Arsip Kategori: Archeology

Piramida Gunung Padang Akan Dibuat Sketsanya dan Tim Ahli Jermanpun Berminat

Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang sudah melakukan analisis teknologi terhadap kemungkinan ‘piramida’ di Gunung Padang. Sketsa gambar pun sudah dibuat. Bagaimana bentuknya? Berdasarkan gambar yang dibuat oleh Ir Pon Purajatnika, situs yang terletak di Cianjur, Jawa Barat itu, mirip dengan piramida di Mesir. Namun bentuknya memang tidak sempurna mengerucut.

Ratusan batuan berundak-undak menghiasi sekeliling bangunan. Sementara tangga tradisional juga dibangun sebagai jalan menuju puncak yang berbentuk mirip tempat pemujaan atau upacara tertentu. Andi Arief, selaku dewan pengarah tim terpadu ini mengatakan, teknologi yang digunakan untuk penelitian awal situs tersebut adalah georadar dan geothermal. Sebagai kesimpulan awal, Andi dan tim peneliti meyakini ada sebuah bangunan buatan manusia yang dibuat pada zaman purba namun tertutup tanah karena bencana.

Saat ini, tim baru selesai melakukan pengeboran sampel di gunung tersebut. Dalam temuan sementara, ada sejumlah batuan dan mineral yang ditemukan untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium Universitas Indonesia. “Jadi ini belum eskavasi, masih pengeboran sampai 30 cm. Dan itu pun dilubangi sedikit saja, bukan merusak seluruhnya,” kata Andi saat ditemui di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012).

Hasil pengambilan sampel dan hipotesa awal lewat pendekatan teknologi nanti akan diserahkan ke otoritas berwenang. Bila fakta-fakta yang ditemukan mendukung kesimpulan awal soal situs purba di lokasi tersebut, maka penggalian besar-besaran baru dilakukan.”Sistem penganggaran kita masih harus menunggu fakta dulu. Jadi kita harus temukan dulu faktanya, baru bisa eskavasi,” terangnya. Sebelumnya banyak pihak meyakini bahwa Situs Gunung Padang merupakan sebuah punden berundak. Situs itu mirip dengan situs Lebak Sibedug di Banten.

Meski belum dilakukan penggalian besar-besaran, situs Gunung Padang sudah memberi banyak temuan menakjubkan. Selain tembikar dan batuan unik, kini ditemukan juga batu-batu yang diduga memiliki gambar aksara kuno di dalamnya. “Yang belum tersosialisasi ada batu beraksara, di batu itu seperti huruf atau kata,” kata asisten staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana, Erick Ridzky, saat ditemui di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012). Menurut Erick, di batu tersebut ada gambar dan simbol yang diyakini memiliki makna tertentu. Belum jelas dari zaman apa batu itu berasal, yang pasti banyak dijumpai di situs Gunung Padang.

Dari gambar yang ditunjukkan, terlihat batu-batu itu berwarna hitam. Simbol-simbol yang terlihat hampir menyerupai gambar tertentu, seperti hewan atau bentuk bangunan. “Di setiap batu ada garis di bagian pojok kanan bawah. Itu seperti semacam tanda untuk orang membaca,” terangnya. Meski begitu, Erick tak mau buru-buru membuat kesimpulan. Dia akan membawa temuan ini ke ahli yang bisa membaca tulisan kuno atau paleografi. Sementara temuan lain, kini masih diteliti di laboratorium geotek Universitas Indonesia. “Kita akan lihat nanti hasilnya,” ucap Erick.

Kabar soal situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, membuat para peneliti asing tergerak. Mereka berharap bisa ikut terlibat dalam proses penelitian hingga penggalian nanti.

“Sudah ada yang ngontak, peneliti Jerman dan Singapura, dan negara-negara lain,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, kepada detikcom di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Senin (21/5/2012). Andi mengkoordinasi para peneliti yang tergabung dalam Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang. Menurut Andi, para peneliti asing itu tertarik karena situs Gunung Padang menyimpan potensi sumber ilmu pengetahuan baru soal sejarah Indonesia, bahkan dunia. Mereka juga ingin mengetahui soal latar belakang bangunan tersebut.

Meski begitu, mantan aktivis ’98 ini tak mau memberi izin pada peneliti asing hingga proses penelitian selesai. Dia menilai, para peneliti lokal masih banyak yang mampu bekerja dengan baik. “Kita akan membuka diri untuk masalah kaidah intelektual. Tapi untuk membantu proses penggalian atau penelitian, kita masih mampu,” tegasnya. Sekadar informasi, tim terpadu ini terdiri dari 30 orang dengan berbagai latar belakang. Andi Arief bersama rektor UI Gumilar Sumantri dan ahli lainnya duduk sebagai tim pengarah. Sedangkan untuk tim teknis, dikomandoi oleh Arkeolog UI Ali Akbar dan Danny Hilman untuk urusan geologi. Diketahui situs Gunung Padang merupakan sebuah punden berundak. Bangunan itu dibangun di masa prasejarah.

Tim arkeologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Universitas Erlangga Surabaya Temukan Manusia Purba Di Goa Song Genthong Tulungagung

Tim arkeologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Universitas Erlangga Surabaya menemukan jejak manusia purba di Goa Song Genthong Tulungagung. Mereka meminta pemerintah daerah membebaskan kawasan itu dari aktivitas penambangan.

Setelah menyelidiki selama empat hari, tim arkeolog yang beranggotakan Rusyad Adi Suriyanto, Toetik Koesbardiati, dan Agus Tri Hascaryo menemukan jejak manusia purba, di antaranya sisa-sisa hewan atau ekofak serta sisa peralatan hidup seperti peralatam batu dan tembikar atau artefak. “Ini bukti adanya kehidupan manusia purba,” kata Rusyad, Senin, 7 Mei 2012.

Selain benda-benda tersebut, tim pengeksplorasi wilayah mulut goa di Desa Besuki, Kecamatan Besole ini menemukan mata rantai kehidupan biologis manusia purba. Di sana terdapat sungai yang mengalir tepat di depan Goa Song Genthong. Sungai ini diyakini sebagai sumber garam dan cairan manusia purba.

Dari sekian petunjuk tersebut, temuan paling menguatkan keberadaan manusia purba ini adalah rahang bawah dan gigi-gigi makhluk Carnivora dari Ceon Javanica, Tapirus, dan sebagainya.

Tim menemukan bagian ujung atas tulang tibia kiri manusia purba di lokasi itu. Makhluk-mahkluk ini diperkirakan masih terikat kekerabatan Homo Wajakensis yang ditemukan di Tulungagung. “Kami akan lakukan uji DNA atas benda-benda ini,” kata Rusyad.

Tim berharap Pemerintah Tulungagung mensterilkan kawasan itu dari aktivitas penambangan. Saat ini banyak warga menambang marmer di sekitar lokasi penemuan. Pekerjaan itu telah mereka geluti bertahun-tahun dan tak bisa dihentikan.

Tim Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B) Tulungagung sebelumnya menemukan sedikitnya 157 fosil benda purbakala di Dusun Mbolu, Desa Ngepo, Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung. Fosil yang ditengarai sebagai sampah manusia purba atau Kjokken Maddinger itu diduga berumur lebih tua dari manusia purba pertama Homo Wajakensis.

Ketua KS2B, Triyono meyakini Kjokken Maddinger sudah ada pada zaman manusia purba Mesolitikum. Usia barang-barang prasejarah yang berwujud tulang, terumbu karang dan gastropoda atau sejenis siput, cangkang kerang, keong dan tiram diperkirakan antara 20.000–40.000 tahun sebelum Masehi. “Sementara Homo Wajakensis berusia di bawah 15.000 tahun sebelum Masehi,” katanya.

Ribuan Fosil Di Situs Patiayam Kudus Terlantar Karena Tidak Ada Dana 16 Milyar Rupiah Untuk Bangun Museum

Ribuan fosil dan fragmen alias serpihan purba dari situs Patiayam, kini “telantar” di kantor balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Kumpulan fosil berusia 700 ribu hingga satu juga tahun itu disimpan begitu saja dalam salah satu ruangan di balai desa tersebut.

“Dinas belum memiliki tempat yang representatif untuk penyimpanan fosil,” kata Sacaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, kemarin.

Penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta sejauh ini berhasil mengumpulkan sekitar 3.000 fosil dan fragmen atawa serpihan. Tapi yang sudah diidentifikasi baru sekitar 1.000 fosil. Karena tak tempat yang memadai, untuk sementara fosil-fosil itu disimpan di balai Desa Terban, sedangkan sisanya di kantor Dinas Kebudayaan.

Menurut Sacaka, di antaranya ada fosil gading gajah purba sepanjang 3,7 meter, fosil kerang, kepala kerbau, rahang kudanil, dan rahang gajah. Selain itu, di lokasi tersebut ditemukan fosil manusia purba kelompok hominid atau Homo erectus.

Situs Patiayam masuk peta Paleoantropologi Indonesia setelah Sangiran, Trinil, Ngandong, Ngawi, dan Perning. Situs ini juga telah terdaftar sebagai salah satu warisan dunia versi Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO. Peneliti pertama yang masuk ke Patiayam adalah Van Es (1931). Pada waktu itu, ia menemukan sembilan fosil vertebrata.

Sebenarnya, sejak 10 tahun lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus ingin membangun sebuah museum di lokasi tersebut. Namun, karena terbentur dana, rencana pembangunan museum senilai Rp 16 miliar itu tak pernah terlaksana. “Desa Terban telah menyiapkan lahan seluas 7.500 meter persegi, tapi kami masih mengkaji asal sumber dananya,” kata Hadi Sucipto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus.

Fosil purba yang ditemukan di situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus tampak kurang terawat. Benda purba itu semula ditempatkan di rumah Mustofa, perawat fosil, dan kini disimpan di Balai Desa Terban, ”Sebab, dinas belum memiliki tempat yang layak untuk penyimpanan fosil,” kata Sacaka Dwi Supani, Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Jumat (10/12). Tempat itu, kata Supani, sifatnya sementara dan kebetulan pemerintah desa mengizinkan sebagian ruang balai desa menjadi tempat penyimpanan fosil.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus berencana untuk membangun museum di lokasi tersebut dengan anggaran Rp 16 miliar. Pemerintah Desa Terban telah menyiapkan lahan seluas 7.500 meter persegi. “Kami masih mengkaji asal sumber dananya,” kata Supani.

Rencana itu sudah digulirkan sejak 10 tahun lalu, kata Mustofa, tapi tidak pernah direalisasikan. “Rupanya museum ini belum dibutuhkan pemerintah kabupaten,” kata dia.

Jumlah fosil Patiayam mencapai sekitar 3.000 fosil dan fragmen. Menurut Supani, 2.000 fosil di antaranya belum diidentifikasi. Bahkan, jumlahnya akan terus bertambah karena Balai Arkeologi Yogyakarta sering melakukan penelitian dan evakuasi di sana. Untuk sementara, 1.200 fosil tersimpan di balai desa dan sisanya disimpan di Kantor Dinas Kebudayaan. Balai Arkeologi Yogyakarta sedang melakukan identifikasi guna melindungi aset daerah Kabupaten Kudus. “Kalau tidak segera diidentifikasi, kami khawatir akan hilang,” kata Supani.

Sebagian fosil itu di antaranya berupa gading gajah purba yang sepanjang 3,7 meter dengan kisaran usia 700 ribu-1 juta tahun yang lalu. Ada pula fosil kerang, kepala kerbau, rahang kuda nil dan rahang gajah. Hasil temuan fosil Patiayam lebih lengkap dan beragam dan termasuk dalam peta paleoantropologi di Indonesia setelah Sangiran, Trinil, Ngandong, Ngawi dan Perning. Situs Patiayam juga masuk dalam daftar warisan dunia yang dikeluarkan UNESCO.

Selain fosil binatang purba, di lokasi itu juga ditemukan fosil manusia purba kelompok hominid atau homo erectus. Peneliti pertama yang masuk ke Patiayam adalah Van Es pada 1931. Pada waktu itu, ia menemukan sembilan fosil vertebrata. Kemudian menyusul Van Bemmelen pada 1948. “Untuk yang terakhir ini, kami masih menunggu kajian Balai Pelestarian Fosil Sangiran,” kata Hadi Sucipto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.

Ditemukan Fosil Mammoth Dengan Warna Rambut Pirang dan Merah

Ada yang unik dari penemuan terbaru fosil mammoth di Siberia. Selain tubuhnya yang masih terawetkan utuh, hewan purba yang hidup di zaman es tersebut memiliki rambut berwarna pirang agak merah muda (blonde stroberi).

Yuka, nama fosil mammoth remaja tersebut, ditemukan di sebuah tebing beku di Siberia, Menurut para ilmuwan, Yuka memberikan pemahaman penting tentang rahasia hewan raksasa berbentuk mirip gajah yang selama ini belum diketahui, seperti rambut dan warna matanya.

Para ilmuwan yang memeriksa tubuh Yuka menemukan banyak misteri. Tubuh fosil itu, misalnya, menunjukkan manusia purba diduga kuat mencuri sisa bangkai Yuka selepas mati dimangsa singa. Hal itu diketahui dari luka konsisten pada tubuh mammoth yang diduga kuat akibat serangan manusia dan singa.

Jika benar, temuan itu akan menjadi bukti pertama adanya interaksi antara mammoth dan manusia purba yang pernah ditemukan di daerah tersebut.

Yuka diperkirakan berusia tiga sampai empat tahun ketika mati dan masih memiliki bantalan kaki dan rambut yang tumbuh di sela-selanya. Para ilmuwan memperkirakan Yuka terkubur dalam es selama lebih dari 10 ribu tahun. Tubuh Yuka berikut cidera yang dialaminya terawetkan dengan baik di dalam es.

Kevin Campbell, profesor fisiologi lingkungan dan evolusi di University of Manitoba, Kanada, mengatakan satu hal paling mencolok tentang Yuka adalah warna pirang-stroberi rambutnya.

“Mammoth-mammoth sebelumnya memiliki rambut yang lebih gelap. Sempat ada kemungkinan rambut mammoth berwarna lebih terang saat para ilmuwan pada 2006 menganalisis gen dari tulangnya,” ujar Campbell.

Dia mengatakan, temuan fosil Yuka bakal membantu para ahli menentukan adanya variasi warna mata dan rambut di antara populasi mammoth. “Ini adalah temuan yang sangat langka dan memiliki makna besar,” kata dia.

Pakar lain menyoroti pentingnya cidera serius yang dialami Yuka. Cidera itu mengindikasikan manusia purba mungkin telah rebutan dengan predator lain untuk mencuri bangkai Yuka. Mereka menunjukkan Yuka muda memiliki kaki yang baru saja patah dengan luka serius, serta goresan luka yang lebih tua yang mungkin menunjukkan mammoth tersebut pernah selamat dari serangan predator sebelumnya.

Tubuh Yuka tidak hanya menunjukkan kerusakan konsisten akibat serangan singa, tapi juga memiliki tanda bekas potongan dan bukaan yang hanya mungkin dilakukan oleh makhluk yang lebih cerdas, dalam kasus ini adalah manusia purba.

Daniel Fisher, profesor ilmu bumi dan lingkungan di University of Michigan, Amerika Serikat, mengatakan ada bukti-bukti dramatis dari sebuah perjuangan hidup dan mati antara Yuka dan beberapa predator puncak. “Yang lebih menarik, ada petunjuk bahwa manusia purba mungkin mengambil alih pembunuhan Yuka,” ujar dia.

Yuka pertama kali ditemukan pemburu gading di Siberia. Fosil tersebut kemudian diambil alih oleh organisasi Mammuthus, sehingga memungkinkan para ahli untuk mulai menganalisanya.

Yuka bukanlah fosil mammoth pertama yang ditemukan, tetapi kondisinya sangat berbeda dengan fosil-fosil sebelumnya. Tubuh Yuka luar biasa terawetkan dengan baik, termasuk jaringan lunak, otot, kulit, dan organ internal yang biasanya jarang ditemukan pada bangkai mammoth.

Fosil Charles Darwin Yang Hilang Telah Ditemukan dan Siap Dipajang Secara Online

Ilmuwan Inggris telah menemukan kembali puluhan fosil milik penemu teori evolusi, Charles Darwin. Fosil itu dikumpulkan Darwin dan rekan-rekannya, tetapi hilang selama lebih dari 150 tahun.

Dr Howard Falcon-Lang, seorang ahli paleontologi di Royal Holloway, Universitas London, mengatakan ia tersandung kaca slide di British Geological Survey. Tak dinyana, slide itu ternyata berisi fosil-fosil Darwin. Menggunakan senter, ia mengintip ke dalam lemari kayu tua dan menemukan satu spesimen pertama dengan cap ‘C. Darwin Esq.’ pada bagian bawahnya.

“Ini butuh waktu hanya untuk meyakinkan diri bahwa itu tanda tangan Darwin pada slide,” katanya. Ia menambahkan, dirinya segera menyadari telah menemukan satu spesimen yang “cukup penting namun diabaikan”.

Yang ditemukan Falcon-Lang adalah kumpulan dari 314 slide spesimen yang dikumpulkan oleh Darwin dan anggota lingkaran dalamnya, termasuk John Hooker – teman botani dan sahabat dekat Darwin – dan Pdt John Henslow, mentor Darwin di Cambridge, yang putrinya kemudian menikah dengan Hooker.

Slide yang ditemukan di salah satu sudut yang digambarkannya ‘gelap dan berdebu’ di British Geological Survey adalah salah satu spesimen yang dikumpulkan oleh Darwin selama ekspedisi terkenal di HMS Beagle, yang mengubah karir lulusan Cambridge ini menjadi penggagas teori evolusi.

Slide itu berupa potongan fosil kayu dan tanaman yang disayat menjadi lembaran tipis dan ditempelkan pada kaca agar bisa dipelajari di bawah mikroskop. Beberapa slide setengah kaki panjangnya (15 cm).

Falcon-Lang mengatakan fosil yang ditemukan menjadi alat untuk mempelajari sebuah periode sejarah para ilmuwan. “Sungguh sangat berharga menemukan spesimen Darwin dari pelayaran Beagle,” tambah Falcon-Lang. “Kita bisa lebih banyak mempelajarinya. Ada banyak fosil yang sangat, sangat signifikan di sana, yang kita tidak tahu itu ada.”

Dia mengatakan, salah satu yang paling berharga adalah koleksi Hooker, yaitu spesimen dari prototaxites, jamur yang menempel pada pohon yang usianya sudah 400 juta tahun.

Hooker mengumpulkan koleksi itu saat sebentar bekerja untuk British Geological Survey pada 1846, menurut sumber Royal Holloway.

“Bagaimana slide itu begitu lama diabaikan adalah sebuah misteri tersendiri,” ujar Falcon Lang. Ia berspekulasi bahwa mungkin hal ini dikarenakan Darwin tidak dikenal secara luas pada tahun 1846 sehingga koleksinya tidak diberikan pada “kuratorial perawatan yang tepat.”

Royal Holloway mengatakan fosil itu ‘hilang’ karena Hooker gagal mendaftarkannya dalam registrasi specimen resmi sebelum memulai sebuah ekspedisi ke pegunungan Himalaya. Pada 1851, fosil yang kemudian dilabel “tidak terdaftar” ini dipindahkan ke Museum of Practical Geology di Piccadilly sebelum dipindahkan ke Museum Geologi Kensington Selatan pada tahun 1935 dan kemudian ke kantor pusat British Geological Survey di dekat Nottingham 50 tahun kemudian.

Penemuan spesimen ini sebetulnya terjadi pada April lalu, namun butuh waktu lama untuk mengetahui keaslian slide itu. Menurut Falcon-Lang slide kini telah difoto dan akan dipamerkan secara online segera.

Sepupu T Rex Ditemukan Di Tambang Dinosaurus Di Shandong China

Sejenis dinosaurus baru telah diidentifikasi dari fosil yang digali di Cina dan telah dijuluki “sepupu T-Rex”.

Makhluk raksasa itu berkeliaran di Amerika Utara dan Asia timur antara sekitar 65 juta dan 99 juta tahun yang lalu.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr David Hone, dari University College Dublin, menemukan fragmen fosil dari pemakan daging itu di lokasi “tambang dinosaurus” di provinsi Shandong, Cina timur.

Dikenal sebagai theropoda karena berjalan di atas dua kaki belakang, dinosaurus tersebut disebut sebagai saudara dekat T-rex.

Hal ini diidentifikasi dari tengkorak, tulang rahang dan potongan gigi. Berdasarkan ukurannya, dia diperkirakan memiliki ukuran panjang sekitar 11 meter, tinggi sekitar 4 meter dengan berat hampir enam ton.

Dr Hone, dari jurusan biologi dan ilmu lingkungan UCD, menghabiskan tiga tahun di situs Shandong sebelum bergabung dengan perguruan tinggi Dublin.

“Ini jenis T-rex besar lainnya dan hal-hal seperti ini tidak muncul setiap hari. Ini salah satu predator terbesar sepanjang masa,” katanya.

“Ini T-rex super-raksasa pertama yang ditemukan dalam waktu yang cukup lama. Ini akan menjadi puncak rantai makanan karena dia menjadi pemangsa terbesar di luar sana, tetapi ada beberapa pasangan lagi di luar sana yang seukuran.”

Sepupu T-Rex itu memiliki tengkorak sepanjang tiga kaki dan bulat, dengan gigi sepanjang 3,5 inci.

Dinosaurus ini telah resmi dinamakan Zhuchengtyrannus magnus untuk menghormati Zhucheng, kota di mana fosil itu ditemukan. Tetapi karena ukurannya yang besar, para ilmuwan cepat menyebutnya sepupu T-Rex.

Laporan penelitian ini diterbitkan dalam Cretaceous Research di jurnal online Science Direct.

Ribuan Peninggalan Zaman Megalitikum Ditemukan Di Pagaralam Sumatera Selatan

Warga Dusun Rimbacandi, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan ribuan tinggalan masa megalitikum berupa lupang batu di pinggir Sungai Merah. Lumpang batu ini letaknya berjejer menelusuri alur Sungai Merah sepanjang 4 kilometer.

Lumpang batu yang ditemukan warga di Pagaralam, Jumat, jumlahnya cukup banyak, dengan posisi berjejer di sepanjang aliran Sungai Merah di daerah perbatasan antara Kota Pagaralam dengan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

“Megalit lumpang batu ini posisinya berada di tengah hutan belantara dan di aliran Sungai Merah berjarak sekitar 30 kilometer dari permukiman warga atau harus menempuh empat jam dengan berjalan kaki menelusuri hutan Rimbacandi,” kata Yarsana, warga setempat.

Menurut dia, megalit ini ditemukan ketika tim ekspedisi melakukan penjelajahan di kawasan Bukit Raje Mandare dan hutan Rimbacandi.

“Bentuk lumpang batu itu cukup unik, bulat dengan diameter sekitar 30 centimeter atau sama dengan lingkaran bola voli dan dengan dalam sekitar 15 cm,” kata dia.

“Selain itu, di sekitar lumpang batu itu, juga terdapat dinding terbuat dari batu setinggi puluhan meter menyerupai susunan batu bata, hanya saja bentuknya tipis dan memanjang,” kata Yarsana lagi.

Diduga lumpang batu ini memang sengaja dibuat oleh nenek moyang zaman Kerajaan Sriwijaya, karena disekitar alur Sungai Merah terdapat tambang emas.

Kemungkinan lumpang batu itu sebagai alat untuk pengolahan emas pada zaman Kerajaan Sriwijaya, karena di lokasi itu masih ditemui warga setempat melakukan penambangan secara tradisional.

Cukup banyak bebatuan yang ditemukan di lokasi tersebut, seperti lesung batu, kursi batu, ranjang batu dan ornamen mirip dengan pintu gerbang candi.

“Cukup banyak penemuan megalit di kawasan Rimbacandi termasuk arca, dan batu-batu mirip dengan reruntuhan bangunan candi,” ujar dia lagi.

Ketua Tim Balai Arkeologi Palembang Sumsel, Kristantina Indriastuti, membenarkan, memang di tanah Pasemah meliputi Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, Emmpatlawang dan termasuk Provinsi Bengkulu, cukup banyak ditemukan peninggalan prasejarah.

“Megalit yang baru ditemukan di Rimbancandi Kota Pagaralam itu, masih perlu diteliti lagi untuk mengungkap yang lainnya,” ujar dia.

Kristantina mengatakan, penemuan ribuan lumpang batu di alur Sungai Merah Dusun Rimbacandi, Kelurahan Candijaya, Kecamatan Dempo Tengah, kemungkinan merupakan alat untuk pengolahan emas pada zaman Kerajaan Sriwijaya.

“Namun perlu dibuktikan secara ilmiah untuk mengetahui dengan pasti, peninggalan zaman apa dan berapa tahun umurnya,” kata dia lagi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pagaralam, Sukaimi, didampingi Sekretaris, M Helmi, mengatakan, penemuan ini cukup luar biasa, apalagi megalit lumpang batu ditemukan dalam satu lokasi dan jumlahnya mencapai ribuan.

“Sebagian besar sudah dilakukan pendataan dan pembebasan lahan, namun kalau yang baru ditemukan ini perlu dilakukan koordinasi dengan pemerintah Provinsi Bengkulu, karena letaknya berada di perbatasan dua daerah di sini,” ujar dia.

Ia melanjutkan, pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk pemeliharaan semua penemuan benda bersejarah termasuk membuat museum tempat menyimpan berbagai benda yang memiliki nilai sejarah tersebut.

Misteri Unur dan Lemah Duwur Di Cibuaya dan Batujaya Karawang

BERPULUH tahun lamanya penduduk Cibuaya dan Batujaya, daerah yang letaknya di bagian utara Karawang, menganggap unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai misteri. Sebagian ada yang beranggapan tempat itu bekas benteng pasukan Mataram yang akan menyerbu VOC di Batavia. Maklum, daerah utara Karawang pada abad 17 pernah dijadikan basis pertahanan Mataram sebelum menyerbu Batavia.

Tetapi sebagian lagi menghubungkan unur dan lemah duwur di daerahnya sebagai tempat angker. Unur Jiwa di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya misalnya, pernah dikait-kaitkan dengan mistik. Ketika daerah itu dilanda banjir Citarum sebelum dibangun Waduk Ir Djuanda di Jatiluhur misalnya, Unur Jiwa pernah dijadikan kandang ternak kambing milik penduduk karena daerah itu letaknya lebih tinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitarnya.

“Tetapi sore dimasukkan kandang, paginya selalu ada yang mati,” cerita penduduk setempat. Karena itu, tanah yang lebih tinggi di daerah itu lalu dinamakan Unur Jiwa.

Unur dan lemah duwur adalah timbunan tanah setinggi 2-3 meter di atas permukaan tanah sekitar sehingga menyerupai bukit kecil. Di dua daerah itu ada lebih 20 unur dan lemah duwur dengan latar belakang kepercayaan penduduk setempat yang bervariasi. Padahal, Unur Jiwa yang selama ini dihubung-hubungkan dengan mistik, sebenarnya tidak berbeda dengan unur-unur lain yang ada di daerah itu, atau lemah duwur di Cibuaya. Kedua-nya merupakan peninggalan budaya masa lampau berupa candi yang tergolong sangat langka di Jabar. Kecuali Candi Cangkuang di Leles, Kabupaten Garut yang sudah dipugar, peninggalan lainnya adalah reruntuhan Candi Ronggeng di Pamarican, Kabupaten Ciamis bagian selatan.

Namun berbeda dengan Candi Ronggeng yang merupakan sisa-sisa reruntuhan candi batu, sisa-sisa reruntuhan candi di Batujaya dan Cibuaya merupakan candi bata. Bahannya bukan dari batu andesit seperti candi-candi di Jateng atau Jatim, tetapi bata merah sebagaimana bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah. Sisa-sisa percandian bata di dua daerah itu letaknya sekitar lima km dari pantai utara Laut Jawa.

***

CIBUAYA dan Batujaya terletak sekitar 40 km utara Karawang. Jika ditarik garis lurus, kedua daerah itu berjarak sekitar 15 km. Cibuaya ada di Kecamatan Pedes, daerah yang tidak dilalui sungai besar. Sedangkan Batujaya letaknya berdekatan dengan Sungai Citarum yang jadi batas alam Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi.

Sisa-sisa candi bata di Cibuaya pertama kali diketahui Dinas Purbakala tahun 1952. Saat itu ditemukan arca Wisnu dalam penggalian sumur penduduk setempat yang letaknya tidak jauh dari sisa-sisa candi bata. Penemuan itu disusul penemuan arca Wisnu lainnya yang kemudian dinamakan arca Wisnu II (1957) lalu penemuan fragmen arca Wisnu III (1975).

Penggalian percobaan maupun penggalian penelitian di situs Lemah Duwur Wadon atau Candi Cibuaya I, dilakukan beberapa kali oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional tahun 1975. Sembilan tahun kemudian (1984), Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) mengadakan penggalian di situs Lemah Duwur Wa-don dan Lemah Duwur Lanang (Candi Cibuaya II). Lemah Duwur Lanang letaknya sekitar 750 meter dari Lemah Duwur Wadon.

Dari penggalian itu diketahui, Candi Cibuaya I diduga berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 5 x 5 meter dengan pintu tangga masuk menghadap ke timur. Sedangkan Candi Cibuaya II berbentuk bujur sangkar berukuran 9,6 x 9 meter. Candi terakhir ini menghadap ke arah timur laut dengan lebar tangga 2,2 meter.

Dalam sebuah Seminar Sejarah dan Budaya II tentang Galuh, Drs Hasan Djafar, staf pengajar Fakultas Sastra UI (FSUI) menyimpulkan, kompleks bangunan candi di daerah Cibuaya merupakan tinggalan budaya bercorak Hindu. Ia menunjuk lingga batu berukuran tinggi sekitar satu meter dan garis tengah sekitar 40 cm yang ada di bagian tengah sisa Candi Cibuaya II, selain tiga arca Wisnu yang ditemukan tidak jauh dari situs percandian.

***

SITUS candi bata di Kecamatan Batujaya ada di Desa Segaran dan Telagajaya, tersebar pada areal sekitar lima km2. Karena pemekaran wilayah, kedua desa itu kini masuk wilayah Kecamatan Pakisjaya.

Sejak 1985, situs di daerah ini sudah sering diteliti, baik melalui survai permukaan tanah, survai bawah tanah melalui geoelectric prospecting dan pemboran maupun melalui penggalian-penggalian arkeologi. Dalam penggalian Candi Segaran I yang dilakukan Jurusan Arkeologi UI (1985 dan 1986) diketahui denah bangunan candi berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dan tinggi bangunan yang tersisa sekitar lima meter. Bagian atasnya tampak bata yang disusun melingkar memberi kesan bentuk stupa.

Sementara penggalian Candi Telagajaya V yang dilakukan Tim Penelitian Terpadu Sejarah Kerajaan Tarumanagara, Universitas Tarumanagara (Untar) berhasil mengetahui sebagian besar sisa kaki candi yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 x 10 meter. Kaki bangunan candi memiliki dua tangga naik di sisi barat dan timur. Arah hadap bangunan menyudut sekitar 50 derajat terhadap arah utara-selatan. Seperti Candi Segaran I, bagian atas Candi Telagajaya V memiliki bentuk melingkar konsentrik yang menggunakan bata-bata lengkung berbagai ukuran sehingga menyerupai stupa.

Penggalian situs Candi Telagajaya VIII berhasil menampakkan sisa bagian candi yang berdenah empat persegi panjang ukuran 6,20 x 4,60 meter. Bangunannya menghadap ke arah timur, membentuk sudut 50 derajat arah utara selatan. Salah satu hal yang dianggap penting oleh Hasan Djafar adalah, candi ini memiliki sebuah sumuran ukuran 1,8 x 1,8 M yang terletak di tengah candi.

***

SITUS Batujaya pertama kali disebut dalam buku De Haan yang menyebutkan, pada tahun 1684 masih berupa rawa. Selain itu, daerah sekitarnya merupakan tambak yang membentang sejak Sungai Citarum sampai Ciparage. Tambak-tambak itu, kecuali tambak di Batujaya, telah disewakan oleh Tumenggung Panata Juda kepada orang-orang Cina.

Tahun 1691, rawa Batujaya dikuasai Tumenggung Wirabaya dan tahun 1706, Komando Belanda di Tanjungpura (lima kilometer barat Karawang) mengingatkan Wirabaya tentang janjinya membersihkan rawa-rawa di sekitar Batujaya untuk dijadikan sawah dan ditanami nila.

Peneliti bidang klasik Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Drs PEJ Ferdinandus dalam Laporan Penelitian Arkeologi Situs Batujaya (1995) mengungkapkan, daerah Batujaya mulai diperhatikan tahun 1981 oleh Sumarah Adhiyatman. Tahun 1985, FSUI bekerja sama dengan Puslitarkenas meneliti situs Segaran dan menemukan sisa bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter dari permukaan sawah di sekitarnya. Pada bagian atas terdapat sejumlah bata yang disusun melingkar yang memberi petunjuk, kemungkinan di bagian atas bangunan terdapat stupa.

Tahun 1987, Budi Teguh Prasetyo yang sedang menyiapkan skripsi, melakukan penelitian mandiri di daerah ini. Namun situs-situs di daerah ini tetap saja menarik minat para arkeolog mengingat banyaknya hal-hal yang menarik. Antara lain karena struktur bangunan candi terbuat dari bata dengan jumlah cukup banyak.

Penelitian di daerah itu masih terus berlanjut sehingga pada tahun 1989, Ditlinbinjarah bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Universitas Tarumanegara (Untar) meneliti Unur Asem dan Telaga Jaya VIII. Tiga tahun kemudian, Mei 1992, Bidang Arkeometri Puslitarkenas meneliti lingkungan geologis, arkeologis, geomorfologis, hidrologis dan pengamatan terhadap aspek teknologi dan konservasi artefak yang ditemukan selama penelitian.

Bidang Arkeologi Klasik Puslitarkenas sendiri sudah dua kali melakukan penelitian (1993, 1995). Terakhir, penelitian dilakukan di Candi Segaran V dan diketahui, panjang sisi barat laut atau Unur Blandongan 21,6 meter, lebar penampil tangga naik 7,2 – 3,2 meter.

Ketua tim Drs PEJ Ferdinandus melaporkan, di antara sudut barat dan sudut timur Unur Blandongan ada penampil untuk tangga naik. Bagian penampil ini berukuran 7,2 meter pada bagian pangkal yang menempel sisi bangunan dan, 3,2 meter di bagian ujung tangga. Tangga naik terdiri sembilan anak tangga dengan ukuran lebar (lorong) tangga 1,85 meter di bagian atas dan 2,4 meter di bagian bawah.

Lantai anak tangga dibuat dari batu andesit, sedangkan bagian dalam dibuat dari bata. Pada bagian paling atas ada lantai ukuran 1,85 x 1,40 meter. Pada anak tangga kedelapan dari bawah, ditemukan bagian yang sengaja diisi batu pipisan. Batu itu dipangkas sedemikian rupa sehingga mendapatkan ukuran sesuai lebar anak tangga. Batu pipisan yang dibuat dari bahan andesit ini banyak ditemukan, baik di daerah Batujaya maupun Cibuaya.

Pada kaki bangunan sisi barat laut ditemukan hiasan pelipit kumuda, hiasan kerucut terpotong. Selain ditemukan sekitar 28 pecahan tembikar dan keramik, di antara reruntuhan bata ditemukan pecahan tanah liat halus dengan pembakaran tinggi yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Pecahan itu berbentuk hampir persegi dengan panjang yang tersisa 3 cm, lebar 4 cm dan tebal 0,8 cm. Pada salah satu permukaan pecahan ada relief buddha-mandala yang dibingkai lijst berbentuk tonjolan membulat di bagian tepinya. Pada bagian atas tergambar tiga arca Buddha Amitabha dalam sikap duduk bersila.

***

PENELITIAN terhadap unur dan lemah duwur di Batujaya dan Cibuaya boleh jadi masih akan terus dilakukan. Yang terakhir, Bagian Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Jawa Barat, sejak April lalu memugar Candi Jiwa. Tetapi teka-teki tentang unur dan lemah duwur masih belum bisa terjawab.

Apalagi dihubungkan dengan masa lalu daerah itu. Daerah Batujaya bagian utara semula merupakan limpahan banjir Sungai Citarum karena morfologi daerahnya datar dengan ketinggian sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Anak Sungai Citarum yang mengalir dekat situs itu adalah Sungai Asin. Namun karena pendangkalan dan perluasan areal sawah, sungai itu mati secara alami.

Yang menjadi pertanyaan, di manakah lapisan budaya pada waktu candi-candi di daerah itu berfungsi. Sebab jika dilihat dari hasil penelitian Puslitarkenas tahun 1993, lapisan budaya bangunan Candi Blandongan ada pada kedalaman sekitar 1,5 meter di bawah permukaan tanah sekarang. Selain itu, di sekitar bangunan ditemukan petunjuk semacam tanah endapan yang merupakan bekas parit.

Meski penelitian atas runtuhan bangunan dilakukan beberapa kali, namun pertanggalan situs belum bisa diketahui pasti. Dari hasil survai, baik oleh tim maupun perorangan, ditemukan pecahan keramik berbagai periode, dari keramik abad 3 sampai abad 20 M.

Penelitian arkeologi terhadap situs-situs di daerah ini masih akan membutuhkan waktu lama mengingat masih banyak yang tertimbun tanah.

Galaksi Bimasakti Ternyata Berwarna Putih dan Memiliki Ribuan Planet Yatim Piatu

Galaksi Bimasakti memiliki lebih dari 100.000 planet yatim piatu atau planet nomad, alias planet yang tidak mengorbit bintang induk tertentu. Hal tersebut diketahui dari ekstrapolasi hasil observasi planet yang dilakukan dengan metode gravitational microlensing, melihat pengaruh gravitasi planet pada cahaya bintang.

Louis Strigari, ilmuwan dari Kavli Institute di Stanford University dan rekannya mendeteksi objek yang terdapat di Bimasakti, mulai dari yang sebesar Jupiter hingga sekecil Pluto. Berdasarkan hasil studi, ilmuwan menemukan bahwa tak ada cukup tata surya yang mempu menaungi seluruh planet yang ada, sehingga planet yatim piat umum.

Ada teori yang meyatakan bahwa planet yatim piatu semula berasal dari tata surya tertentu dan kemudian terlempar keluar. Hasil riset menunjukkan bahwa teori itu tak sepenuhnya berlaku. Lebih lanjut, hasil studi juga membuka pertanyaan baru tentang proses pembentukan planet serta pandangan baru tentang zona layak huni di luar Bumi.

“Jika ada planet nomad yang cukup besar dan memiliki atmosfer tebal, mereka bisa menjebak panas, memungkinkan bakteri untuk hidup,” kata Strigari seperti dikutip Discovery, Jumat (24/2/2012).

Hasil penelitian Strigari telah dikirim ke jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Penelitian lebih lanjut bisa dilakukan dengan Wide-Field Infrared Survey Telescope (WFIRST) milik NASA dan Large Synooptic Telescope yang akan diluncurkan pada tahun 2020.

Astronom sejak lama bertanya-tanya bagaimana warna Bimasakti jika dilihat dari luar. Pertanyaan itu akhirnya terjawab dari hasil penelitian Jeffrey Newman, ilmuwan Universitas Pittsburg yang diumumkan di pertemuan American Astronomical Society ke 219 di Texas, Kamis (12/1/2012).

“Deskripsi terbaik yang bisa saya berikan adalah jika Anda melihat salju di awal musim semi, yang memiliki butiran salju halus, sekitar satu jam setelah fajar atau satu jam sebelum Matahari terbenam,” papar Newman seperti dikutip BBC, Kamis kemarin.

Dengan kata lain, Bimasakti sebenarnya memiliki warna putih. Selain bagai salju, Bimasakti juga bisa diibaratkan berwarna antara lampu pijar kuno dengan cahaya Matahari pada tengah hari. Keduanya berwarna putih, namun sedikit berbeda satu sama lainnya.

Informasi tentang warna galaksi ini bisa menjadi penting bagi astronom. “Warna galaksi itu mengatakan pada kita seberapa tua bintang yang ada di galaksi itu, kapan galaksi itu membentuk bintang. Apakah bintang-bintang yang ada terbentuk saat ini atau miliaran tahun yang lalu,” papar Newman.

Berdasarkan warna yang didapatkan, Newman mengungkapkan bahwa Bimasakti saat ini tengah ada pada tahap evolusi yang menarik. Tingkat pembentukan bintang berkurang seiring waktu. Apa yang terjadi kemudian masih teka-teki dan selalu menarik untuk dipelajari.

Dinosaurus Mini Microraptor Dengan Ukuran Hanya Sebesar Merpati

Fosil dinosaurus yang baru saja ditemukan ilmuwan mengubah pandangan bahwa satwa purba itu selalu berukuran raksasa. Microraptor, demikian makhluk itu disebut, cuma sebesar merpati.

Palaentolog menduga bahwa fosil microraptor yang ditemukan berasal dari zaman Cretaceous, 130 juta tahun yang lalu. Hewan tersebut mendiami wilayah timur laut China.

Berdasarkan analisis, ilmuwan mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki perawakan seperti burung gagak. Ilmuwan juga berpendapat bahwa satwa ini mengibaskan ekornya seperti merak.

Dalam proses identifikasi, ilmuwan menganalisis fosil sayap dengan ikroskop elektron untuk melihat struktur melanosome. Struktur tersebut sangat kecil, tetapi berperan dalam penentuan warna bulu.

Diketahui bahwa susunan melanosome memengaruhi warna bulu. Jika melanosome tersusun rapi, maka bulu akan berwarna gelap. Jika sebaliknya, maka bulu akan berwarna lebih terang.

Peneliti kemudian mengetahui bahwa microraptor yang ditemukan memiliki bulu berwarna hitam. Namun, belum diketahui apakah bulu tersebut mengilau.

“Keratin tidak terawetkan dalam fosil, jadi kami tak bisa secara langsung menyimpulkan adanya permainan warna,” ungkap Matthew Shawkey, asisten profesor di Universitas Akron, Ohio, yang terlibat riset.

Yang menarik dari microraptor ini adalah bulu ekornya yang diduga memiliki ornamen khas. Ilmuwan menduga, bulu ekor tersebut digunakan untuk menarik lawan jenis.

“Saya kira ini contoh pertama bulu ekor yang sangat kaya ornamen. Apakah bulu itu bisa terangkat (seperti pada merak) atau tidak, ada kemungkinan bahwa spesies ini bisa memamerkannya,” ungkap Shawkey seperti dikutip Discovery, Kamis (8/3/2012).

Penemuan microraptor ini dipublikasikan di jurnal Science yang terbit pada hari Jumat