Informasi Tentang Dunia Teknologi Terkini

Entries categorized as ‘Archeology’

Dinosaurus Ayam Yang Ganas Bagaikan Raptor

Maret 18, 2009 · 1 Komentar

Ukurannya memang hanya sebesar ayam, namun jenis dinosaurus yang baru dideskripsikan fosilnya ini kelihatannya garang. Dengan taring tajam dan panjang, makhluk tersebut diperkirakan seganas velociraptor dengan cakar di ujung jari-jarinya.

Sejauh ini, spesies itu merupakan dinosaurus pemakan daging alias karnivora yang paling kecil di Amerika Utara. Rekor sebelumnya sebesar serigala. Berat tubuhnya hanya sekitar setengah kilogram.

“Mungkin berburu dan makan apapun yang dapat diraihnya sesuai ukurannya, serangga, mamalia, amfibi, dan mungkin bayi dinosaurus lain,” ujar Nicholas Longrich dari Universitas Calgary Kanada yang melaporkannya dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi terbaru.

Dinosaurus tersebut diperkirakan hidup di kawasan rawa dan hutan basah di Amerika Utara 75 juta tahun lalu. Temuan dinosaurus berukuran kecil di Amerika Utara termasuk jarang. Fosilnya telah ditemukan sejak seperempat abad lalu namun selama ini teronggok di gudang museum.

Para peneliti memberi nama Hesperonychus elizabethae untuk menghormati Elizabeth “Betsy” Nicholls, paleontolog yang mengumpulkan spesimen dinosaurus tersebut. Sementara Hesperonychus berarti cakar barat istilah untuk cakar panjang berbentuk sabit.

Kategori: Archeology · Biology

Fosil Burung Raksasa Bergigi Ditemukan Di Peru

Maret 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah fosil tengkorak burung laut raksasa berusia 10 juta tahun ditemukan di pantai selatan Peru. Paruhnya tidak hanya masih terlihat utuh, tetapi dilengkapi gigi.

Menurut Kepala Paleontologi Vertebrata Museum Sejarah Nasional Peru Rodolfo Salas, fosil ini berasal dari keluarga Pelagornithid. Keluarga burung ini dipercaya telah punah 3 juta tahun yang lalu.

Rodolfo menambahkan bahwa burung tersebut diperkirakan memiliki rentangan sayap mencapai 6 meter. Makanannya adalah ikan-ikan kecil dan cumi-cumi. Gigi di sepanjang paruhnya mungkin digunakan untuk mencengkeram tubuh mangsanya yang licin.

Sementara itu, Dan Kepska, paleontolog dari North Carolina State University, AS, mengatakan bahwa fosil ini juga ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, dan Antartika. Beberapa orang meyakini bahwa fosil ini berhubungan dengan pelikan, bebek, atau burung laut raksasa lainnya.

Ken Campbell, kurator Museum Sejarah Los Angeles, mengatakan, penemuan fosil di Peru ini niscaya menjadi penemuan penting untuk mengetahui misteri burung raksasa ini. Temuan tersebut juga membantu mempelajari fosil-fosil Pelagornithid yang ditemukan di tempat-tempat lain.

Dengan ditemukannya fosil kepala burung di pantai selatan Lima ini, membuat daerah ini semakin dikenal sebagai tempat penemuan fosil binatang laut. Fosil lain yang telah ditemukan adalah fosil paus, lumba-lumba, dan penyu yang umurnya mencapai 14 juta tahun yang lalu.

Kategori: Archeology · Biology

Empat Kerangka Manusia Berusia 3000 Tahun Ditemukan di Baturaja Goa Harimau

Maret 7, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenal) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI berhasil menemukan situs purbakala di Goa Harimau, Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Ogan Komering Ulu.

Beberapa temuan yang diperoleh selama penelitian, yakni empat kerangka manusia yang diduga sudah berumur lebih kurang 3.000 tahun, kerangka yang masih utuh dengan panjang lebih kurang 2 meter. Peneliti juga menemukan lukisan di dinding goa yang selama ini belum pernah ditemukan pada berbagai penelitian goa di seluruh Indonesia.

Bupati OKU Drs Yulius Nawawi kepada pers menjelaskan, dari penelitian yang dilakukan Puslit Arkenal yang dipimpin Prof DR Truman Simanjuntak bersama 10 anggotanya ini, Goa Harimau direncanakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menjadi prioritas penelitian jangka panjang.

Dalam jangka panjang, kata Bupati, wilayah Padangbindu akan dikembangkan menjadi obyek wisata unggulan karena wilayah tersebut memiliki potensi alam wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata kepurbakalaan/ilmu pengetahuan

Foto fosil manusia berumur sekitar 3.000 tahun dengan panjang kerangka yang masih utuh sekitar 2 meter ini dirilis oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dalam sebuah jumpa pers di Pendopo Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selaltan, Rabu (4/3) malam. Fosil ini ditemukan di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Di tempat ini para peneliti menemukan empat kerangka manusia. Selain itu juga ditemukan lukisan pada dinding gua yang selama ini belum pernah ditemukan pada berbagai penelitian gua di seluruh Indonesia. Temuan lain di tempat ini berupa peralatan rumah tangga yang terbuat dari batu. Tim peneliti dipimpin Prof DR Truman Simanjuntak dengan anggota 10 orang tersebut memulai penelitian secara intensif sejak tanggal 14 hingga 28 Febrauri 2009.

Kategori: Archeology

Fosil Prasejarah Ditemukan di Sumatera Selatan

Maret 7, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejumlah fosil kerangka manusia yang diperkirakan dari zaman prasejarah telah ditemukan oleh para peneliti Gua Harimau, Desa Padang Bindu, Kec. Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan (Sumsel) dan kini tengah diteliti.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Gua Harimau memastikan bahwa mereka menemukuan empat kerangka manusia zaman purba yang ditaksir berusia 3.000-an tahun dengan panjang kerangka masih utuh sekitar dua meter.

Penelitian sebelumnya di daerah itu dilaksanakan pada 2007 dan 2008.

Selain fosil, para peneliti beranggotakan puluhan orang pimpinan Dr. Truman Simanjuntak ini juga menemukan beberapa artefak, di antaranya sejumlah lukisan di dinding gua.  Bupati OKU Yulius Nawawi, membenarkan temuan para peneliti ini.

Bupati OKU menjamin bahwa pihaknya akan mendorong wilayah sekitar penemuan benda bersejarah untuk diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh tim nasional demi menjaga dan melindungi situs purbakala itu.

Sebelumnya, sejumlah peneliti melaporkan telah menemukan prasasti yang juga dari zaman prasejarah, di wilayah Kota Pagaralam, Sumsel, wilayah yang selama ini diketahui terdapat sejumlah peninggalan prasejarah yang telah menjadi objek wisata daerah itu

Kategori: Archeology

Tengkorak Usia 3000 Tahun Ditemukan di Bali

Februari 8, 2009 · 1 Komentar

Tim Balai Arkeologi Denpasar, kembali menemukan sarkofagus keempat dan tengkorak manusia serta tulang binatang saat melakukan evakuasi atas peti mayat dari batu berusia 2.500-3.000 tahun di Subak Abang, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

ANTARA News dari lokasi penggalian dan evakuasi sarkofagus Desa Keramas, Kabupaten Gianyar, Rabu sore melaporkan, peti mayat dari batu temuan keempat dalam tahun 2009 itu berdampingan dengan lokasi temuan sarkofagus pertama yang telah dievakuasi. Tim Balai Arkeologi Denpasar bersama Tim Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), yang melakukan penggalian dan evakuasi atas sarkofagus temuan kedua, sejak Selasa (3/2), menemukan sarkofagus ketiga. Kemudian saat melanjutkan penggalian dan evakuasi temuan sarkofagus ketiga, Rabu (4/2) siang, menemukan sarkofagus keempat berukuran panjang 92 sentimeter, tinggi 47 sentimeter, sedangkan bagian lebarnya sebagian masih tertanam pada kedalaman 1,5 meter hingga dua meter dari permukaan tanah.

Kepala Penelitian Balai Arkeologi Denpasar, Ayu Kusumawati, memperkirakan lokasi penemuan sarkofagus merupakan kawasan pemakaman atau kuburan zaman Paleomegalit atau periode awal zaman batu atau kisaran 3.000 tahun lalu hingga sekitar abad pertama Masehi. “Permukaan sarkofagusnya sudah rapih dan halus, sehingga kemungkinan saat itu pembuatannya sudah menggunakan peralatan dari logam seperti besi, perunggu dan sedikit emas. Perkiraan kami sulit kalau pembuatannya hanya menggunakan batu,” katanya.

Berdasarkan ukuran sarkofagus yang relatif kecil dan bentuk kerangka jenazah di dalamnya, pemakaman di dalam sarkofagus diperkirakan dilakukan dalam posisi jongkok atau menyerupai bentuk bayi di dalam kandungan. Sementara temuan kerangka manusia berupa tengkorak kepala, tulang-tulang dan gigi dalam pemakaman terbuka atau tanpa sarkofagus, di lokasi yang sama, menurut Ayu, juga semakin menguatkan pendapat bahwa pada zaman itu orang dengan status sosial tinggi atau yang mampu, dimakamkan di dalam sarkofagus.

Pemakaman menggunakan sarkofagus diperkirakan juga merupakan penguburan sekunder atau yang kedua. Pemakaman pertama secara terbuka, kemudian setelah memiliki sarkofagus, kuburannya digali dan mayat atau kerangka jenazah dimasukkan ke dalam sarkofagus untuk dikuburkan kembali. Mengenai temuan kerangka binatang yang diperkirakan dari jenis lembu atau sapi, Ayu berpendapat bahwa peradaban masyarakat pada awal zaman batu itu sudah memperlakukan secara khusus jenis satwa tersebut.

“Namun kami masih perlu mengkaji dan meneliti lebih lanjut,” ucapnya. Di dalam sarkofagus temuan kedua berukran 60 x 35 x 60 sentimeter, sudah tidak terdapat tulang atau tengkorak, namun telah berbentuk gundukan tanah yang hampir menyerupai bentuk bayi dalam kandungan. “Ini kemungkinan makam anak-anak, sehingga tulang dan tengkoraknya lebih cepat menjadi tanah,” kata Ayu.

Sedangkan di dalam sarkofagus temuan ketiga, berukuran 90 x 45 x 60 sentimeter, masih terdapat tengkorak kepala, kerangka tulang hingga bagian gigi, yang juga menggambarkan cara pemakaman menyerupai bentuk bayi dalam kandungan. Dengan temuan sarkofagus keempat itu, sejak dilakukan penelitian atas temuan sarkofagus pertama tahun 1978, di seluruh Bali telah ditemukan 128 sarkofagus dari 12 lokasi/desa. Terbanyak dari Kabupaten Gianyar, termasuk Desa Keramas, mencapai 35 sarkofagus

Kategori: Archeology

Jasad Utuh dengan Rambut Ekor Kuda dari Dinasti Qing

Januari 10, 2009 · 1 Komentar

Salah satu dari 6 jasad yang masih utuh ini ditemukan saat dilangsungkan penggalian pada proyek konstruksi di Turfan, Xinjiang, China timur jauh. Jasad-jasad tersebut diyakini sebagai pejabat pada masa Dinasti Qing, kekaisaran terakhir di China yang bermula dari 1644 hingga terbentuknya Republik China pada 1911.

Jasad-jasad pria yang memiliki tinggi badan hinga 1,7 meter ini memiliki rambut panjang yang dijalin seperti ekor kuda. Gaya rambut ini dikenalkan di China pada awal abad ke-17 oleh Kaisar Nurhaci.

Nurhaci mendirikan Dinasti Manchu, Manchuria, yang kemudian menjadi Dinasti Qing. Pada masa tersebut, kalangan pria diwajibkan menggunduli kepala bagian atas dan samping serta menyisakan rambut di bagian belakang kepala yang tergerai panjang atau dibentuk ekor kuda.

Siapa pun yang memotong rambut bagian kepala belakangnya saat itu bisa dihadapkan pada ancaman hukuman mati atau ancaman hukuman sebagai pemberontak. Selain sebagai simbol kekuasaan dinasti, gaya rambut tersebut diberlakukan untuk membedakan warga Manchu dengan warga di luar dinasti

Kategori: Archeology

Mumi Ratu Sashestet Ditemukan di Saqqara

Januari 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penggalian arkeologi yang dilakukan pada dua makam kuno di Saqqara mengungkap mumi ratu Mesir Kuno. Jasad yang terawetkan ditemukan di bawah salah satu piramid yang baru-baru ini ditemukan para arkeolog Mesir.

Kepala Dewan Arkeologi Mesir Zahi Hawass menyatakan, mumi tersebut mungkin jasad Ratu Sashestet yang memerintah sekitar 4300 tahun lalu. Sashestet adalah ibu Raja Teti, pendiri dinasti keenam Kerajaan Mesir Kuno. Ahli sejarah menyatakan, Ratu Sashestet memerintah selama 11 tahun.

Barang-barang antik yang ada di kamar makam sudah habis dijarah, kecuali sarkofagus berisi mumi tersebut. Zahi Hawass mengatakan, untuk mengeluarkan mumi dari dalam sarkofagus yang menyimpannya dibutuhkan waktu lima jam.

Di dalamnya terdapat sebuah tengkorak, tulang kaki, tulang panggul, dan bagian tubuh lainnya yang dibungkus kain linen. Juga terdapat tembikar dan penutup jari dari emas.

Nama Sashestet memang tak ditemukan di sudut-sudut piramid tersebut. Namun, ciri-cirinya mengarah pada jasad Sashestet. Penemuan mumi yang berumur setua itu termasuk jarang. Kebanyakan mumi yang ditemukan dibuat setelah 1800 sebelum Masehi.

Kategori: Archeology

Komet Menghantam Bumi dan Menghasilkan Debu Permata Intan

Januari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tanah yang kaya dengan intan yang ditemukan di Amerika Utara mengukuhkan teori bahwa berbagai meteor yang jatuh menyebabkan kepunahan hewan raksasa purba dan satwa lainnya, demikian menurut pengkajian yang disiarkan jurnal Science.

“Berbagai penemuan ini memberikan bukti kuat bagi peristiwa kosmik pada sekitar 12.900 tahun silam yang menimbulkan dampak luar biasa pada tanaman, hewan dan manusia di kawasan Amerika Utara,” kata Douglas Kenneth dari Universitas Oregon yang memimpin riset itu kepada AFP.

Penemuan itu nampaknya mendukung teori yang disampaikan pada 2007 bahwa beberapa komet yang menghantam Bumi memicu jaman es pada 1.300 tahun lalu, sehingga menyebabkan punahnya beberapa spesies hewan dan hancurnya budaya masyarakat Clovis pra-sejarah.

Orang Clovis hidup dari berburu dan berkumpul di kawasan yang kini adalah Amerika Serikat, Meksiko dan Amerika Tengah.

Puncak kejayaan manusia Clovis berlangsung pada 13.200 sampai 12.900 tahun sialm dan para ilmuwan menyatakan orang Clovis masuk ke Amerika Utara melalui “jembatan darat” dari Siberia.

Salah satu dari lapisan endapan kaya intan ditemukan para peneliti berada langsung di atas berbagai material Clovis pada situs di Murray Springs, Arizona, kata para peneliti.

Intan-intan berukuran nanometer itu dihasilkan pada suhu tinggi dan tekanan tinggi dari dampak kosmik yang telah ditemukan pada berbagai meteorit.

Lapisan yang penuh dengan debu intan juga ditemukan dalam penggalian pada lima situs lainnya, yakni Bull Creek, Oklahoma; Gainey, Michigan; dan Topper, South Carolina in Amerika Serikat dan Lake Hind, Manitoba; serta Chobot, Alberta di Kanada.

Intan-intan berukuran nano dapat dihasilkan di Bumi, namun hanya sebagai hasil ledakan dengan daya ledak tinggi dan penguapan kimia

Kategori: Archeology · Astronomy

Penemuan Terbesar Dibidang Arkeologi Adalah Penemuan Fosil Otak Manusia Berusia 2000 Tahun

Desember 12, 2008 · 1 Komentar

fosil-otak-manusia-teknologi-terkini-arkeologi-penemuan-informasiOtak manusia tersusun dari jaringan lunak yang sangat mudah terurai mikroba begitu terkubur di tanah. Namun, siapa menyangka masih ada yang bertahan selama 2000 tahun.

Para arkeolog menemukannya dalam rongga tengkorak yang ditemukan dari situs purbakala di sekitar Universitas York, Inggris. Tengkorak berisi fosil otak itu ditemukan di bekas area pertanian yang pernah digarap sejak 2000 tahun lalu.

Mereka mengklaim otak berusia 2000 tahun itu sebagai fosil otak manusia tertua di Inggris. Pengukuran karbon menunjukkan orang tersebut kemungkinan hidup 300 sebelum Masehi.

Ukurannya sudah tak sebesar otak aslinya. Namun, setelah dilakukan pemindaian sinar-X terlihat onggokan berwarna kuning yang bentuknya masih seperti otak hanya menyusut. Otak mungkin mengalami fosilisasi dan terhindar dari serangan mikroba pengurai.

“Mengejutkan karena hasil pemindaian menunjukkna struktur yang bentuknya seperti otak aslinya” ujar Philip Duffey, konsultan neurologi yang melakukan penelitian itu. Meski demikain jarngan otaknya sendiri mungkin telah habis terutama jaringan lemaknya yang mudah terurai mikroba.

Ia yakin ada perlakukan khusus sehingga otak bertahan. Mungkin karena tambahan material pengawet atau sejenisnya. Saat ditemukan, tengkorak terbenam dalam lumpur yang mungkin bagian dari ritual pengorbanan

Kategori: Archeology

Ditemukan Sarang Dinosaurus Jenis Raptor Berusia 77 Juta Tahun

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Di sarang yang dibuat 77 juta tahun lalu itu masih terlihat jelas bekas kumpulan lima butir telur.

“Karakteristik sarang tersebut mirip dengan sarang burung,” ujar Francois Therrein, salah satu paleontolog dari Royal Tyrell Museum Alberta, Kanada. Ini berarti bahwa dinosaurus lebih dulu membuat sarang sebagai tempat mengerami telurnya sebelum burung melakukannya. Selama ini, sejumlah pakar evolusi masih berasumsi bahwa burung berkembang dari dinosaurus.

Ukuran sarangnya berdiameter sekitar setengah meter dan diperkirakan seberat 50 kilogram. Di dalamnya setidaknya terdapat bekas 12 cangkang telur yang masing-masing berukuran panjang 12 centimeter dan tersusun rapi serta mengarah ke satu titik.

“Berdasarkan bentuk telur dan sarangnya, kami yakin sarang tersebut buatan seekor caenagnathid atau raptor kecil, keduanya sama-sama pemakan daging dan memiliki kekerabatan yang erat dengan burung,” ujar Darla Zelenetsky, peneliti lainnya dari Universitas Calgary, Kanada.

Zelenetsky mempelajarinya sejak disimpan di Canada Fossil Limited Calgary tahun 1990-an. Sebelumnya ia mengira fosil sarang tersebut dibuat seekor dinosaurus herbivora berparuh bebek. Namun, setelah mempelajari lebih seksama, diketahui bahwa sarang tersebut kemungkinan besar dari kelompok theropoda yang merupakan nenek moyang burung.

Kategori: Archeology