleskop dalam perkembangannya lalu menjadi instrumen demikian vital bagi ilmu astronomi, bahkan sebetulnya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa astronomi modern lahir tahun 1608 ketika penemuan teleskop disampaikan kepada dunia. Untuk menandai 400 tahun teleskop yang digunakan untuk astronomi ini pula, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional.

Memang peristiwa yang terjadi 400 tahun silam ini amat bersejarah. Teleskop dipatenkan di Belanda. Orang yang diakui sebagai penemu teleskop adalah Hans Lippershey. Teleskop saat itu dijelaskan sebagai alat ”untuk melihat benda-benda jauh sehingga tampak dekat”. Sebenarnya, selain Lippershey, ada juga orang lain yang mendaftarkan paten untuk alat serupa, yakni Sacharias Jansen dan Jacob Metius.

Pemanfaatan teleskop sendiri mendapatkan momentum setelah ilmuwan Italia, Galileo Galilei, mulai melaporkan temuan menghebohkan dengan bantuan teleskop tahun 1609. Pada November 1609, ia mengarahkannya ke langit malam.

Galileo, yang merupakan seorang pendukung Teori Heliosentrik Kopernikus, meneguhkan dukungannya setelah ia puas menikmati dengan teleskopnya kawah-kawah Bulan dan empat satelit/bulan utama planet Jupiter, yakni Io, Europa, Ganymede, dan Callisto—yang kini disebut sebagai bulan-bulan Galilean. Galileo yakin Kopernikus benar dan bahwa sistem benda langit saling mengelilingi satu sama lain dan Bumi mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. (Mengenai pengguna pertama teleskop untuk astronomi sebenarnya ada Thomas Harriot asal Inggris yang mengalahkan Galileo karena ia sudah beberapa bulan lebih dulu, tetapi ia tidak pernah menerbitkan penemuannya.)

Teleskop yang jejak awalnya bisa ditelusuri sejak abad ke-2 Masehi, yaitu ketika matematikawan dan astronom Claudius Ptolomeus menerbitkan Optics, yang menjelaskan fenomena refraksi cahaya dari satu zat ke zat lain, terus mengalami perkembangan penting (Astronomy Now, 10/08). Perkembangan setelah teleskop Galileo antara lain lahirnya teleskop reflektor ciptaan Sir Isaac Newton (1666), lalu teleskop ciptaan rohaniwan Katolik dari Perancis, Laurent Cassegrain, yang dikenal hingga kini. Teleskop juga makin bertambah besar, dipelopori oleh teleskop William Herschel (1789).

Abad ke-20 pun menyaksikan munculnya teleskop penting untuk menyelidiki bintang-bintang jauh dan galaksi, seperti yang ada di Gunung Wilson dan Gunung Palomar di AS. Selain untuk panjang gelombang visual, astronom juga membuat teleskop radio, juga teleskop untuk menangkap gelombang inframerah.

Tak puas dengan teleskop yang berbasis di Bumi karena banyaknya gangguan atmosferik, astronom pun meluncurkan teleskop Hubble (1990) untuk dipangkalkan di ruang angkasa. Dengan teleskop angkasa ini, pandangan pun lalu menjangkau tepian alam semesta pada jarak sekitar 12 miliar tahun cahaya. (Satu tahun cahaya = 9.500.000.000.000 kilometer).

Teleskop memang ditemukan enam abad setelah dilaporkannya Bintang Bethlehem sehingga orang Majus belum berkesempatan menggunakannya untuk melihat lebih jelas bintang terang di Timur. Namun jelas, laporan ketiga orang Majus, selain bermakna religius, juga secara ilmiah menghidupkan minat penyelidikan alam

Kategori: Astronomy

Bintang Keridl Coklat Paling Redup Bersembunyi di Kegelapan Langit

Desember 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jauh di kegelapan langit di antara kilau cahaya bintang terdapat objek ruang angkasa yang tersembunyi. Itulah bintang kerdil cokelat (brown dwarf) atau bintang gagal yang cahayanya begitu redup dan ringan untuk disebut bintang namun terlalu besar dan panas dikatakan planet.

Bisa dibayangkan, dua objek terakhir yang ditemukan memancarkan cahaya dengan kekuatan hanya sepersejuta kali cahaya Matahari. Kedua objek yang diketahui merupakan kembar itu tercatat sebagai bintang kerdil paling redup sejauh ini.

Dua bintang kembar yang diberi nama 2MASS J09393548-2448279 atau pendeknya 2M 0939 itu ditemukan dalam Two Micron All-Sky Survey yang dilakukan NASA di kontelasi Antlia. Saat mendeteksi pertama kali tahun 1999, objek yang berada 17 tahun cahaya dari Bumi dikira objek tunggal namun setelah diamati lebih intensif menggunakan teleskop ruang angkasa Spitzer diketahui kembar. Ukurannya masing-masing antara 30-40 kali Planet Jupiter dan suhu permukaannya antara 240-360 derajat Celcius atau beberapa ratus lebih panas dari Planet Jupiter.

“Kedua objek untuk pertama kalinya memecahkan rekor lebih rendah dari sepersejuta kali cahaya yang dipancarkan Matahari,” ujar Adam Burgasser dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) yang melaporkannya dalam Astrophysical Journal Letters.

Bintang kerdil cokelat adalah salah satu keunikan alam semesta. Meski disebut cokelat, warnanya sebenarnya terus berubah-ubah. Hanya dengan mata telanjang melalui teleskop, objek ini kelihatan kemerahan. Karena tersamar dan sulit terdeteksi, bintang kerdil cokelat baru pertama kali disadari keberadannya tahun 1995. Sesudah itu ratusan lebih telah ditemukan dan masih banyak yang diperkirakan bakal terungkap dalam pengamatan-pengamatan di masa mendatang.

Kategori: Astronomy

Teleskop Antariksa Hubble Temukan CO2 di Planet Luar Tata Surya

Desember 12, 2008 · 2 Tanggapan

Teleskop Antariksa Hubble telah menemukan karbon dioksida (CO2) di atmosfir sebuah planet yang mengorbit bintang lain, badan antariksa AS, NASA, menyatakan Selasa.

Terobosan itu adalah langkah penting ke arah ditemukannya jejak biokimia mengenai kehidupan di luar bumi.

Planet sebesar Jupiter, yang disebut HD 189733b itu, berada sejauh 63 tahun-cahaya dari Bumi.

Planet tersebut terlalu panas untuk kehidupan, tetapi pengamatan Hubble memberikan petunjuk bukti konsep bahwa bahan kimia dasar bagi kehidupan dapat diukur di planet yang mengorbit bintang lain.

Susunan organik juga dapat menjadi produk tambahan proses kehidupan dan jejak mereka di planet Bumi pada suatu hari bisa menyediakan bukti pertama mengenai kehidupan di luar planet kita.

Pengamatan sebelumnya mengenai HD 189733b oleh Teleskop Antariksa Hubble dan Spitzer mendapatkan uap air. Awal tahun ini, Teleskop Hubble menemukan gas methane di atmosfir planet tersebut.

“Semua studi atmosfir ini akan mulai menetapkan susunan dan proses kimia yang beroperasi di dunia jauh yang mengorbit bintang lain. Masa depan perbatasan ilmu pengetahuan yang terkuak ini sangat menjanjikan karena kami berharap akan menemukan banyak lagi molekul di atmosfir planet di luar tatasurya,” kata ilmuwan program Teleskop Hubble NASA, Eric Smith, seperti dikutip Xinhuanet

Kategori: Astronomy · Space